Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Mencoba menyakinkan dirinya



Sejenak bola mata Edo terus menelusuri ruangan, mencari Vio yang tiba-tiba menghilang dari pandangan Semua orang.


"Vio mana kak?"


Edo langsung bertanya pada sang kakak begitu diri nya mendekati perempuan itu yang sejak tadi terus sibuk berkutat didapur.


Perempuan itu tengah membuat makan malam untuk mereka sedang kan sang kakak ipar tampak tiduran dengan santai di ruang tengah sambil sibuk menonton berita.


"Ah... kemana ya? kakak nggak lihat do, sibuk dari tadi ini"


Jawab sang kakak nya cepat.


"Dicari do, bentar lagi kelar ini masakan"


Ucap sang Kakak nya lagi.


"Sudah mau makan malam juga"


Edo hanya mengangguk kan kepalanya mendengar kan ucapan sang kakak, bola matanya terus menelusuri ruangan, sejenak dia melangkah dan mulai mengintip ke arah kamar Vio, tapi sama sekali tidak menemukan anak itu disana.


Lalu bola mata nya tertuju pada satu arah dimana terlihat bayangan sang istri dari balik kaca didepan sana.


Edo Dengan cepat menarik sebuah jaket yang tergantung di gantungan ruang tamu lantas dia berjalan mendekati Vio yang tengah duduk berjongkok di depan teras samping apartemen nya itu.


"Kenapa?"


Bisik Edo sambil memberikan jaket ke punggung Vio, perempuan kecil itu hanya menggunakan baju tidur nya di cuaca sedingin ini, Edo fikir itu cukup buruk untuk kesehatan Vio.


Mendengar suara sang uncle vio langsung mendongakkan kepalanya, dia menggigit bibir bawahnya secara perlahan.


"Apa uncle akan menikah lagi? meninggalkan aku atau memilih beristri dua?"


Tanya Vio Tiba-tiba dengan bola mata berkaca-kaca.


Bisa Edo tebak, sang istri pasti baru saja menangis kembali sebelum ini, ucapan sang kakak jelas melukai Vio, dan Edo benar-benar harus sabar dalam menghadapi anak-anak se usia Vio.


Perbedaan usia hingga 17 tahun jelas begitu jauh, Edo jelas harus berfikir dengan matang sekali dalam menghadapi sang istri, bahkan bisa di katakan dia harus siap mental, siap fisik bahkan siap semuanya untuk mendampingi Vio.


Jawab Edo pelan, mencoba ikut duduk dilantai tepat disamping Vio.


"Kalau Mommy memaksa? Daddy juga memaksa bagaimana?"


Lea menatap dalam bola mata uncle nya, dia menelisik bola mata itu begitu dalam, ada sejumput kekhawatiran yang menerjang perasaan dirinya saat ini.


"Maka aku akan jawab Tidak"


Edo mencoba menyakinkan Vio soal jawaban nya, balik menatap dalam bola mata itu.


"Jangan fikirkan hal yang aneh-aneh, sekarang cukup fokus ke sekolah hmmm, setelah kelulusan baru kita bicarakan dengan semua orang"


Edo mulai menyentuh pipi Vio kiri dan kanan nya dengan kedua belah tangan Edo.


"Jangan khawatir soal perempuan lain, jangan takut aku tergoda dengan perempuan lain atau bahkan mungkin menerima lamaran dari perempuan lain"


Edo berusaha untuk terus menyakinkan Vio soal dirinya.


"Aku tidak akan tergoda hmm, setelah Lulus sekolah uncle akan memperjuangkan hubungan kita, andaikan yang kita lalui nanti mungkin akan Sulit dan berat, tetap genggam tangan ini dan jangan pernah berfikir untuk melepaskan nya hmm"


Vio masih menatap dalam bola mata itu, kemudian secara perlahan dia mengangguk kan perlahan kepalanya.


"Itu bagus"


Setelah berkata begitu Edo langsung mengacak-acak poni sang keponakan dengan lembut dan hangat, dia melebarkan senyumannya nya sambil menyentuh lembut wajah cantik dan imut itu.


Sepersekian detik kemudian secara perlahan Edo mendekati wajahnya ke wajah Vio, secara perlahan dia mulai menautkan bibir mereka.


Tapi...


"Edo...Vio..."


Terdengar suara kakak nya yang mendominasi secara tiba-tiba, mereka secepat kilat melepaskan ciumannya.