Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Kebahagiaan anak sejatinya kebahagiaan seorang ibu



Ramira tampak bersandar di pintu kamarnya, seketika air matanya tumpah, dengan perlahan tubuhnya merosot ke bawah.


kata-kata nya tadi begitu mengerikan.


"Aku bahkan tidur dengan Murat juga dengan Farhan, apa kamu fikir hubungan kita dilandasi atas dasar cinta? tidak Eden, tidak ada, kita hanya terbiasa saling menggantung kan diri antara satu dengan yang lain nya, kita sama-sama terbiasa bersama,hingga berfikir jika kita saling jatuh cinta"


Realita nya dia tidak pernah tidur dengan Murat, bahkan Farhan jangankan meniduri nya, mencium nya pun tidak pernah.


Satu-satunya orang yang menjamah tubuh nya dari ujung kaki hingga ke ujung kepala hanya Eden, tidak ada orang lain.


Kau tahu sayang? Betapa Sulit untuk ku mengontrol perasaan ku? Ada janji ku dengan valentine soal kamu yang tidak bisa aku distai.


Dan kamu tahu alasan terakhir Kenapa aku terpaksa semakin menghindari mu?.


Mommy Asha pernah mendatangi ku.


*******


Dimasa kemarin.


Mommy Asha, Wanita paruh baya lebih itu mengajak nya bertemu di sebuah kafe di pusat kota Jakarta, menunggu Ramira dengan tatapan yang Sulit dijelaskan.


Wajah pucat pasi itu menatap wajah Ramira begitu dalam, bola matanya tampak berkaca-kaca, dia menggenggam erat telapak tangan Ramira.


"Kau tahu nak? putri ku bukan type anak yang menuntut banyak hal, tiap kali menginginkan sesuatu dia hanya memendam nya didalam hati, ketika dia tidak suka dengan sesuatu dia juga akan diam dan memendam nya didalam hati"


Ucap Mommy Asha dengan suara bergetar.


"Dia tidak menyukai pertunangan yang di berikan Daddy nya, meskipun dia bilang baiklah, sebagai seorang ibu aku tahu apa yang sebenarnya dia inginkan"


"Dia tidak pernah mencintai seseorang melebihi cintanya pada Eden, hampir 10 tahun jatuh cinta pada laki-laki itu dan menunggu Eden jelas bukan waktu yang mudah untuk nya"


"Sejak pertunangan nya dilakukan dengan laki-laki pilihan papanya terjadi, aku kehilangan senyuman di wajah nya, sebagai seorang ibu aku merasa gagal membahagiakan diri nya"


Ucap wanita itu lagi sambil terus menggenggam erat tangan Ramira.


"Saat kamu menjadi seorang ibu, kamu akan tahu bagaimana perasaan ku, rasanya begitu menyakitkan saat melihat anak-anak mu menangis didalam diam dan kamu gagal membahagiakan mereka"


Ramira tampak diam, dia menggigit bibir bawahnya.


"Satu-satunya orang yang terus Eden tatap adalah diri mu, aku bisa melihat bagaimana bola mata itu menatap kamu,Tiap kali Eden bersama Asha satu-satunya perempuan yang dia bicarakan adalah kamu"


Ramira tidak bergeming, dia mencoba menahan tubuhnya yang gemetaran.


Tiba-tiba Mommy Asha berdiri lantas duduk dihadapan Ramira.


"Anggaplah aku sedang memohon dan mengemis pada mu, Ramira"


Ucap wanita itu sambil menangis terisak, dia menggenggam erat ujung kaki Ramira.


"Aku mohon lepaskan Eden dan biarkan dia pergi bersama Asha, aku mohon pada mu nak, jika kamu meminta aku membayar nya maka aku akan melakukan nya, aku akan membayar berapapun yang kami minta"


"Untie.."


Suara Ramira jelas tercekat, dia menelan kasar Saliva nya, tubuhnya tampak bergetar hebat.


"Aku mohon lepaskan Eden untuk Asha"


Dada gadis itu berguncang, dia terus berusaha menahan tangisannya.


"Jangan seperti ini untie.."


Ucap Ramira sambil berusaha mengangkat tubuh wanita paruh baya lebih itu.


"Aku mohon pada mu nak, sekali ini saja lepaskan Eden untuk Asha,bahkan jika kamu meminta aku membayar nya dengan nyawa ku maka akan aku lakukan, asalkan kamu mau melepas kan Eden untuk Asha".


Seketika air mata Ramira tumpah, dia menahan isakan nya tanpa suara.


********


Kembali ke masa kini.


Eden terus berusaha mengetuk pintu kamarnya, meminta maaf sejak tadi berkali-kali.


"Sayang...buka pintu nya, aku mohon"


"Ramira"


"Aku mohon buka pintu nya"


Ramira meringkuk dibalik pintu nya, dia menangis dalam diam tanpa suara, menahan mulutnya dengan kedua telapak tangan nya.


Kau akan mengerti ketika kamu menjadi seorang ibu.


Mom....jika Mommy masih hidup, Mommy juga pasti akan menangis dan mengemis untuk kebahagiaan ku bukan?.