
***
"Satu hidangan yang dibuat oleh peserta lain membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun sepuluh mangkuk Mie yang saya buat hanya memerlukan biaya dari seperempat satu hidangan yang di buat oleh satu peserta. Mie Kuah sangat identik dengan rakyat, dengan membawa masuk menu merakyat ini ke Istana Pemimpin Kerajaan bisa menyelami hati rakyat. Karena dalam sebuah kerajaan membutuhkan rakyat untuk membangun pemerintahan. Dengan begitu Yang Mulia bisa memperluas wilayah dan mempersatukan mereka dengan kemurahan hati anda.." Jelas Xia yu dengan kata-kata bijaksananya.
Hampir semua orang dapat memahami maksud kata-kata Xia yu, mereka juga membenarkan apa yang diucapkannya. Bahkan Kaisar Yuan terlihat begitu antusias mendengarkan penjelasan Xia yu, sampai dia tidak sadar jika sedari tadi sudut birbirnya tersungging dengan indah, membuat para peserta beberapa juri dan penguji terpanah. Baru kali ini mereka melihat Kaisar Yuan tersenyum begitu lepas, biasanya pahatan wajah itu hanya berekspresi datar dingin acuh tak acuh dengan aura mendominasi yang kuat ketika berhadapan dengan mereka.
Bahkan Nyonya Ye dan antek-anteknya juga terkejut. Raut wajah Nyonya Ye tentu saja terlihat muram. Karena dirinya yang tidak ingin di samakan dengan rakyat rendahan, dia bangkit dari posisi duduknya dan menghentikan ucapan Xia yu.
"Diam! Beraninya kau mengucapkan kata-kata untuk menyesatkan orang lain!?" Sergah Nyonya Ye dengan kesal.
"Dia tidak bermaksud menyesatkan. Bukankah semua yang dikatakannya benar?" Guru Wuzi ikut berdiri dan tidak membenarkan ucapan Nyonya Ye.
"Saya memerintahkannya membuat makanan yang paling berharga dalam istana." Nyonya ye kembali menentang Guru Wuzi.
Dengan santai Guru Wuzi menanggapi. "Mie juga makanan, Nyonya."
Dan semua orang membenarkan ucapan Guru Wuzi, para Juri pun memberi nilai tertinggi untuk hidangan yang dibuat oleh Xia yu. Beberapa peserta yang tidak mendapat nilai sempurna pun tereliminasi dalam babak ini. Sekarang hanya tinggal lima orang saja.
Pertama adalah Putri Xiao Qing, seorang kultivator yang berada di level Fighter tingkat satu pada usia enam belas tahun dan menjadi kesatria wanita pertama di wilayahnya.
Kedua Putri Ning An, seorang Kultivator medis, gadis baik hati yang memiliki sifat lemah lembut dan penyayang memilih menjadi seorang tabib.
Ketiga, Nona Su Anqi, seorang pengusaha termuda dari keluarga bangsawan yang mengelola arak kualitas tinggi. Gadis angkuh dan suka semena-mena.
Keempat, Putri Yimei, seorang kultivator yang berada di level Warrior tingkat empat. Gadis pemberani, sedikit angkuh dan bermuka dua.
Kelima, Nona Jing Xia yu, seorang kultivator yang di duga hanya berada di level Fighter.
Kini tiba di tahap ketiga, Nyonya Ye telah membuat rencana yang sulit di tebak. Di tahap ini bahkan dia telah memerintahkan para cendikiawan membuat pertanyaan yang sulit di jawab. Tahap pembuatan sebuah lukisan itu bahkan di kawal oleh komandan dan para pengawal yang berada dibawah kepemimpinan persenjataan. Gubernur bayan, menteru Huang Yi.
"Tanpa izin dariku, tidak ada yang boleh menemui seseorang atau meninggalkan ruangan ini. Kalian dengar dengan jelas?" Ujar Nyonya Ye berbicara pada para cendikiawan.
"Baik, Yang Mulia." Salah satu cendikiawan menjawab pasrah meski dia merasa tertekan karena kehadiran para pengawal yang datang dengan tampang bengis. Bisa diartikan jika dia memberontak dari perintah wanita dihadapannya, salah satu pengawal disana pasti akan memenggal kepalanya dengan satu kali tebasan.
'Glek!'
Para cendikiawan menelan saliva nya sendiri secara kasar. Dalam bayangan mereka membayangkan kepala dan tubuh mereka terpisah. Dengan paksaan dan tekanan seperti itu, mau tidak mau mereka harus melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Nyonya Ye.
Kembali lagi ke Balai Agung, di dalam aula para pelayan suruhan Nyonya Ye baru saja datang dengan pengawalan yang ketat. Disana Dayang Ansi membawa sebuah nampan yang selalu digunakan untuk membawa dekrit kekaisaran. Tepat di atas panggung, Dayang Ansi memberikan tiga buah gulungan kain berwarna biru kepada Kasim Wuza.
Dengan ijin yang diberikan oleh Kaisar Yuan, Kasim Wuza memberikan satu persatu gulungan kain itu pada para pelayan dan memerintah mereka untuk segera menggantungnya pada tempat yang telah disediakan. Terlihat tiga buah lukisan tangan yang menggambarkan sebuah kehidupan dan keadaan yang berbeda-beda.
Tepat setelah ketiga lukisan itu dibuka secara bersamaan oleh para pelayan, salah satu cendikiawan berjalan ke arah tengah dan berbicara pada para peserta.
"Pengantar untuk putaran ketiga persaingan ini adalah lukisan. Lukisan di depan kalian terkandung makna mendalam. Apa makna sebenarnya? Semuanya, silahkan tuliskan jawabannya. Silahkan dimulai." Jelas Cendikiawan tersebut.
Semua orang mulai memperhatikan ketiga lukisan itu. Para peserta langsung bisa menebak dan menuliskan jawaban mereka, berbeda dengan Xia yu yang masih terlihat memperhatikan lukisan dari jarak jauh.
"Kau tahu apa artinya?" Tanya salah satu juri pada juri lainnya.
"Bukankah artinya negeri yang tenteram dan makmur?" Jawab temannya.
Mendengar bisikan dari para juri, Guru Wuzi menoleh pada Nyonya Ye, disana dia melihat perempuan paruh baya itu tersenyum penuh arti melihat para putri sudah mulai menuliskan jawaban tanpa memahami makna yang terkandung dalam lukisan. Di sana dia juga melihat putrinya mulai menuliskan jawaban yang menurutnya akan menjadi jawaban paling benar dari semuanya.
Ketika semua peserta menuliskan jawaban mereka, Xia yu masih tetap memperhatikan lukisan itu dengan serius. 'Harmonis, Mm.. bukan!' Batin Xia yu, dia mulai berpikir dan bermonolog dalam hatinya. 'Kalau begitu ketentraman dan kemakmuran, tapi mana mungkin para cendikiawan dari Perguruan Tinggi Istana memberikan soal semudah ini untuk pemilihan permaisuri. Jadi sebenarnya apa? Lukisannya seperti mengungkapkan sesuatu.'
Didalam lukisan ini mengandung makna yang dalam, namun hanya segelintir orang yang bisa menjawabnya dengan benar tepat dan jelas. Orang-orang yang kurang paham mungkin akan langsung menjawab kedamaian ketentraman dan keharmonisan. Mereka yang menjawab dengan cepat itu tidak benar-benar memahami cerita dalam lukisan. Terbukti, para peserta menulis jawaban yang menurut mereka benar dalam kertas jawaban masing-masing. Berbeda dengan Xia yu, dia saat ini masih berusaha memahami makna yang terkandung dalam lukisan.
Nyonya Ye memerintahkan para cendikiawan membuat soal yang rumit, dia yakin hanya anaknya yang bisa menjawab dengan benar. Nyonya ye tersenyum licik melihat Xia yu masih belum menuliskan satu kata dalam kertas jawabannya, dia yakin Xia yu akan kalah dalam tahap ini.
Satu persatu para peserta bangkit dari tempat duduk mereka, meninggalkan kertas jawaban mereka di atas meja dengan senyuman puas.
"Ternyata lebih mudah dari yang kita kira, ya?" Ujar Nona Su Anqi.
"Yang kukatakan benar 'kan." Jawab Putri Xiao Qing. Mereka berdua terlihat dekat, sepertinya telah menjalin pertemanan karena watak yang sama.
"Tapi, kenapa perempuan yang berstatus janda itu begitu lambat?" Su Anqi menanyakan perihal Xia yu yang belum juga menuliskan jawaban di atas kertasnya.
"Karena dia perempuan dari negeri rendahan yang tugasnya menyiapkan makan, wajar saja kalau dia lambat. Hahaha.." Jawab Putri Xiao Qing, mereka berdua menertawakan nasib Xia yu dan gadis dalam lukisan.
Tatapan orang-orang juga mengarah pada Xia yu, beberapa penguji bertanya pada Guru Wuzi.
"Dia kan cerdas, kenapa tidak bisa menjawab soal semudah itu?"
"Bukan hanya lembu, ada juga wanita yang memasak makanan dan budha yang berdiri tersenyum. Tampak sekilas bukankah maksudnya ketentraman dan kemakmuran?"
"Bukan itu jawabannya." Jawab Guru Wuzi,
"Bukan itu?"
Mendengar pertanyaan dari mereka Nyonya Ye malah menyeringai puas melihat gadis yang dibicarakan belum juga menuliskan jawabannya, tatapannya beralih pada Kasim Wuza, dia pun bertanya.
Kasim Wuza memperhatikan sekeliling, semua peserta telah menjawab terkecuali Xia yu. Dia pun menghela nafas sebelum berbisik pada Xia yu.
"Saya tidak bisa memberi Anda waktu lebih lama. Tolong kumpulkan jawaban secepatnya."
Pada detik-detik terakhir, Xia yu memejamkan mata. Berusaha menyelami isi cerita dan mendapatkan jawaban yang tepat. 'Wanita desa yang menyiapkan makan malam dan senyuman dari patung dewa.. Keadaan itu.. rasanya aku pernah melihatnya, tapi dimana ya?' Batin Xia yu terus berpikir mencari jawaban yang tepat.
'Aa! Aku ingat.. Puisi itu..' lirih Xia yu ketika mengingat salah satu puisi yang menggambarkan keadaan dalam lukisan tersebut. Dengan senang hati dia membuka matanya dan langsung mengambil kuas untuk menuliskan jawabannya dengan penuh keyakinan dan percaya diri.
'Menjual lembu untuk membayar pajak dan membongkar rumah untuk memasak makanan. Kekurangan air mengakibatkan kelaparan di tahun mendatang. Sang abadi berjubah putih berdiri tegak di dalam Balai.' Xia yu bermonolog di dalam hatinya membacakan sepenggal sajak yang pernah dia baca ketika berada di dalam ruang perpustakaan gelang spasialnya.
Setelah menyelesaikan semua tulisannya, dengan jawaban yang ada dalam pikirannya. Xia yu bangkit dan meninggalkan meja itu sambil tersenyum pada Fang yin.
Kini tiba waktunya pengumpulan jawaban, para pelayan perguruan mengambil lembar jawaban dan memberikannya pada Cendikiawan.
Ketika Cendikiawan itu memilih jawaban yang benar-benar tepat, dan ternyata ada dua jawaban yang menurut mereka benar tepat dan jelas. Mereka pun memisahkan jawaban itu dari lembar kertas jawaban yang lain dan segera menghadap Kaisar untuk mengumumkan siapa pemenangnya tanpa penilaian para juri.
"Semua Calon Permaisuri menuliskan jawaban yang mengarah pada 'Ketentraman dan Kemakmuran'. Hanya Putri Yimei dan Nona Jing yang memberikan jawaban berbeda."
Setelah mendengar ucapan Cendikiawan, perhatian orang-orang langsung tertuju pada dua peserta yang berdiri dengan jarak yang dekat. Nyonya ye juga terkejut, apa maksud cendikiawan itu mengumumkan prihal kedua jawaban yang berbeda, tapi sesaat kemudian dia berpikir. 'Mungkinkah jawaban yang berbeda itu jawaban benar dan yang salah?'
Berpikir seperti itu, Nyonya ye tersenyum senang karena tetap mengira anaknya yang akan lolos.
Cendikiawan kembali melanjutkan ucapannya yang tertunda. "Yang Mulia, mohon ijinkan kami mendengar alasan dari jawaban Putri Yimei dan Nona Jing sebelum memberikan nilai."
Mendengar permohonan itu, Kaisar Yuan sejenak berpikir dia ingin memastikan apakah Xia yu menjawab pertanyaan itu dengan benar atau salah. Lalu kenapa harus dua orang yang di panggil?
Xia yu menatap Kaisar Yuan Zhu-Ming dan mencoba memberikan isyarat kepadanya bahwa dia yakin jawaban yang dia berikan adalah benar. Kaisar Yuab pun menganggukkan kepalanya tanda dia mengijinkan. Setelah itu Kasim Wuza yang berbicara.
"Putri Yimei dan Nona Jing, silahkan maju."
Kedua peserta menganggukkan kepalanya pelan sebelum berjalan keluar barisan dan berdiri di tengah menghadap Kaisar.
Setibanya di sana, cendekiawan mulai bertanya kepada salah satu dari mereka berdua. "Bagaimana Putri bisa mendapatkan jawaban tersebut? Tolong jelaskan." Pertanyaan pertama jatuh kepada Putri Yimei.
"Baik, saya akan jelaskan." Jawab Putri Yimei, dia pun mulai membacakan jawabannya. "Menjual lembu untuk membayar pajak dan membongkar rumah untuk memasak makanan. Kekurangan air mengakibatkan kelaparan di tahun mendatang. Sang abadi berjubah putih berdiri tegak di dalam Balai. Sebuah puisi yang terkandung dalam lukisan menceritakan tentang.. tentang..."
Secara tiba-tiba penjelasan Putri Mei terbata-bata seperti kehilangan kata-kata Yang telah dihapus beberapa jam yang lalu. 'Ahh, sial bait selanjutnya apa? Aku lupa. Akh, dasar otak sialan!' Umpat Putri Yimei dalam hatinya.
Melihat gelagat itu cendikiawan mengerutkan keningnya, dia sepertinya telah paham kenapa gadis itu tidak bisa meneruskan kata-katanya. 'Ternyata peserta ini..' Lirih Cendikiawan itu dalam hatinya. Karena merasa muak dia pun mengajukan pertanyaan dengan raut wajah serius.
"Apakah Putri tidak dapat meneruskan penjelasannya?"
"Mmm...." Putri Yimei hanya bungkam sebagai responsnya.
Perhatian semua orang tertuju pada Putri Yimei, mereka tidak menduga jika kandidat yang terbaik akan kehilangan kata-kata saat menjelaskan jawabannya sendiri.
"Baiklah, sepertinya Putri Yimei lupa makna yang terkandung dalam lukisan, kita beralih saja pada Nona Jing."
"Nona Jing, bagaimana Anda mendapatkan jawaban tersebut? Tolong jelaskan."
Dalam situasi itu, Xia yu dengan senang hati memanfaatkannya. Dia pun mengambil nafas dan menoleh pada lukisan itu kemudian mulai berbicara.
"Dalam lukisan tersebut di tempat yang seharusnya ditemukan kayu bakar malah tidak ada. Jadi, warga-warga memotong kayu-kayu rumah untuk membuat api untuk memasak.
Sedangkan petani menjual lembu nya, satu-satunya harta kepunyaannya. Jadi, menjual lembunya untuk membayar pajak dan membongkar rumah untuk memasak makanan.
Kekurangan air membawa kelaparan di tahun berikutnya. Sang abadi berjubah putih berdiri tegak dalam Balai.
Ini adalah suatu bait dalam syair Su Dongpo. Itulah jawabannya."
Semua orang begitu terperangah, terkejut melihat Xia yu bisa menjelaskan dengan rinci tentang makna yang terkandung dalam lukisan tersebut. Bahkan para pelayan yang bekerja pada Nyonya membuka mulutnya lebar-lebar karena merasa tidak percaya akan apa yang baru saja di dengarnya.
"Yang Mulia, diantara kelima lembar jawaban, ada dua jawaban yang benar. Namun, karena Putri Yimei tidak bisa menjelaskan maka jawabannya itu dianggap gugur dan karena Nona Jing dapat menjelaskan dengan benar. Saya menganggap hanya jawaban ini yang paling sempurna, dan layak mendapatkan nilai penuh! Yang Mulia." Jelas Cendikiawan itu merasa bangga ada anak muda yang dapat memahami makna dari lukisan yang di buat oleh mereka.
Kaisar terlihat menghembuskan nafasnya yang memburu. Dia merasa tegang ketika cendikiawan itu memberikan penilaian penuh pada Xia yu. 'Permaisuri ku ternyata sangat pintar.' Pujinya dalam hati. Dia memberikan senyuman kepada Xia yu.
Berbeda dengan beberapa peserta dan Nyonya ye, mereka terlihat kecewa mendengar Xia yu mendapatkan nilai penuh. Dalam tahap kedua dan ketiga dia yang mendapat nilai tinggi. Bagaimana jika di tahap pertama dan terakhir juga sama? Nyonya ye mulai terlihat frustasi.
"Nilai yang diberikan para cendekiawan dan perguruan tinggi istana akan dipertimbangkan. Berikut dengan nilai yang diperoleh dari pernyataan Selir Agung akan ditentukan setelah tahap terakhir." Ujar Guru Wuzi.
"Sampai pengujian terakhir diumumkan oleh Nyonya ye, kalian bisa pergi." Kaisar Yuan memerintahkan para peserta untuk beristirahat.
"Baik, Yang Mulia" Jawab Kasim Wuza, dia pun membawa para peserta ke dalam ruang peristirahatan.
'Wanita sialan! Bagaimana dia bisa lolos lagi?' Umpat Nyonya ye begitu murka. Wajahnya memerah menahan amarah yang siap meledak kapan saja.
'Di tahap terakhir, tidak akan kubiarkan jalan ini lolos lagi. Akan aku kirim dia ke neraka!'
**tbc