
***
Di sore hari, di balai agung semua kontestan dan par juri sedang berkumpul. Mereka akan menyampaikan tahapan pertama dalam ujian kali ini.
"Dalam pemilihan permaisuri, ada empat tahap yang harus kalian lalui. Sejak dulu, gadis dengan peruntungan baik akan membawa ketentraman bagi keluarga istana. Sebaliknya peruntungan buruk bisa mengakibatkan bencana. Jadi pemilihan tahap pertama adalah pembacaan wajah. Namun nilai ini akan dirahasiakan terlebih dulu, karena akan menjadi poin penting dalam penilaian terakhir." Seorang Penguji memberikan pengarahan pada para peserta.
"Tapi kenapa pejabat dari perguruan Tezheng belum datang?" Tanya Guru Wuzi.
Penguji itu baru saja akan menjawab, tetapi mulutnya kembali tertutup saat seseorang lebih dulu menjawab lebih dulu.
"Mereka tidak akan datang." Nyonya ye berbicara dengan menengadahkan wajahnya, dia tersenyum menantang Guru Wuzi.
Semua orang seketika mengalihkan perhatian mereka pada wanita itu, meminta penjelasan dari ucapan yang baru saja dia utarakan.
"Saya sudah memanggil pelukis untuk menggambar wajah mereka." Jelas Nyonya ye
"Pelukis?" Guru Wuzi.
"Bukankah orang-orang dari perguruan Tezheng ada di bawah kekuasaan Anda, Guru Wuzi?" Nyonya ye tersenyum menyeringai, dia mengangkat salah satu alisnya dan melanjutkan kata-katanya. "Untuk menghindari kecurigaan, kalau Anda yang mengendalikan mereka. Saya mencegah senior "
Guru Wuzi tersenyum, lalu menjawab. "Saya bahkan tidak berpikir sejauh itu, Selir Agung."
Nyonya ye tidak mengindahkan jawaban guru Wuzi, dia malah mengumumkan bahwa para pelukis sebentar lagi akan menggambar wajah para peserta. "Pembacaan wajah dilihat dari lukisan untuk menilai ciri wajah kalian. Silahkan persiapkan diri kalian." Ujarnya pada para peserta.
Semua peserta pun di bawa ke dalam satu ruangan, di sana sudah terjajar sepuluh kursi dihadapan meja panjang. Para pelukis telah siap dengan alat tulis dan kertas mereka. Semua peserta di persilahkan duduk menghadap pelukis, dan para pelukis mulai melukis wajah mereka dengan khusu.
Satu pelukis terlihat begitu terkejut ketika menghadapi salah satu peserta yang memakai cadar. Pelukis itu bingung bagaimana melukis wajah gadis itu jika memakai cadar, karena harus menggambar wajahnya tanpa ada yang menghalangi pelukis itu meminta Xia yu membuka cadarnya.
Xia yu mengangguk paham, hanya membuka cadar tentu tidak ada masalah. Namun dia belum ingin menunjukkan wajahnya pada semua orang, maka dari itu dia meminta Fang yin mengambilkan tudung yang dia pakai saat tiba di Istana. Dia memakainya dan melepaskan cadar yang dia kenakan.
Sontak saja pelukis yang berada di hadapannya begitu terkejut, dia terpesona dengan wajah yang begitu menarik hati. 'Pantas saja gadis ini menutupi wajahnya, ternyata dia memiliki kecantikan yang bisa membawa kehancuran ketika memperebutkannya.' Batin si pelukis.
Sesi melukis wajah pun usai, lembar kertas lukisan itu dibawa kehadapan para juri. Para Juri dan penguji terlihat antusias menilai satu persatu gambar para peserta. Tiba di urutan kertas kesepuluh, Penguji itu tersentak, matanya tak berkedip selama beberapa detik dia menatap sosok wajah yang begitu menarik hatinya. Dia tidak pernah melihat wajah yang begitu beraura, cantik, anggun, dan menggugah. 'Ahh, menggugah! Pikiran macam apa tuh?'
Pria itu menggelengkan kepalanya pelan, mengusir pikiran anehnya dan kembali menilai garis takdir gadis itu. Matanya melotot seketika, dia adalah satu-satunya gadis yang memiliki garis takdir seorang pemimpin. Jika gadis ini di sandingkan dengan pemimpin Kerajaannya, kemungkinan besar kerajaan Tiankong akan menjadi kerajaan terkuat jika memiliki gadis ini.
Di sisi lain, Paviliun Ye hua..
"Kau lihat raut wajah pria tua itu?" Nyonya ye bertanya pada pelayanannya.
"Saya melihatnya, Yang Mulia." Jawab pelayan itu.
"Ck..ck..ck.. Tua bangka itu telah membuat kesepakatan dengan para gubernur. Bertindak di belakang kita, tidak ada seorang pun yang menandinginya." Nyonya ye kembali berbicara sedangkan pelayannya membenarkan ucapannya dengan mengangguk, mendengarkan semua ucapannya tanpa berniat menghentikan.
"Kau sudah bilang pada pembaca wajah agar memilih wajah yang paling jelek saja bukan?" Putri Nyonya ye bertanya pada pelayan ibunya.
"Mereka akan memilih yang paling jelek, Putri." Jawab pelayan itu dengan puas.
"Aku bukannya iri pada kecantikan mereka." Ujar putri Nyonya ye yang menjadi salah satu peserta.
"Di dunia ini, tidak ada kecantikan yang layak untuk dicemburui oleh Putri." Jawab pelayan itu menyanjung putri dari tuannya.
"Haha.. Lagipula, tak da yang sebanding dengan Putri ibu. Kemarilah nak, biarkan ibu memberikan berkat padamu agar kamu menjadi satu-satunya gadis yang terpilih." Ujar Nyonya ye.
Ibu dan anak pun berpelukan dengan erat, memberikan kenyaman dan kehangatan. Sayangnya mereka memiliki niat yang tidak baik terhadap kerajaan, sang putri yang tergila-gila dengan status dan kedudukan tinggi yang dimiliki oleh Kaisar. Sedangkan sang ibu memiliki ambisi yang kuat untuk membantu kekasih gelapnya menaiki tahta.
...
"Senior dari perguruan Istana sedang membaca gambar wajah mereka. Bagaimana mereka bisa tahu itu siapa?" Tanya Kaisar Yuan pada Bayangan satu yang sedang berdiri di dekatnya. "Arahan yang diberikan Guru Wuzi jadi tidak ada gunanya sekarang." Lanjutnya, dia terlihat bingung karena sebelumnya telah menyusun rencana untuk menetapkan Xia yu dalam tahap pertama ini.
"Yang Mulia, Anda tidak perlu khawatir. Menurut pandangan saya, Permaisuri Yu dapat lolos dengan nilai tinggi dalam tahap pertama ini." Bayangan satu berpendapat, dia yakin Xia yu tidak akan membiarkan dirinya kalah dalam pemilihan ini.
Kaisar Yuan menghela napasnya, dia terlihat gelisah saat ini. Bayangan satu baru pertama kali melihat tuannya itu seperti ini.
Dari arah luar datang Serigala abu-abu dengan tergesa-gesa. Dia menyampaikan informasi yang didapat dari departemen istana. "Yang Mulia, saya dengar hasilnya sudah keluar."
Kaisar menatap penuh semangat, dia menghela nafas lega untuk sesaat. 'Semoga hasilnya tidak mengecewakan.' Batin Yuan Zhu-Ming.
Semua orang berkumpul di balai agung, terkecuali Kaisar Yuan Zhu-Ming. Departemen istana memberikan gulungan kertas yang menjadi hasil dari tahap pertama. Disana tertulis beberapa nama yang terpilih. Kasim Wuza menerima dekrit itu dengan hati-hati, lalu membacakan deretan nama yang terpilih dengan berwibawa.
"Ada tujuh orang yang terpilih pada tahap pertama. Yang pertama adalah putri ... dari ..." Peserta yang di panggil melangkah maju dan memberikan sikap hormat pada pemimpin kerajaan dan para juri serta penguji.
"Apa yang terjadi? Kenapa dia terpilih?" Tanya Nyonya ye pada pelayan pribadinya dengan suara pelan. Dia menatap tajam gadis pertama yang terpilih memiliki kecantikan yang polos.
"Mohon tenang Yang Mulia, dia bahkan tidak cantik, jangan khawatir." Jawab pelayan itu menenangkan tuannya.
Kasim kembali melanjutkan,
"Putri ... Dari ...,
Putri ... Dari ...,
Putri ... Dari ...
Putri ... Dari ...
Putri ... dari ...
Dan yang terakhir... " Semua orang terlihat begitu serius mendengarkan, mereka semua penasaran peserta mana yang terakhir terpilih.
"Nona Jing Xia yu dari kota B." Lanjut Kasim Wuza seraya menoleh pada Xia yu.
Semua orang terkejut, menoleh pada Xia yu. Ada yang terlihat senang dan ada pula yang terlihat marah, tidak percaya gadis sepertinya bisa lolos.
Xia yu tidak merasa terkejut, mungkin dia sudah tahu sebabnya. Dia tersenyum manis di balik cadarnya dan melangkah maju, memberi sikap hormat pada Kaisar dan para juri.
Raut wajah Nyonya Ye seketika terlihat marah, dia menggeram begitu dan berbicara dengan mengintimidasi pada pelayanannya. "Dia juga? Sebenernya apa yang terjadi? Bukankah kau bilang yang terpilih cuma yang jelek saja?"
Pelayan pribadinya itu melihat sekeliling sembari menjawab pertanyaan dari tuannya. "Menurut pandangan saya, mereka semua jelek terkecuali tuan Putri. Dia satu-satunya gadis yang menurut saya cantik."
Pandangan Nyonya ye teralih, dia membandingkan Putrinya dan gadis bercadar. Matanya memicing, meneliti penampilan Xia yu dari atas sampai bawah. Tepat di wajahnya, mereka berdua saling bertatapan. Sudut bibir Xia yu terangkat, dia memberikan senyuman penuh arti pada wanita yang sedang menatapnya.
Seketika Nyonya ye tersentak melihat itu, dari sorot mata Xia yu. Dia merasa tekanan yang begitu kuat, seolah-olah dia sedang berhadapan dengan permaisuri terdahulu. Dia melihat gadis yang sedang ditatapnya itu memiliki aura yang sama seperti ibu dari Kaisar Yuan, musuhnya di masa lalu.
Sementara, Xia yu mengingat kejadian sebelum sesi melukis wajah.
Flashback.on
Di dalam ruangan yang sepi, seorang pria paruh baya yang tidak lain adalah Guru Wuzi mengundang Xia yu untuk bertemu Xia yu secara sembunyi-sembunyi. Dia menjelaskan bahwa tahap pertama tidak berjalan sesuai rencana. Maka dari itu mereka kembali menyusun rencana cadangan.
"Nyonya ye menjadi penguji dalam pemilihan, saya agak khawatir karena dia turut serta dalam pemilihan ini." Keluh Guru Wuzi, dia mendesah pelan.
"Saya rasa lebih baik membuat tanda lebih dulu." Usul Xia yu.
"Tanda?"
"Ya, sebelumnya beritahu dulu Juri yang memihak pada Kaisar. Dengan memberikan tanda itu pada calon permaisuri yang ingin dia pilih. Dengan begini, meski terjadi sesuatu hal yang tidak terduga, kita sudah siap menghadapinya." Rencana Xia yu, dia memberikan penjelasan untuk masalah ini.
Guru Wuzi mengangguk paham, dia salut dengan gadis dihadapannya itu. Dalam sekejap dapat menyelesaikan satu masalah tanpa berpikir panjang.
"Akan saya beritahukan pada Kaisar, dan Juri yang berpihak pada kita."
Flashback.off
Di dalam kediaman Kaisar, Yuan Zhu-Ming sedang berdiri di hadapan jendela. Dari sana dia terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Yang Mulia!" Serigala abu-abu datang dengan tergesa-gesa sampai lupa memberi salam. Watak ceroboh memang tidak pernah berubah.
"Ada apa?" Tanya Kaisar tanpa basa-basi.
"Ada kabar baik, Yang Mulia. Hasil dari tahap pertama berjalan dengan lancar." Jawab Serigala abu-abu dengan senyuman bahagia.
"Apa wanitaku terpilih?" Tanya Kaisar dengan antusias.
"Tentu saja, permaisuri yu terpilih. Beliau lolos dengan nilai tertinggi, Guru Wuzi bilang rencana Nyonya ye bisa teratasi oleh saran yang di berikan Permaisuri Yu. Pemilihan ini juga kalau bukan karena nasihatnya mungkin tidak bisa mendapat hasil yang kita inginkan." Jelas Serigala abu-abu.
Yuan Zhu-Ming tersenyum, dia begitu senang mendapat kabar itu. Satu masalah teratasi, dia bisa lega karena sepertinya Permaisuri kecilnya itu bisa beradaptasi dengan keadaan Istana. Hal itu membuatnya tenang!
"Baguslah, terus pantau acara ini sampai selesai. Jangan biarkan orang lain menindas permaisuri ku. Kabari aku jika ada hal yang tidak berjalan dengan baik, dan tetap jaga jarak kedua pengawal pribadi dari permaisuri ku." Titah Kaisar Yuan Zhu-Ming kepada Serigala abu-abu.
"Baik, Yang Mulia."
Sepeninggal Serigala abu-abu, Kaisar berkata. "Sayembara ini bukan sekedar pemilihan, orang-orang yang mengirimkan gadis-gadis ini memiliki niat terselubung. Mereka menginginkan jalan untuk menggabungkan kekuasaan sebagai keluarga kekaisaran."
Mundur ke beberapa satu bulan yang lalu, di dalam Istana tepatnya di kediaman Kaisar. Dalam pertemuan dengan pengurus istana, Kaisar tiba-tiba jatuh pingsan dihadapan semua orang.
Beberapa orang datang menghampiri, Kasim Wuza guru Wuzi dan orang yang menjadi kepercayaan Kaisar datang menghadap. Melihat kondisi yang mengkhawatirkan dari pemimpin mereka yang sedang di periksa oleh pengawalnya.
Guru Wuzi segera memerintahkan Mo han yang selaku pelayan pribadinya untuk membawa kaisar kedalam kamarnya. Beberapa menteri memanggil tabib istana untuk memeriksa kondisi tubuh Kaisar Yuan Zhu-Ming.
Disana mereka menunggu dengan gelisah, baru kali ini mereka melihat pemimpin mereka dalam keadaan seperti itu. Tabib istana keluar dari dalam kamar kaisar, dan memberitahu keadaan Kaisar.
"Yang Mulia pingsan karena terlalu banyak minum, sepertinya beliau terlalu banyak pikiran dan mengalihkannya pada alkohol." Jelas tabib itu.
Orang-orang kembali dari kediaman Kaisar, ada yang mendoakan kesehatan kaisar agar tetap sehat. Adapula yang menginginkan kesehatan kaisar memburuk. Tentu itu untuk orang yang memiliki niatan tidak baik pada kerajaan Tiankong.
Seperti saat ini, seorang menteri memerintahkan pengawalnya untuk membawa tabib yang memeriksa kaisar secara paksa. Menteri Huang yi ingin mengetahui lebih detail kesehatan Kaisar, dan pada saat itu seperti yang sering terjadi penyakit kaisar kambuh.
"S-saat ini, keadaan Kaisar benar-benar tidak baik. Suhu tubuhnya naik dengan drastis, dia seperti terkena racun api neraka. Bahkan, suhu tubuhnya dapat membuat air yang semula dingin menjadi panas dalam sekejap saja." Jelas tabib istana, dengan tubuh yang gemetar menahan ketakutan karena pdang yang bertengger di lehernya.
"Kau boleh pergi." Titah Menteri Huang yi.
"Terima...." Belum selesai ucapan terimakasihnya, pedang yang bertengger di lehernya langsung menyambar. Seketika darah segar mengalir keluar, memutus kehidupan pria itu begitu saja tanpa membiarkan dia kembali pada keluarganya.
"Bereskan mayatnya tanpa meninggalkan jejak!" Perintah Menteri Huang yi.
"Baik, Tuan besar." Jawab pria yang baru saja menghunuskan pedangnya. Dia membawa mayat tabib itu ke lembah kematin dengan kereta barang. Dan melemparkannya begitu saja.
Namun, sepandai-pandainya orang menyembunyikan bangkai. Suatu saat bau busuk dari bangkai itu pasti tercium. Seperti Menteri Huang yi yang menyembunyikan perbuatan kejinya, suatu pasti terkuak.
"Aku ingin dia turun tahta saat putriku berhasil masuk kedalam Istana." Ujarnya pada anak laki-lakinya.
"Apakah itu tidak terlalu mendadak?" Tanya Huang yu.
"Kau kira aku akan hidup selamanya? Pemilihan permaisuri hanya persiapan untuk penurunan takhtanya, dengan memanfaatkan mereka sebagai sandera. Makanya kau harus membujuk adikmu untuk menjadi permaisuri negeri ini, dengan begitu kita bisa menggulingkan pemerintahan kaisar." Jelas menteri Huang yi pada anak laki-lakinya itu.
"Aku mengerti, ayah."
Tanpa disadari oleh mereka, ternyata Kaisar Yuan telah memasukan mata-mata dalam klan Huang. Dan akhirnya penantian kaisar terbayar saat mengetahui rencana menteri Huang yi.
****tbc
Maaf karena kemarin tidak up.. Kerjaan sedang sibuk-sibuknya, jadi belum sempat nulis di tambah ada aja kendalanya ketika mau menulis. Seperti Xia yu yang kehidupannya dipenuhi dengan berbagai rintangan. Hihihi..
Bukan tidak mau nulis, tapi ya begitulah..
Mulai dari laptop mati, keyboard eror dan kouta abis.. hufh, cobaan ku begitu berat ketika ingin melanjutkan perjalanan Xia yu ini, tapi bagaimanapun semoga novel ini bisa tamat tanpa membuat kalian kembali kecewa karena di gantung tanpa tali, hihi..
Sekali lagi maaf ya, author tebus dua up hari ini meskipun kesiangan**..