
Masih dengan perasaan bingung laki-laki tersebut mengerutkan keningnya kemudian bertanya.
"Kamu bilang apa?"
Ekspresi wajah Arsen sedikit berubah.
"menemui Arsen Patlers Paterson?"
dia berusaha untuk meyakinkan pendengarannya karena itu menggunakan nama lengkap arsen di hadapan istrinya.
Ramira langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"tentu saja aku akan menemuinya aku sudah bilang pada tante dan juga pada Vivian, aku akan mengunjungi arsen karena kabarnya dia mengalami kecelakaan?"
sembari menampilkan ekspresi wajah tanpa dosa perempuan itu melepaskan pelukannya dari Eden, dia kemudian membiarkan tangan Eden merangkul dirinya dan bergerak menuju ke arah dalam.
"Sayang aku.... maksud ku kau membuatku cukup bingung?"
laki-laki itulah bicara sedikit tidak beraturan bergerak mengikuti langkah istrinya sembari bertanya masih sambil terus mengerutkan keningnya.
"katakan pada semuanya jangan bergerak dan biarkan aku yang mengurus semuanya"
Ramira bicara dengan cepat sembari mengembangkan senyumannya.
Eden jelas masih bingung dengan apa yang diucapkan istrinya, dia pikir bagaimana bisa rame-rama mengenal keluarga Patlers Peterson, bagaimana caranya istrinya mendapatkan akses modal untuk menemui Arsen saat ini.
meskipun masih diliputi kebingungan dia juga masih belum yakinkan diri jika istrinya benar-benar bisa masuk untuk berkunjung nantinya ke ruangan rawat inap Arsen, mengingat dirinya saja sulit untuk masuk ke sana karena penjagaan ketat yang dilakukan oleh Vivian.
bahkan Vivian sama sekali tidak mau mengakui jika arsen adalah Aries dari keluarga All Jaber.
dia pada akhirnya memilih untuk dia dan mengikuti langkah istrinya.
"kamu tahu di mana kamarnya sayang?"
Eden menganggukan kepalanya dengan cepat berkata jika dia jelas saja mengetahui di mana kamar rawat inap laki-laki tersebut.
tiba-tiba saja istrinya menghentikan gerakan jalan nya, perempuan itu berbalik dengan cepat hingga membuat Eden seketika secara refleks ikut menghentikan gerakannya dan menatap ke arah istrinya.
"Antarkan aku ke sana dan mari mengunjungi nya, tapi berjanjilah padaku kamu tidak membahasnya lebih dulu pada Arsen soal jati dirinya"
tiba-tiba saja Ramira bicara seperti itu kepada dirinya, mobil listrik bola mata Eden untuk beberapa waktu dan meminta Eden agar tidak bergerak gegabah.
laki-laki itu menganggukkan kepalanya secara perlahan, Eden pikir selalu saja istrinya berada di luar ekspektasi dirinya, Ramira sejak dulu selalu saja berada di luar pemikiran nya, membuat dia terkejut dengan banyak hal yang tidak terduga.
"Mari lakukan semuanya secara perlahan, jangan bergerak tergesa-gesa dan nikmati proses ini, kamu tahu sayang? Yang kita hadapi tidak mudah, dan lagi kita tidak bisa memaksa Arsen untuk mengingat masa lalu, dia juga butuh waktu untuk bisa kembali mengingat tentang jati dirinya yang sesungguhnya"
istrinya berkata dengan cepat sembari menyentuh dada Eden secara perlahan.
"aku akan membantu semua orang untuk masuk ke dalam membuat kalian terhubung pada Arsen, tapi seperti kata ku tadi bergeraklah dengan hati-hati, kalian menginginkan Aries, dan Vivian membutuhkan Arsen, aku menjadikan diriku pintu penghubung dan mari tidak membicarakan jati diri masing-masing hingga pada titik temu akan terjadi pada semua orang"
setelah berkata seperti itu ramira mengembangkan senyumannya, dia kemudian menghangatkan nafasnya lantas menggenggam erat lengan suaminya.
sepersekian detik kemudian mereka kembali berjalan menuju ke arah depan di mana Eden tidak menyahut sama sekali apa yang diucapkan istrinya, masih dalam keadaan bingung dia mengikuti langkah perempuan tersebut.
hingga pada akhirnya mereka tiba di depan pintu di mana Arsen dirawat, dan seperti apa yang tidak pernah dia bayangkan kedua pengawalnya menjaga Arsa menunjukkan kepalanya pada Ramira.
"Nona muda?'
seolah-olah mereka mengenal betul siapa Ramira, membiarkan diri mereka menundukkan kepala mereka ke hadapan istrinya kemudian secara perlahan salah satu dari mereka membukakan pintu di mana Arsen Patlers Paterson dirawat.
Dan melihat keadaan tersebut seketika membuat Eden menelan salivanya, menatap istrinya dengan tatapan tidak percaya.
Oh my god.