Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Membuka lembaran baru



4 hari sebelum keberangkatan Eden


Villa utama Keluarga besar Hurairah


Manhattan


Daddy Ramira tampak fokus dengan gambar dihadapan nya untuk beberapa waktu, kemudian dia melepaskan kaca mata secara perlahan.


"Aku fikir Ramira tidak suka dekorasi warna pink? aku ini Daddy yang payah, lupa dengan selera putri sendiri"


Tuan Ibrahim bicara sambil menatap ke arah Eden beberapa waktu, lantas menoleh ke arah Daddy nya tuan Ghanem.


"Eden paling tahu selera Ramira, biarkan dia yang memutus kan dekorasi pernikahan nya"


Ucap kakek tua Ghanem sambil melirik ke arah Eden, dia menepuk-nepuk punggung laki-laki itu untuk beberapa waktu.


2 hari ini seluruh keluarga Hurairah terlalu disibukkan untuk urusan pernikahan Eden dan Ramira, awal nya Eden takut Ramira tidak Setuju nantinya, mengingat perempuan itu mencoba lari menjauh dari nya, tapi dukungan keluarga besar Hurairah atas hubungan mereka membuat laki-laki itu menyakinkan diri untuk membawa perempuan itu kembali.


"kau tahu nak? perempuan itu kadang membingungkan, dia bilang tidak cinta padahal dia cinta, dia bilang tidak mau padahal dia mau"


Kakek tua Ghanem bicara sambil melirik ke arah istrinya.


"Mereka makhluk paling repot jalan pemikiran nya, menangis sendiri, marah sendiri, lari sendiri, datang sendiri. Saat marah sebenarnya ingin dibujuk, saat bilang tidak dia ingin kita membuatnya berkata iya, saat dia bilang pergilah sebenarnya dia minta kita mengejar nya, saat dia bilang tidak apa-apa sebenarnya dia butuh kita merangkul nya"


Ucap laki-laki itu lagi sambil mengulum senyuman nya.


Grandma violet tampak menggelengkan kepalanya di ujung sana, wanita tua itu sibuk mencari model undangan bersama mama Eden dan Mommy Ramira.


"Kau harus bisa membaca situasi, memainkan hati mereka tapi bukan berarti harus membuat mereka terluka, turuti Apa kata mereka tapi bukan berarti melepaskan nya, mereka itu type egois yang sebenarnya begitu lemah dan rapuh, hanya laki-laki bodoh juga keras kepala yang mau meladeni sifat perempuan, tapi jika laki-laki pandai mereka akan menyampan mengikuti derasnya arus tanpa melepaskan genggaman mereka dalam melangkah"


Mendengar ucapan kakek tua Ghanem, grandma Violet langsung melirik, dia melotot ke arah sang suami.


"Malu-malu kucing, mungkin begitu lah sebenarnya sifat perempuan"


Setelah berkata begitu laki-laki tua itu terkekeh pelan diikuti semua orang.


Eden terlihat mengulum senyuman nya, laki-laki itu mengangguk kan kepalanya, dia fikir mungkin kakek Ghanem benar, hanya saja selama ini Eden yang bodoh karena tidak menyadari nya.


"Jadi kapan kamu akan ke zurich switzerland?"


Daddy Ramira bertanya cepat.


"Aku menunggu beberapa hari lagi hingga kondisi Ailee lebih fit, dan aku harus bertemu Asha untuk meminta maaf soal banyak hal di masa kemarin"


Daddy Ramira tampak tersenyum.


"Selesaikan semua nya hingga tuntas, setelah itu temui Ramira dan yakinkan hati nya, kami disini akan menunggu kabar baik nya, jika sudah yakin kita tinggal menentukan tanggal pernikahan kalian, semua persiapan akan selesai dalam beberapa waktu"


Ucap Daddy Ramira lagi.


"He em"


Eden mengangguk kan kepalanya dengan mantap.


Hati nya kali ini jauh lebih tenang, dia akan menemui Asha seperti permintaan gadis itu kemarin, kemudian melepaskan segala nya disini tanpa menoleh lagi kebelakang, selanjutnya dia akan pergi ke zurich switzerland, Swiss. Menemui pemilik hati nua yang sesungguhnya dan sang buah hati tercinta.


Tunggu Daddy disana, kita akan melewati banyak masa indah setelah jutaan luka yang menghantam tanpa sisa, dan kita akan membuka lembaran baru serta melupakan masa lalu bersama.