
Daddy Edo benar-benar marah, dia menatap tajam kearah putra nya itu setelah Edo keluar dari kamar nya dengan jutaan pandangan yang begitu sulit di artikan. Ingin sekali dia kembali memukul Edo saat ini, tapi dia mencoba menjaga kondisi sang istri, dia takut wanita yang dia cinta itu akan terkena dampak buruk atas kemarahan nya
Mommy Edo berusaha untuk terus mengatur nafasnya sejak tadi, kepalanya terasa tiba-tiba Menjadi pening, dia mencoba duduk di atas kursi sofa sambil menahan perasaan yang ada didalam hati nya saat ini.
Sejenak wanita itu mencoba meraih gelas Aqua yang ada dihadapan nya, dia mencoba menghabiskan air mineral itu untuk beberapa waktu.
Mommy Edo cukup shok dengan apa yang terjadi, bisa dibayangkan bagaimana ekspresi wanita itu saat ini, bahkan mungkin bisa Edo baca bagaimana kecewa nya wanita itu terhadap diri nya.
Niat berkunjung ke apartemen sang putra kesayangan untuk menjenguk Edo serta melihat vio sang cucu kesayangan mereka penuh dengan kerinduan dan cinta seketika berubah menjadi Kemarahan yang mendalam.
Orang tua mana yang tidak Shock melihat putra nya tengah bermesraan dengan intim dan saling memadu kasih dengan cucu kesayangan nya sendiri.
Mereka benar-benar memadu kasih layak nya pasangan suami istri.
Bahkan sang cucu berkata.
"Aku mencintai uncle"
Vio jelas-jelas mencintai paman nya sendiri yang tidak lain putra mereka sendiri.
Bagaimana mungkin?.
"Son... Mommy Fikir Mommy sedang bermimpi, mungkin sebentar lagi akan sadar dan terbangun dari keadaan"
Ucap Mommy Edo sambil berusaha menggenggam erat tangan nya yang terus gemetaran sejak tadi.
Edo berjalan mendekati Mommy nya, duduk dihadapan sang Mommy sambil melihat gurat kekecewaan dibalik wajah yang mulai menua dan mengeriput itu.
"Mom...maafkan aku"
Ucap Edo pelan sambil berusaha menggenggam erat tangan Mommy nya.
"Ini bukan salah vio, tapi ini salah ku Mom, aku yang tidak bisa mengendalikan perasaan ku, dan kami...."
"Oh god, oh god, oh god jadi ini bukan mimpi? ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? apa yang harus kita lakukan?"
Wajah tua itu semakin besar diliputi rasa kekecewaan yang begitu mendalam, kemarahan, rasa malu, rasa sedih yang bercampur aduk menjadi satu.
"Apa kau gila? apa kau gila? dia keponakan mu, dia putri dari kakak mu sendiri"
Mommy nya tiba-tiba menjadi begitu marah, memukul Edo dengan tangan nya berkali-kali bahkan wanita itu menangis histeris.
Vio tidak berani keluar dari kamarnya, hanya bisa ikut menangis sambil sesekali menyeka air matanya.
Daddy Edo jelas sama kecewanya, dia berusaha membuang pandangannya.
"Dia cucu Mommy, keponakan mu sendiri Edo, dia putri kakak mu....."
Bahkan Mommy Edo tidak bisa memendam kemarahan nya saat ini, ketika Ramira datang dan masuk ke apartemen Edo, Mommy Edo tetap bicara dengan jutaan kemarahan nya.
"Mommy...?"
Ramira bicara pelan sambil mendekati Mommy Edo, dia telah terbiasa memanggil orang tua Edo dengan panggilan Mommy dan daddy.
"Oh Ramira, kau tahu apa yang terjadi? oh Tuhan... Edo..,vio kami.. mereka"
Seolah-olah wanita itu baru saja mengadu kepada anak perempuan nya yang lain, dia berdiri berusaha mendekati Ramira, mencoba meraih tubuh perempuan itu dan mencoba memeluknya.
Tapi Sepersekian detik kemudian tiba-tiba.
Brakkkkk
"Mommy...."
"Mom..."
"Sayang..."
Tahu-tahu keadaan menjadi begitu suram, Mommy Edo Seketika jatuh pingsan.