Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Tertidur lelap tanpa kenangan



Apartemen utama Farhan


Manhattan


09.39 AM


Liliana tampak berusaha membuka bola matanya ketika dia merasa sinar matahari mulai menerpa wajah nya, ini hari ke 3 dia berada di apartemen Farhan setelah proses panjang dia di rawat inap di rumah sakit dalam waktu yang begitu lama.


Jika Ingat soal kemarin, rasanya cukup tidak percaya jika dia bisa pulang secepat ini, sebab cidera yang dia alami cukup parah, bahkan untuk bangun pun rasa nya sulit sekali.


Untung nya Farhan terus setia menemani nya, membantu nya melewati masa sulit yang luar biasa, tidak sekalipun melepaskan genggaman tangan nya selama masa penyembuhan dirinya di rumah sakit.


Dan setelah melewati perjuangan panjang akhirnya Dokter benar-benar mengizinkan dirinya pulang, Tapi meskipun sudah bisa pulang, dokter tetap memperingati mereka agar Liliana tidak dulu bekerja, membiarkan Liliana menikmati waktu istirahat nya dengan sebaik-baiknya.


"Sudah bangun hmmm?"


Tiba-tiba Farhan masuk dari arah pintu kamar depan, membawa nampan berisi makanan dan minuman, berjalan mendekati Liliana, meletakkan nampan tersebut ke atas nakas lantas membantu Liliana untuk duduk dari posisi nya.


Perempuan itu sama sekali tidak menjawab, hanya fokus pada cara Farhan memperlakukan dirinya.


"Masih terasa sakit?"


Tanya laki-laki itu setelah membenahi posisi Liliana, memberikan sandaran bantal agar Liliana mendapatkan kenyamanan nya.


Liliana menggelengkan kepalanya secara perlahan.


Melihat ekspresi Liliana, Farhan tampak melebarkan senyumannya.


"Oke kita akan menghabiskan sarapan paginya bersama"


Ucap laki-laki itu lantas mulai meraih piring makan yang ada di atas nakas, dia mulai menyuapi Liliana dengan menu sarapan pagi yang dia sediakan.


Sejenak Farhan menatap dalam bola mata Liliana, dia sebenarnya sejak awal dipertemukan kembali Dengan Liliana ingin sekali menanyakan perihal anak mereka, dimana informasi yang Farhan dapatkan jika dimasa lalu Liliana pernah mengandung anak mereka lalu digugurkan paksa oleh Brenda.


Dia ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya, dimana mereka menempatkan anak mereka, apa gang terjadi pada Liliana, apakah perempuan itu baik-baik saja kala itu, apakah rahimnya juga baik-baik saja.


Banyak sekali pertanyaan yang ingin dia ajukan namun tidak berani Farhan tanyakan saat ini, dia tahu Liliana berada didalam masa Sulit nya, membuka luka lama sama saja membuat ingatan soal hal buruk dimasa lalu dan menciptakan tekanan di hati Liliana.


Karena itu Farhan terus menahan pertanyaan itu hingga sekarang, dia berusaha menjaga perasaan Liliana sebisa mungkin.


"Kak Ramira kapan pulang?"


Tanya Liliana tiba-tiba sesaat setelah perempuan itu menelan sisa makanan suapan terakhir Farhan.


Jawab Farhan sambil meletakkan piring makanan yang ada di tangan nya itu ke atas meja nakas.


"Apa kakak baik-baik saja?"


Tanya Liliana lagi.


Farhan langsung mengangguk kan kepala.


"Kamu ingin menghubungi dirinya? aku akan coba sambungkan Vidio panggilan dengan dia"


Ucap farhan cepat, laki-laki itu bergerak memunggungi Liliana, dia mencoba meraih handphone miliknya yang tergeletak di tepian kasur.


Saat baru saja dia akan membuka lock handphone nya, tiba-tiba Liliana memeluk nya dari belakang.


"Terima kasih banyak atas kebaikan kamu selama ini pada ku"


Ucap Liliana pelan, memeluk erat punggung Farhan sambil memejamkan bola matanya.


Sejenak Farhan menatap kedua tangan Liliana yang masuk dari arah bawah pinggang nya dan menggenggam erat dadanya.


Sejenak Farhan memejamkan bola mata nya, dia menggenggam erat tangan tersebut sambil berkata.


"Maafkan aku karena mengabaikan mu untuk waktu yang begitu lama"


Ucap nya begitu pelan.


"Maafkan aku karena tidak tahu soal kamu dan anak kita sama sekali"


Lanjut Farhan lagi.


Sejenak tercipta keheningan di antara mereka, hingga akhirnya Liliana berkata.


"Dia ada di GREEN-WOOD CEMETERY, tertidur lelap begitu lama tanpa memiliki kenangan"


Setelah berkata begitu, terdengar Isak tangisan Liliana dibalik punggung Farhan.


Seketika Farhan ikut meneteskan air matanya.


"Maafkan aku, maafkan aku"


Ucap Farhan dengan jutaan penyesalan nya.