
Mansion utama
Keluarga Petlers Peterson
jelang jamuan makan malam.
Flow terlihat menggigit bibir bawahnya ketika dia melihat bangunan mewah yang ada di hadapannya, dia dan Arsen baru saja tiba di Mansion utama orang tua laki-laki tersebut, begitu mesin mobil dimatikan sejenak flow menelan salivanya, sejujurnya dia merasa tahu diri sebenarnya dia tidak pantas berada di tempat ini.
Dia hanya orang yang berasal dari kalangan kasta bawah, namun dia sama sekali tidak bisa protes karena keadaan.
Gadis itu baru akan membuka safety belt nya, namun tiba-tiba dengan gerakan refleks Arsen membantu dirinya untuk melepaskan safety belt nya.
Eh?!.
Seketika wajah flow memerah.
"Bersikaplah biasa-biasa saja"
Ucap Arsen pelan sembari melepaskan safety belt nya, Laki-laki tersebut sejenak menatap bola mata Flow.
"Daddy ku laki-laki yang tidak gampang akrab dengan siapapun, ucapan yang terkadang cukup tajam dan menyakiti perasaan orang, cukup jauh berbeda dengan mommy ku yang memiliki tipe humble dan gampang akrab dengan seseorang"
Setelah berkata begitu Arsen membenahi posisi nya.
"Apapun yang di ucapkan daddy ku jangan terlalu di ambil hati nantinya, kemungkinan besar dia kurang menyukai kamu karena Kamu jelas bukan type menantu pilihan nya"
Mendengar ucapan Arsen, Flow terlihat diam, dia menatap laki-laki yang ada disampingnya tersebut sejenak.
"Jangan khawatir soal apapun, aku tidak akan meninggalkan mu hmmm"
Setelah berkata begitu, Arsen terlihat mengembang kan senyuman nya, dia Perlahan turun dari mobilnya kemudian memilih memutar arah dan membantu untuk membuka pintu mobil dimana Flow berada.
Begitu Arsen membuka pintu mobil tersebut secara perlahan Flow turun dari sana, di mana kakinya turun dan berpijak pada lantai, bola matanya menatap ke arah depan di mana di ujung sana terdapat pintu depan mansion yang begitu mewah di mana beberapa orang terlihat menundukkan kepala mereka menyambut kehadiran mereka berdua.
Pelayan atau orang-orang yang bekerja di rumah mereka selalu menundukkan kepala mereka dan memberikan tanda hormat dan juga rasa patung mereka pada sang tuan.
Ketika arsen menggenggam erat telapak tangannya, seketika gadis itu terkejut dan membulatkan bola matanya, dia langsung menoleh ke arah laki-laki yang ada di sisi kanannya tersebut dengan perasaan cukup terkejut ketika dia sadar arsen menggenggam erat telapak tangannya dan bisa dilihat laki-laki itu mengembangkan senyumannya.
Jangan ditanya bagaimana senyuman laki-laki itu, terlalu indah dan juga sangat sulit untuk dilupakan oleh gadis-gadis sekelas dirinya, Flow sadar mereka bagaikan air dan minyak bahkan juga bagaikan langit dan bumi di mana dia melupakan seorang gadis yang bukan apa-apa secara kebetulan bertemu dengan laki-laki yang ada di sampingnya itu gimana mereka memiliki kehidupan yang jelas sangat jauh berbeda.
Meskipun tidak dia pungkiri hatinya bergemuruh jantungnya berdetak dengan sangat kencang ketika dia melihat senyuman yang diberikan oleh Arsen, tapi gadis itu berusaha untuk menepisnya dan membuang pandangannya.
Pada akhirnya mereka secara perlahan melangkahkan kaki mereka menaiki satu persatu tangga menuju ke arah gerbang pintu masuk Mansion tersebut, di mana barisan para pelayan telah menunjukkan kepala mereka ke hadapan mereka.
Detak jantung Flow kembali berdetak tidak beraturan dan sangat kencang di mana dia bisa melihat betapa megah dan mewahnya tempat tinggal yang dia masuki saat ini, bagaikan seorang Cinderella dia bergerak masuk menuju ke dalam istana sang pangeran nya.
Di ujung sana bisa gadis itu lihat, beberapa orang tanpa telah menunggu mereka di atas sebuah meja makan berukuran besar di mana kursi-kursi yang tercetak begitu indah dengan warna mendominasi warna emas mengelilingi meja tersebut, orang-orang itu menunggu dirinya dan Arsen dengan tidak sabaran.
"Kau sudah datang, son?"
Seorang laki-laki paruh baya lebih bicara sembari bertanya ke arah Arsen melihat wajahnya Lo pikir itu mungkin adalah daddy Arsen, persis seperti apa yang diucapkan oleh arsen sendiri bisa dilihat laki-laki tersebut menatap dirinya dengan tajam dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya untuk beberapa waktu dengan tatapan kurang bersahabat dan juga sedikit kurang menyukai dirinya seolah-olah laki-laki tua itu beranggapan dia sebenarnya tidak layak hadir di sana.
"Yah daddy bisa melihat nya"
Arsen menjawab dengan cepat masih dengan menggenggam telapak tangan flow laki-laki tersebut membawa dirinya menuju ke arah salah satu kursi yang letaknya tidak begitu jauh dari laki-laki tua tersebut di mana di samping kursinya terdapat mommy Arsen yang telah mengembangkan senyumnya sejak tadi.
"Pada akhirnya calon menantuku tiba juga"
Wanita tua itu berdiri dari posisinya dia menunggu flow masuk ke dalam pelukannya den mencium kedua belah pipinya.
"Jangan khawatir soal apapun, kau tahu sayang? ada diriku dan juga Arsen di sini"
Bisik wanita itu kemudian di balik telinga nya.
Flow terlihat diam, meskipun tidak dipungkiri dia cukup khawatir dengan keadaan dia saat ini.