
Rumah sakit xxxxxxxx
Manhattan
Pagi
Farhan sejak tadi terus menunggu dengan keadaan gelisah di depan ruangan operasi, kekhawatiran jelas menghantam dirinya, dia bahkan mengubah posisinya berkali-kali dari berdiri, duduk, jongkok, mondar-mandir, meraup kasar wajahnya, meremas rambut nya bahkan terkadang memukul dinding rumah sakit dimana dia berdiri.
Jangan pergi... jangan berani-berani nya meninggalkan aku, kamu punya banyak hutang penjelasan pada ku, tentang kamu, anak kita dan masa lalu.
Farhan bicara dalam hati sambil mencoba menahan tangisannya.
Laki-laki itu kini terduduk di lantai dengan posisi kedua kakinya didepan dan dua tangan nya bertangku di lutut nya.
Murat dan Bahrat hanya bisa duduk di kursi tunggu menatap Farhan, mereka tidak berani untuk ambil suara atau banyak bicara saat ini, sebab mereka tahu fikiran Farhan pasti tengah kalut.
Edo tampak duduk di samping Farhan, mencoba mendapat kan posisi yang sama sambil mencoba memberikan laki-laki itu minuman kaleng, membiarkan laki-laki itu mendinginkan kerongkongan nya yang bisa jadi mulai mengering.
Luck dan Lea ikut duduk di kursi tunggu, mereka tidak juga mengeluarkan suara mereka, bahkan Lea memilih diam membisu karena dia tahu bagaimana rasanya ketika dia menunggu sesuatu yang begitu menyesakkan di balik pintu ruang operasi.
Lea pernah mengalami nya, dimasa lalu saat Mommy nya kritis sebelum Daddy nya membohongi dirinya soal kematian Mommy nya, rasanya begitu menyesakkan. Dia duduk seorang diri di ruang tunggu sambil menatap ruangan operasi tanpa berani berkedip.
Tidak ada yang menemani, tidak ada Daddy nya atau kak Aries nya, bahkan Daddy nya melarang diri nya menghubungi uncle nya atau para kakak sepupu by untuk memberitahu kan soal kondisi Mommy nya.
Karena itu kebencian nya pada sang Daddy nya tertanam begitu dalam, bahkan saat Daddy nya terjerat kasus penipuan didalam keluarga Al Jaber Lea sama sekali tidak menangis atau merasa kasihan dengan Daddy nya, bahkan saat kak Aries nya meninggal pun dia sama sekali tidak merasa kehilangan.
Bagi nya dua sosok laki-laki yang seharusnya menjadi pelindung untuk dirinya itu benar-benar tidak pernah ada di dalam kehidupan nya. Sebab sejak kecil dia telah terbiasa di didik untuk hidup di dalam kesendirian.
Satu-satunya orang yang ada bersama nya kala itu, berlarian dengan keadaan panik, membentangkan tangan nya dengan lebar hanya 1 orang, kak Ramira nya.
"Jangan menangis, semua pasti baik-baik saja"
"Jadilah gadis yang kuat'
Dua pesan yang selalu di ucapkan perempuan itu untuk diri nya di masa lalu.
Dan Lucu nya Karena itu, begitu bertemu Luck Lea merasa mendapatkan sosok yang begitu dia inginkan sejak kecil, laki-laki itu bisa menjadi teman berdebat nya, kakak nya bahkan Daddy nya. Paket lengkap yang tidak pernah dia dapatkan dimasa kecil hingga Dewasa nya.
Sejenak Lea menoleh ke arah Luck, dia Tampak mengulumkan senyumannya, kemudian perempuan itu menggayun pelan kakinya.
"Uncle"
"Aku mau ke ruangan Kak Ramira"
Ucap Lea pelan.
Luck tampak menganggukkan kepalanya.
Sepersekian detik kemudian Lea melesat meninggalkan Luck sendirian di sana, dia berjalan melewati beberapa ruangan menuju ke salah satu ruangan dimana untie Ramira nya di rawat.
Begitu melihat ruangan yang di tuju, Lea langsung membuka pintu tersebut sambil mengintip.
Aihhhh?!
Ada kak Eden?!
Batin Lea.
Eden buru-buru meletakkan jari telunjuknya ke bibirnya, namun bukan nya paham dengan bahasa isyarat Eden, Lea malah buka suara.
"Kakak kenapa disini?"
Tanya Lea cepat.
Eden langsung membulat kan bola matanya saat Lea buka suara soal keberadaan nya.
Ramira dan Ailee Langsung spontan menoleh.
"Lea?"
"Siapa?"
"Kak Eden"
Ucap Lea lagi.
"Ya?"
Oh shi.t umpat Eden sambil melotot kearah Lea.
Kau...ingin sekali ku jewer telinga mu sekarang...leaaa.....