
Mansion utama Al Jaber
Indonesia
Persiapan Menyusun rencana
pesta pernikahan Belle dan Bern
Ketika semua anggota keluarga berkumpul, para laki-laki tampak duduk di salah satu sudut ruangan yang mendominasi berwarna cream, Mereka berkumpul di kursi sofa sambil menikmati minuman dan rokok di tangan masing-masing.
Mereka memilih menjauh dari para perempuan sebab rokok cukup tidak baik untuk para perempuan hamil menurut mereka.
Murat sejenak menyesap minuman nya, lantas tangan kanannya meraih sebuah bentuk undangan yang cukup unik.
"Yang ini?"
Dia bertanya pada Bern.
"Belle menyukai nya"
Jawab Bern cepat.
"Sudah menentukan ingin konsep yang bagaimana?'
Aland bertanya sambil meraih pulpen dan sebuah buku di hadapannya.
"Dia masih memikirkan nya'
Jawab Bern lagi.
"Jangan terlalu lama, waktu nya cukup terjepit"
Ucap Bahrat sambil menghisap rokoknya lantas membuang asap nya ke udara.
"Aku pikir sebaiknya acaranya di lakukan di mansion utama Al Jaber, sebab cukup memudahkan untuk para keluarga dari luar datang dan pergi, akan ada kendaraan khusus untuk mereka kemana-mana juga nantinya"
Murat bicara mencoba untuk menentukan lokasi acara.
"Seperti nya Farhan dan Ramira akan datang ke Indonesia besok"
Tiba-tiba Abigail muncul dari arah belakang, dia berjalan mendekati Eden yang tampak sibuk memperhatikan beberapa macam pilihan undangan.
Mendengar nama Ramira, seketika tangan laki-laki itu berhenti bergerak.
Abigail langsung duduk di antara Eden dan Murat.
"Benarkah? itu bagus, aku memang mengundang mereka"
Jawab Murat cepat.
Bahrat Tampak mengerutkan keningnya.
"Kenapa?"
"Atas permintaan Belle, mereka sangat dekat Sebelum nya, bukan begitu Eden?'
Murat melirik ke arah Eden, laki-laki itu tampak diam.
"Kamu tidak merasa canggung bertemu dengan Ramira?"
Bahrat Bertanya masih sambil mengerutkan keningnya.
"Canggung? kenapa?'
"Setelah bertunangan sekian lama, bercinta mungkin berkali-kali lantas berpisah tanpa menikah? apa itu tidak membuat jarak canggung di antara kalian?"
Tanya Bahrat sambil menggelengkan kepalanya secara perlahan.
"Bercinta? aku dan dia? bercanda, mencium nya saja aku tidak pernah, bagaimana mau ber..cinta dengan nya?"
Murat tampak terkekeh.
"Ya?"
Seketika semua orang menoleh, begitu juga dengan Eden.
"Mau tahu kenapa kami tidak jadi menikah?"
Tanya Murat ke arah Bahrat.
"Dia selalu menjaga jarak dengan ku, bahkan saat aku menyentuh tangan nya saja dia selalu dengan cepat menepisnya, lalu bagaimana mungkin kami melanjutkan hubungan yang terlihat tanpa hati?"
"Apa kau sedang bercanda,Murat?"
Abigail menaikkan ujung alisnya.
"Tidak.. tidak bercanda, Farhan pernah mengeluh juga soal hubungan mereka, Ramira terlalu sulit dimengerti, meskipun bersama untuk waktu yang lama, Ramira selalu memasang jarak untuk nya, bahkan mereka belum pernah tidur bersama"
Aland Tampak menggelengkan kepalanya sambil terkekeh.
Seketika Eden membulat kan bola matanya nya.
"Apa?"
Tanya Eden cepat
"Lucu sekali, Farhan bisa kalah hanya karena perempuan seperti Ramira"
Lanjut Aland lantas dia diam Sejenak.
"Tapi ngomong-ngomong, aku dengar dari Edo seseorang Menjebak perempuan itu Sebelum kita menghabisi Karl di sebuah klub malam dan..."
Aland menoleh ke arah Eden sejenak.
"Apa?"
Murat ikut menoleh ke arah Aland.
"Lupakan saja"
Ucap laki-laki itu kemudian.
"Kamu bicara apa?"
Eden langsung bertanya cepat ke arah aland dengan perasaan tidak sabaran.
"Edo melarang ku untuk membicarakan nya"
"Katakan"
"Lupakanlah"
"Aland?'
Murat dan Bahrat saling menoleh.
"Hei hei menantu dan mertua, jangan menjadi tegang secara tiba-tiba"
Murat berusaha untuk mencairkan suasana.
"Bukan begitu, malam kapan? club? di jebak bagaimana?"
Eden langsung bertanya sambil terus mengerutkan keningnya.
"Seseorang memberikannya obat bius, untungnya Edo dan Farhan datang tepat waktu, kamu bisa tanyakan kejadian nya di klub malam xxxxxxxx, aku takut salah bicara"
Lanjut aland lagi lantas membuang pandangan nya.
Eden seketika membeku.
Apa malam itu?
tanya nya dalam hati.
Seketika jantung nya bergemuruh hebat.
Sejenak Eden menoleh ke arah Murat dan aland secara bergantian, lantas menoleh ke arah Bahrat yang terus memancing Murat soal hubungan masa lalu laki-laki itu dengan Ramira.
"Kau benar-benar belum pernah menyentuh nya?"
Bahrat terus bertanya dengan jutaan rasa penasaran.
"Tidak pernah"
"Laki-laki sekelas kamu tidak pernah menyentuh dia?"
"Oh come uncle, aku begitu menghargai dia selama kami bersama, dia bukan type perempuan murahan"
Murat bicara lantas tangan nya kembali memperhatikan beberapa undangan di atas meja.
sepersekian detik kemudian beberapa pelayan mulai masuk membawakan beberapa makanan.
Eden seketika tampak kebingungan, dia fikir bukankah Ramira berkata dia sudah pernah tidur dengan Murat dan Farhan, tapi kenapa Murat bersikeras berkata mereka belum pernah tidur berdua.
Ada apa ini?.
Laki-laki itu tampak bertanya didalam hati sambil menyentuh bingung dahinya.