The Story Of The Alchemist

The Story Of The Alchemist
318. Nyonya Ye..



***


Penasihat Istana menyelenggarakan ajang pemilihan Permaisuri ini bertujuan untuk masa depan Kerajaan. Semua orang mengharapkan dengan cara ini bisa segera mendapatkan penerus kerajaan, mereka ingin menumbuhkan kecintaan Kaisar Yuan Zhu-Ming terhadap kerajaannya mengingat usianya yang sudah sepantasnya memiliki seorang pendamping. Maka dari itu para penasihat menerima usulan dari beberapa menteri yang mengusulkan acara ini.


Acara perkenalan telah usai, Kasim ketua segera memanggil para pelayan,memerintahkan mereka agar menjamu para tamu. Semua hidangan yang berada di atas nampan berpindah keatas meja, berbagai makanan berat dan ringan serta buah-buahan tersaji dengan rapi. Semua orang mulai menikmati hidangan yang disediakan oleh pihak istana setelah Kaisar mempersilahkan mereka untuk menikmati.


Para penari yang di pesan untuk menampilkan tarian penyambutan juga dipanggil ke aula, suasana yang tadinya tegang pun berubah menjadi gelak tawa. Gadis-gadis penari mulai meliuk-liukkan tubuh mereka di hadapan semua orang, mengibaskan selendang dan kipas yang menjadi properti tarian. Orang- orang memberi tepukan tangan kepada para penari, bahkan ada beberapa pria paruh baya yang memberikan cindera mata kepara mereka.


Berbeda dengan pemimpin mereka yang telah undur diri sedari tadi, Kaisar Yuan memanggil beberapa menteri dan penasihat kerajaan yang menjadi juri dalam acara ini untuk berkumpul di ruangan yang berbeda. Diruang tamu aula istana mereka berkumpul menikmati hidangan, makan bersama dengan seorang pemimpin adalah suatu kehormatan. Bagi siapa pun yang dapat menikmati situasi seperti itu, akan berpikir seribu kali untuk menolak.


Selesai makan bersama dan membicarakan apa yang harus dilakukan oleh kaisar terhadap para peserta, semua orang yang menjadi juri dan penguji kembali ke aula. Mereka menikmati pertunjukan para penari disana.


Kembali ke ruangan Kaisar, disana Yuan Zhu-Ming masih bersama orang-orang kepercayaannya.


"Apakah Anda baik-baik saja, Yang Mulia?" Tanya Kasim Wuza kembaran dari guru Wuzi yang mengabdikan dirinya pada Kerajaan Tiankong. Kasim Wuza adalah kepala kasim atau pengurus kerajaan, dia yang bertugas mengatur para pekerja.


"Mm.." Yuan Zhu-Ming hanya bergumam.


"Yang Mulia, walaupun melelahkan tolong bertahanlah sebentar. Demi masa depan kerajaan, pemilihan permaisuri hari ini sangat penting. Terlebih, Nona Jing... Eh.. P-permaisuri Yu ada di dalam pemilihan ini. Kelak tidak akan ada yang berani bertindak untuk menyuruh anda menikah kembali karena syarat yang anda ajukan." Jelas Kasim Wuza mengingatkan. Meskipun dia meralat ucapannya untuk panggilan Xia yu. Beberapa saat yang lalu dia baru saja diberitahu oleh saudaranya bahwa pemimpin mereka telah menikah saat gerhana bulan.


"Aku tahu, lalu untuk apa semua bunga dan kantung itu?" Tanya Yuan Zhu-Ming mengalihkan topik pembicaraan. Saat ini dia sangat merindukan kelinci putihnya, ingin segera bertemu dengannya.


"Di sesi pemilihan nanti, anda bisa memberikan bunga lili untuk gadis yang masuk dalam kriteria anda, saya sarankan anda memilih beberapa gadis yang kuat menurut voting juri. Dan kantung ini harus anda berikan pada gadis yang di diskualifikasi. Pada tahap akhir, anda tinggal memberikan bunga phoenix ini kepada gadis yang bertahan dan dapat melewati semua ujian dengan baik. Saya harap Permaisuri Yu bisa lolos dalam setiap ujian yang akan diberikan oleh para juri dan penguji." Jelas Kasim Wuza.


"Baiklah, aku mengerti. Lebih baik kau kembali ke aula, beritahu mereka kalau aku sudah lelah. Dan di sore hari kau bisa memanggil kembali para peserta itu ke Balai Agung. (Aula Istana)" Perintah Yuan Zhu-Ming, dia beranjak dari duduknya untuk kembali ke kediamannya.


'Lagi pula sebanyak apapun ujiannya yang menentukan menjadi permaisuri ku hanya aku seorang! Memangnya siapa yang berhak memutuskan wanita mana yang akan menjadi pendamping kita jika bukan diri kita sendiri? Para pemberontak itu tidak bisa membuat rencana yang lebih baik diri ini apa? Membosankan! Lebih baik aku bermain dengan kelinci putihku.' Batin Yuan Zhu-Ming mendengus kesal, dia yang saat itu tidak lebih seperti bocah cilik yang sedang merajuk.


Sesampainya di Paviliun Naga, Kaisar memanggil Serigala Abu-abu dengan nama panggilan ketika berada di Kerajaan Tiankong. "Mo Han, bawa permaisuri ku kemari tanpa sepengetahuan orang lain."


"Baik, Yang Mulia." Jawab Serigala Abu-abu. Dia segera menuju aula istana, dengan langkah bayangannya. Dia bisa menjadi pengawal juga bisa menjadi pelayan. Bayangan satu sedari tadi di perintahkan untuk menjaga keamanan Xia yu dan teman-temannya.


Sesampainya di aula Istana, Serigala Abu-abu memberitahu Bayangan Satu untuk membawa Xia yu tanpa ada yang menyadari. Mereka mendatangi Hei Tian dan Xiao Huang yang sedang berada di luar, menyampaikan pesan tuannya yang ingin bertemu dengan Nona mereka.


Hei Tian mengerti, dia segera memberitahu Xia yu melewati bahasa telepati nya. Di dalam aula, Xia yu menoleh pada Fang yin yang berdiri didekatnya, dia membisikan sesuatu pada Fang yin.


Fang yin beranjak dari duduknya, dia mendatangi seorang penjaga dan bertanya dimana letak kamar mandi untuk tamu, Fang yin juga memberitahu penjaga itu bahwa Nona nya butuh buang air kecil. Untuk sesaat Penjaga itu terlihat waspada, sebelum menjawab dia bertanya pada Kasim Wuza yang ternyata sedang memperhatikan mereka. Dengan segera Kasim itu memerintahkan anaknya untuk mengantar Xia yu.


Tiba di kamar kecil dan Fang yin segera mengunci pintu, Xiao huang dan He tian yang sedari tadi berada di luar aula pun menghitungnya. Bayangan Satu menunggu di pintu belakang, Xia yu keluar secara diam-diam mengikuti langkah Bayangan satu menuju kamar tuannya.


"Ini adalah kamar, Tuan. Beliau sudah menunggu Anda di dalam." Ujar Bayangan Satu memberitahu Xia yu.


Di dalam kamar, Yuan Zhu-Ming menunggu dengan gelisah. Ketika pintu kamarnya terbuka, dia segera berdiri dan membalikkan tubuhnya mengarah pintu. Xia yu berdiri tepat membelakangi pintu, seketika mereka berdua berpelukan. Melepas rindu, lebih tepatnya Yuan Zhu-Ming yang begitu merindukan Xia yu.


"Kau tahu apa yang aku rasakan sedari tadi?" Tanya Kaisar begitu melepas sejenak pelukannya. Tangannya terulur membuka cadar yang di pakai Xia yu.


"Apa yang Anda rasakan Yang Mulia?" Tanya Xia yu, dia begitu tenang tapi tetap membalas pelukan kaisar. Wajahnya bersemu merah merona mendapat perlakuan hangat dari kaisar.


"Panggilan apa itu? Aku ini suami mu, bukan raja mu!" Keluh Yuan Zhu-Ming tak menerima Xia yu memanggilnya seperti itu. Tatapannya begitu tajam, seolah mampu menyayat relung hati Xia yu.


"Tapi,.." Xia yu menggantungkan ucapannya, wajahnya terlihat menggemaskan saat ini.


"Kau itu istriku, Permaisuri ku! Ingat itu!" Ujar Yuan Zhu-Ming, setelah itu dia mencium bibir Xia yu dengan rakus. Tidak membiarkan dia menghindar sama sekali, memeluknya dengan posesif.


"Mmph... Su-sudah sudah, aku kehabisan nafas. Haah!" Xia yu mendorong paksa Yuan Zhu-Ming.


"Tenang istriku, saat kau kehabisan nafas aku akan memberikan nafas buatan untukmu." Seru Yuan Zhu-Ming, dia kembali meraih wajah Xia yu. Memaksanya membuka mulut agar lidah mereka bisa bersatu dan dia bisa mengabsen deretan gigi Xia yu.


'Aahh.. Kenapa pria ini jadi begitu bernafsu?' Batin Xia yu, dia tidak mengira jika lelaki angkuh, dingin dan arogan ini dapat berbuat mesum serta pandai menggoda. Entah sudah semerah apa wajahnya saat ini.


'Mampus aku!' Batin Serigala abu-abu begitu lesu, dia yakin Tuannya akan kembali menghukumnya karena telah mengganggu aktifitas mereka. 'Bodohnya diriku, selalu mengganggu mereka. Tamat sudah riwayatku hari ini..'


>>>>>>


*Balai Agung Istana Tiankong*


"Yang Mulia, para calon memasuki ruangan." Kasim ketua memberitahu kaisar akan kedatangan para kandidat.


Sepuluh gadis cantik berjalan masuk kedalam aula, langkah mereka begitu tenang tidak ada kegugupan sama sekali. Tatapan kaisar tertuju pada gadis cantik yang berada di barisan terakhir, gadis itu juga melirik Kaisar sebelum menundukkan kembali pandangannya dan berjalan dengan tenang. Semua gadis berjajar membuat dua barisan.


"Istriku.." Lirih kaisar, dia begitu terpesona dengan kecantikan alami yang dimiliki oleh Xia yu. Gadisnya itu kembali menyembunyikan separuh wajahnya dibalik kain tipis.


Bayangan Satu menoleh pada tuannya, dia ingin memperingati tuannya agar tidak melihat Xia yu terlalu lama. Mengingat mereka sedang menjalankan rencana untuk menghentikan para pemberontakan yang sedang menyusun rencana demi menaklukkan Kaisar melalui wanita. Mereka ingin mengkudeta Kerajaan Tiankong, mengambil alih kekuasaan dengan cara lembut, mengirimkan bidak catur mereka untuk mengontrol raja dari pihak lawan, lalu melenyapkannya secara perlahan.


'Ingin menggulingkan Kaisar Yuan Zhu-Ming dari tahtanya, mimpi!.' Batin Bayangan satu.


Disaat Yuan Zhu-Ming hanyut dalam pesona Xia yu dan Bayangan satu yang belum menyadarkan tuannya, tiba-tiba seorang pelayan wanita membuka pintu aula dan memberitahu kedatangan seseorang.


Seorang wanita dewasa yang berumur empat puluh tahunan datang menghadap kaisar, wanita itu memberikan hormat pada Kaisar Yuan Zhu-Ming.


"Hormat hamba pada Yang Mulia." Ujarnya seraya sedikit membungkukkan tubuhnya.


Kaisar memperhatikan penampilan wanita itu, dia tersenyum menyeringai melihat wanita itu datang bersama pelayannya yang terhitung ada sepuluh orang. Setelah itu dia bertanya. "Nyonya Ye lama tidak jumpa, kapan terakhir kali kita bertemu?"


"Setahun yang lalu, Yang Mulia." Jawab wanita yang di panggil Nyonya Ye, dia adalah selir pertama yang dinikahi oleh kaisar terdahulu ayah Yuan Zhu-Ming. Wanita itu sampai sekarang masih menetap di Istana, namun setahun yang lalu dia pergi dari istana untuk belajar ilmu medis. Dia adalah kultivator medis yang diakui oleh kaisar terdahulu dan masyarakat karena diagnosisnya selalu benar.


"Aku dengar Anda baru saja kembali dari gunung woru? Mengapa begitu tergesa-gesa datang kemari? Apakah tidak lelah? Atau ada yang ingin Anda sampaikan sampai tidak mementingkan kesehatan!" Tanya Kaisar Yuan, dia mengetahui berita itu dari anak buahnya yang selalu memberitahukan kabar terbaru di kerajaannya.


"Hamba baik-baik saja Yang Mulia, Hamba tergesa-gesa kemari karena ingin ikut serta dalam pemilihan permaisuri ini sebagai penguji. Mengingat di Istana tidak ada perempuan yang bisa menilai tubuh seorang wanita melebihi kemampuan saya." Jawab Nyonya Ye.


"Anda tidak boleh ikut campur dalam hal ini, Nyonya. Ini adalah aturan istana yang melarang orang dalam.." Salah satu juri berbicara, namun belum selesai ucapan terpotong oleh Nyonya Ye.


"Saya tahu, tapi pemilihan ini harus lebih adil dan teliti. Itu yang dikatakan Kaisar terdahulu." Nyonya Ye mengungkit ucapan Kaisar terdahulu yang pernah mengamanahkan nya sebuah tugas untuk membantu Putra mahkotanya memilih Permaisuri kerajaan selanjutnya setelah ketiadaan mereka. Sama seperti dirinya waktu itu memilih Ibunda Kaisar Yuan Zhu-Ming sebagai permaisuri saat itu, hingga hadirlah Yuan Zhu-Ming kecil.


"Jika Yang Mulia pikir saya tidak cocok untuk ikut serta, maka saya tidak bisa berbuat apa-apa. Namun satu hal yang sangat saya takutkan adalah omongan masyarakat, mereka mempertanyakan kesuburan gadis yang terpilih menjadi permaisuri, bila mana tidak segera mendapatkan keturunan dari Yang Mulia." Jelas Nyonya Ye.


Selir Ye atau Nyonya Ye di anugerahi keahlian medis yang tinggi, sayangnya saat itu dia hanya bisa membaca kondisi tubuh atau penyakit bukan menyembuhkan. Tapi sekarang kemampuannya telah meningkat hingga dia bisa meracik obat-obatan dan juga paham racun.


"Kenapa bisa tidak cocok? Tentu saja itu tak masalah buatku, Anda bisa bergabung dengan penguji lainnya jika itu yang menjadi alasan Anda hadir kembali disini, Nyonyaa!" Jawab Kaisar Yuan acuh namun dia menekan ucapannya di bagian akhir.


Raut wajah Nyonya Ye menegang, dia merasa tertekan dengan ucapan Yuan Zhu-Ming yang baru saja didengarnya, tapi sesegera mungkin dia kembali memasang wajah datarnya. Setelah itu dia berterimakasih dan memberi hormat pada Yuan Zhu-Ming, kemudian berjalan kearah tempat para penguji.


Seorang juri berdiri, dia berbicara pada para kandidat.


"Para peserta, dengarkan pemberitahuan ini baik-baik. Pemilihan permaisuri akan melewati ujian yang ketat. Peserta akan bersaing agar terpilih menjadi permaisuri, cara pengujiannya akan ditentukan setelah berdiskusi dengan para juri dan penguji. Untuk saat ini kalian bisa beristirahat sejenak, pihak Istana telah mempersiapkan ruangan untuk kalian."


"Kepala kasim Wuza, tolong antar para peserta ke ruang peristirahatan."


"Baik, Yang Mulia." Kasim ketua membungkuk tanda dia mengerti "Semuanya, ikuti aku."


****tbc


Maaf belum terbiasa gadang lagi jadi sedikit ambruk.. up sebisanya ya


salam author cuiss😘**