Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Otak sengklak



Saat Lea tengah sibuk dengan buku-buku dan laptop nya, luck baru saja selesai dari sesi mandi nya, laki-laki itu menatap sejenak ke arah Lea kemudian berjalan menuju ke arah walk in closed.


"Sayang"


Lea yang masih berkutat dengan bukunya sejenak mendongak.


Wait..., dia panggil apa barusan???? sayang???


"Kenapa?"


"Kita akan berangkat ke Indonesia akhir Minggu ini"


"Ya?"


Seketika Lea membulat kan bola matanya.


"Indonesia? kenapa?"


"Kita akan pergi ke acara resepsi pernikahan Belle dan Bern"


"Hahhhh? mereka benar-benar menikah?"


Lea tampak terkejut.


Luck hanya menaikkan sedikit bahu nya.


"Ngomong-ngomong bagaimana uncle kenal Belle dan Bern?"


Seketika Lea mengerutkan keningnya.


"Daddy Bern dan Mommy ku saudara kandung"


(Catatan \= Daddy angkat Bern keluarga de Lucas bukan Mommy kandung Bern dari Al Jaber, agar tidak ada kesalahpahaman)


"Hahhh?"


Seketika Lea terkejut.


"Bagaimana mungkin?"


Luck Tampak terkekeh melihat ekspresi Lea.


"Apa ada sesuatu yang tidak mungkin didunia ini sayang?"


Tanya laki-laki itu sambil menggunakan baju kaos nya.


"Nggg tidak ada sih"


Gadis itu menggaruk pelan kepalanya.


"Tunggu dulu... lalu kuliah ku bagaimana?"


Jelas saja dia bingung, kuliah nya bagaimana jika mereka tiba-tiba harus pergi ke Indonesia?.


"Lalu apa kita akan tinggal di hotel?"


Tanya Lea lagi sambil menautkan dua jari telunjuk nya.


"Belum tahu, bisa jadi kita tinggal di hotel atau bisa jadi kita tinggal di mansion utama keluarga Al Jaber"


Jawab luck Cepat.


Lea mengangguk-angguk kan kepalanya.


"Apa kita akan tinggal 1 kamar?"


Jari telunjuk nya kembali bergerak.


"Aku fikir iya"


Goda luck sambil mengulum senyuman nya.


Kali ini Lea bertanya dalam hati sambil isi kepala nya mulai berfikir kemana-mana.


Memangnya apa yang akan dilakukan pasangan suami istri jika tinggal di tempat yang sama? kamar hotel atau mansion utama Keluarga Al Jaber??.


Akhhhhhh mengerikan.


Ular piton yang akan menghantam dirinya tanpa ampun, besar.... panjang dannn....


akh tidak bisa jadi itu adalah rudal Rusia Moscow yang....Akhhhh


Bisa dia bayangkan bagaimana bentuk rusak Rusia Moscow tersebut.



Brrrhhhh, otak ku seperti nya perlu di cuci di dalam mesin pencuci pakaian.


Pekik Lea dalam hati.


Akhhhhh tidak bagaimana jika ukuran nya kecil?


Hahahahaha kecil?


Seketika Lea mengintip ke arah luck, laki-laki itu masih menggunakan handuk nya.


Kecil????


Dia memicing kan matanya.


Kecil tapi tajam.



Gadis itu kembali membayangkan rudal besi milik Turki, dia terkekeh lantas menggeleng-gelengkan kepalanya.


Akhhhh Ggrrhhhh


Ini gara-gara obrolan gila bersama teman-teman nya dulu, bahkan bisa jadi ini efek kebanyakan baca novel 21+.


Oh Tuhan ampunilah hamba mu yang otak nya di penuhi fikiran plus plus ini.


pekik Lea lantas menggeleng-gelengkan lagi kepalanya berkali-kali, kemudian dia kembali melanjutkan tugas kuliah nya.


Aku pasti sudah gila.


Batin nya sambil menarik dalam nafasnya.


Luck melihat ekspresi Lea yang terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya sejak tadi, dia fikir apa yang sebenarnya gadis itu fikirkan sejak tadi.


"Semua orang menunggu kita untuk makan malam dibawah, mau turun bersama atau aku pergi lebih dulu?"


Tanya laki-laki itu sambil mulai menggunakan celananya.


"Tunggu sebentar, sedikit lagi"


Ucap Lea sambil bola mata nya masih fokus pada tulisan yang tengah tangannya gerakkan sejak tadi.


Luck Tampak diam, dia mulai masuk kekamar mandi sejenak untuk menggantung kan handuk milik nya didalam sana.


"Ngomong-ngomong, besok Mommy mu dan kakak sepupu ku akan datang kemari"


"Ya?"


Seketika Lea menghentikan gerakan tangan nya.


"Kita akan bicara soal pernikahan kita kedepannya, mungkin kita akan merayakan nya juga setelah pernikahan Bern dan Belle"


Ah.....tapi... tunggu dulu.


Seketika Lea tampak kelabakan.