
Mansion utama Murat Al Jaber
03.20 dini Hari.
"Sayang"
Tiba-tiba Aishe terbangun dari tidur lelapnya, rasa tidak nyaman menghantam perutnya tiba-tiba, tidak tahu kenapa tapi rasanya seolah-olah ini waktu lahiran dirinya.
Sesuatu terasa merembas di kasur mereka.
"Ada apa hmm?"
Murat langsung bangun dari tidur nya, dia memang harus siaga satu mengingat prediksi dokter yang mengatakan bisa jadi waktu lahiran sang istri akhir bulan ini, tapi kadang kala prediksi dokter bisa jadi meleset, mungkin maju atau bahkan mundur tanpa di duga.
"Aku fikir ketuban nya sudah pecah"
Ucap Aishe sambil menggenggam erat tangan Murat.
"Oh god"
Secepat kilat Murat bangun, meraih kunci mobil dan menarik kain manapun serta tas yang telah dipersiapkan dari Minggu kemarin dimana tas tersebut berisi kelengkapan untuk Aishe dan calon baby mereka.
Laki-laki itu langsung berteriak kepada para pelayan agar langsung masuk ke siaga satu, membantu nya membawa barang-barang sedangkan dirinya Langsung menggendong Aishe menuju ke arah garasi.
"Apakah sakit?"
Murat bertanya sambil menggendong Aishe keluar dari kamar mereka, rasa panik dan khawatir menghantam dirinya saat ini.
"Cukup sakit"
Ucap Aishe sambil memeluk erat tubuh Murat.
"Aku sudah menghubungi semua orang, mereka menunggu kita di rumah sakit, jangan khawatir soal apapun hmm"
Ucap Murat lantas seorang pelayan tampak dengan sigap membuka pintu mobil mereka, secepat kilat Murat meletakkan tubuh Aishe dengan begitu hati-hati kedalam mobil lantas Murat memutar arah, naik ke atas kursi kemudi"
"Hubungi Aland dan keluarga Al Jaber lainnya"
Ucap Murat pada sang pelayan.
"Tarik nafas dan buang, kita akan tiba tepat pada waktu nya"
Ucap laki-laki itu sambil melajukan mobilnya, satu tangannya menggenggam dan meremas telapak tangan Aishe dengan jutaan cinta.
*******
Disisi lain
Begitu mendapatkan kabar soal Aishe yang akan melahirkan, Aland tampak panik harus melakukan apa.
Nyonya burja buru-buru bangun dari tidur nya saat mendapatkan berita yang sama,dia langsung berlarian ke arah kamar Ailee dan Aland, mengetuk pintu secara perlahan.
Aland tampak menyembulkan kepalanya.
"Aishee berada di rumah sakit xxxxxxx, dia sudah masuk ke masa persalinan.
"Ucap nyonya Burja cepat"
"Aku fikir Grandma sebaiknya bersama Ailee, ada bik Sumi juga di sini, biar aku yang melihat Ailee"
"Apa itu tidak masalah?"
"Murat akan memaklumi nya, Ailee belum melewati masa 40 hari nya, sebaiknya memang tidak kemana-mana lebih dulu"
Setelah berkata begitu Aland mundur kebelakang, mencium lembut pipi Ailee yang masih terlelap kemudian mencium bayi mungil mereka, lantas Aland mencium kening nyonya Burja.
"Aku titip mereka"
"Hmm"
Nyonya burja langsung mengangguk cepat.
Dengan gerakan lincah Aland langsung melesat turun ke lantai bawah, mendekati Bagasi mobil dan mulai masuk kesana lantas menyalakan mesin nya dengan cepat, setelah itu laki-laki itu secepat kilat melesat keluar dari sana menuju ke rumah sakit xxxxxxx dimana Aishe di rawat.
Dia Fikir ini kali kedua dia merasakan betapa paniknya menghadapi orang yang akan melahirkan.
Dia berharap sang adik mampu melewati waktu dengan baik tanpa halangan sedikit pun, dia berharap tidak ada satu keburukan lagi yang menerpa keluarga mereka, dia berharap Aishe baik-baik saja dan melahirkan baby mungil nya dengan proses normal dan tidak menyiksa.