Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Perasaan apa ini



Saat Lea melihat sosok laki-laki dihadapan nya tersebut yang kini tengah melangkah menuju kearah dirinya seketika membuat gadis tersebut membeku untuk beberapa waktu, tidak tahu kenapa tapi hatinya terasa berdebar-debar, seolah-olah ada yang salah dengan dirinya saat ini.


Ini bukan cinta, tapi satu perasaan aneh yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata, sangat berat dan begitu sulit sekali, bahkan terasa sesak dan memilki sejumput kerinduan yang tidak bisa Lea pahami.


Dia bertanya-tanya didalam hati nya tentang perasaan apa yang hadir saat ini dan menerjang dirinya, rasanya terlalu aneh dan dia sama sekali tidak bisa mengungkapkannya dengan gamblang.


Semakin dekat sosok tersebut ke arah dirinya semakin dia merasa berdebar-debar, bahkan rasanya ada jutaan kerinduan yang di pendam selama ribuan hari yang selama ini terkurung didalam satu bilik kaca yang membuat Lea sama sekali tidak bisa membuka nya dan siap meledak kapan saja.


"Sayang"


Bisa Lea lihat perempuan disamping Lea menjawab dengan cepat sapaan laki-laki tersebut,dia melebarkan senyumannya saat melihat kehadiran Arsen, memilih memeluk laki-laki dihadapan Lea tersebut dengan penuh cinta kemudian bergantian memeluk gadis muda di hadapan nya itu diikuti oleh wanita paruh baya lebih tersebut.


"Maafkan kami sedikit terlambat"


Flow bicara sembari menundukkan kepalanya karena malu.


"Bukan masalah, coba lihat ini apakah ini cantik?"


Kakak perempuan Arsen Bertanya cepat, menunjukkan sebuah kalung ke arah laki-laki tersebut.


"Bukankah kita akan membeli cincin kak? Kenapa jadi membeli kalung?"


Tanya Arsen sembari mengerutkan keningnya.


"Sayang ini untuk hadiah, kamu lihat Flow tidak menggunakan apapun di lehernya, dia pasti cantik saat menggunakan semua nya"


Perempuan tersebut bicara cepat, mencoba menjajakan kalung tersebut di leher Flow secara perlahan.


Flow jelas bingung, dia berusaha menahan nafas nya dengan perasaan bercampur aduk menjadi satu, berpikir ini sebenarnya sangat berlebihan, baru tahu mereka bertemu karena semua orang akan membelikan cincin pernikahan untuk dia dan Arsen, bahkan juga berencana menjajalkan kalung untuk dirinya.


"Ini terlalu mahal kak"


Bisik Flow gugup.


"Bukan masalah sayang"


Perempuan itu berbisik sembari membenahi kalung tersebut di leher Flow.


"Dia terlihat cantik"


Bisik Perempuan itu lagi sembari membalikkan tubuh Flow menghadap kearah Arsen.


Seulas senyuman terlihat mengembang dibalik wajah Arsen.


"Terlihat cantik"


Laki-laki tersebut memberikan pujian yang terdengar begitu manis dan membuat flow berdebar-debar di buat ini, tatapan bola mata laki-laki itu Kepada dirinya membuat dia sedikit salah tingkah.


Ada apa dengan dirimu Flow?!.


Batin Flow gusar.


Lea terlihat berdiri di samping semua orang tersebut dengan perasaan gusar, dia mencoba membuang pandangannya saat seorang pelayan toko mengejutkan dirinya.


"Maafkan kami nona, sepertinya kalung pilihan anda telah di pilih oleh mereka"


Ucap sang pelayan toko Penuh penyesalan, seperti nya tahu bagaimana kegusaran yang terjadi pada perempuan muda dihadapan nya tersebut.


Ekspresi Lea menampakkan sebuah kegetiran dan kekecewaan, mereka pikir mungkin karena Lea benar-benar menyukai kalung nya.


"itu bukan masalah, aku akan mencoba Memilih yang lainnya"


Entahlah dia hanya merasa tiba-tiba merindukan kakak laki-laki, sangat merindukannya,  bahkan saking rindunya dia sama sekali tak bisa menjabarkan nya dengan kata-kata.


Para pelayan terlihat mencoba untuk membantunya mencarikan kaleng terbaik untuk perempuan tersebut, tapi mereka pikir sepertinya mereka gagal mencarikan kalung terbaik yang diinginkan oleh Lea, melihat bagaimana perempuan tersebut tiba-tiba turun.


Padahal realita ya bukan kalung yang membuatnya berubah dan juga gelisah, suara yang didengar seakan-akan memanggilnya tadi cukup mengganggu Lea, perempuan tersebut mencoba untuk menghela nafasnya, dia pikir saking rindunya dengan sang kakak Lea mulai berpikiran yang aneh-aneh dan sedikit berhalusinasi, bahkan telinganya malah mendengar suara yang sebenarnya tidak pernah ada untuk dirinya.


Fuhhhh.


Perempuan tersebut mengehela Pelan nafasnya.


Di balik perasaannya nya yang kacau balau juga kegelisahan yang menghantam dirinya, tiba-tiba sebuah panggilan muncul dari balik handphonenya yang ada dalam tas tangannya, buru-buru perempuan tersebut meraih handphone miliknya itu lantas mengangkat panggilannya.


"Halo ?"


Itu adalah Luck Stephard, laki-laki tersebut baru saja selesai dari urusannya, dia mencoba menanyakan keberadaan Lea dan berniat untuk menyusulnya.


"Aku ada dilantai atas di bagian toko perhiasan"


Ucap Lea pelan sembari bola matanya kembali melirik kearah satu paket lengkap keluarga yang dia lihat saat ini, rasa iri menyeruak masuk didalam hati nya saat dia melihat kebersamaan dan canda tawa keluarga yang ada disampingnya tersebut.


"Tidak, aku belum mendapatkan nya"


Sembari menjawab pertanyaan Luck bola mata perempuan tersebut tidak lepas dari barisan keluarga yang ada di hari Kamis tersebut.


"Iya kamu bisa membantuku untuk mencarinya Luck, aku akan menunggumu di sini"


Lea mendengar kan jawaban diseberang sana.


"Baiklah aku akan menunggu sembari mencari"


Setelah berkata begitu pada akhirnya perempuan itu menutup panggilannya, dia membuang tatapannya pada keluarga yang ada di sampingnya itu, ini perempuan tersebut mencoba fokus untuk mencari lalu yang lainnya yang mungkin dia sukai, sesekalinya dia menggigit bibir bawahnya dengan perasaan gelisah.


"Katakan pada ku mana yang terbaik di antara keduanya?"


Tiba-tiba satu suara mengejutkan dirinya, Lea langsung menoleh, cukup terkejut laki-laki tadi tahu-tahu bertanya ke arah dirinya dan memamerkan dua buah cincin di tangan kiri dan kanannya.


Tiga orang dari bagian keluarga laki-laki tersebut sudah bergeser menuju ke ujung sana, sedangkan laki-laki itu memilih sendiri mencari cincin yang Lea tadi pahami untuk apa tapi bisa dia tebak itu akan digunakan sebagai cincin tunangan atau pernikahan.


Arsen terlihat menampilkan wajah gelisah nya, Bertanya Kearah Lea sembari menunggu jawaban dari Perempuan muda tersebut.


Dia sebenarnya selain gelisah karena perihal lain, tidak tahu kenapa merasa sosok di hadapan tersebut membuat dia cukup berdebar-debar sejak pertama kali dia tanpa sengaja menangkap sosok perempuan tersebut ketika pertama kali dia masuk ke sana.


Dia tahu itu bukan cinta, tapi perasaan itu sama persis seperti Ketika dia mengingat sebuah nama beberapa waktu belakangan ini.


Mereka terlihat saling membeku, benarkah antara satu dengan yang lainnya dengan perasaan gelisah, cinta kini apa yang ada di pikiran mereka masing-masing tapi sepertinya perasaan mereka berdua tidak baik-baik saja.


Bola mata mereka mendapat sosok dari masing-masing diri, memperhatikan lawan yang ada dihadapan mereka dengan pandangan yang begitu sulit di artikan.


Arsen menatap Lea dengan seksama, mencoba menetralisir perasaan nya untuk waktu yang cukup lama.


Ada apa?.


Itu menjadi satu pertanyaan besar didalam hatinya, namun begitu dia membutuhkan satu jawaban dari perempuan dihadapan nya itu.


"Berikan pendapat terbaik mu, aku akan membelinya untuk calon istri ku"


Ucap Arsen pelan sembari terus menatap perempuan dihadapan nya tersebut.