Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Keputusan Tuan zuu



"Kamu kenapa disini?"


Mommy Emir jelas bertanya dengan perasaan terkejut, anak itu baru saja dibicarakan tahu-tahu malah muncul di antara semua orang.


"Melihat kak Ramira"


Ucap Mina cepat sambil menoleh ke arah Ramira, melepas kan pelukan nya dari Mommy Emir secara perlahan.


Perempuan yang di maksud tampak melebarkan senyumannya, membentang tangan nya dengan cepat agar mina masuk ke dalam pelukan nya.


Jelas saja Mina langsung melesat masuk ke dalam pelukan Ramira tanpa banyak bicara.


"Perjalanan dengan kapal pesiar nya lancar?"


Tanya Ramira cepat.


Seketika Keluarga Azzura menoleh ke arah Ramira.


"Kapal pesiar?"


Mommy Emir mengerutkan keningnya.


"Mina juga pergi?"


Seketika semua orang menoleh ke arah Emir.


"Bukankah itu ulang tahun Zumra mommy? tentu saja aku pergi"


Ucap Mina cepat.


Ah iya.


Wanita itu merasa isi kepala nya seketika bleng begitu saja saat ini, kebingungan jelas menyeruak di dirinya saat ini.


Mina gadis yang di sukai putra bungsu nya Ergin, tapi sang putra bungsu beberapa kali mencoba tapi selalu gagal mendapatkan gadis itu, kini bagaimana bisa putra sulung nya juga menyukai gadis itu, sedang kan si bungsu masih memikirkan cara untuk meluluhkan hati Mina.


Sejenak wanita itu memijat perlahan kepalanya.


"Kamu kenal Ramira?"


Mommy Emir bertanya cepat ke arah Mina.


"Tentu saja, bahkan sangat kenal dengan baik, saat masih sekolah di Indonesia kami sering juga menghabiskan waktu bersama"


"Ah.."


Wanita itu mengangguk kan cepat kepalanya.


"Kamu kenal dengan Emir?"


Kali ini Farhan lah yang bertanya dengan tidak sabaran, laki-laki itu seketika menjadi begitu penasaran dengan hubungan adik bungsu nya itu.


Dia seolah-olah kecolongan sesuatu.


"Tentu saja, kak Emir orang yang begitu baik, hmmm dia pemain piano yang baik, penyanyi yang baik dan juga pe dansa yang baik"


Ucap Mina sambil mengembangkan senyuman nya.


"Ya?"


Mommy Emir lagi-lagi membulatkan bola matanya.


"Kalian berkolaborasi?"


"Hmm Mommy"


Setelah berkata begitu Mina langsung menoleh ke arah Ramira.


"Mereka bilang kakak terluka? apakah benar?"


Saat Mina mulai mengalihkan pandangannya pada Ramira, Anggota keluarga Azzura jelas saling menoleh.


Sejak kapan Emir begitu akrab dengan seorang gadis?.


Emir jelas type yang sulit mendekatkan diri pada perempuan, laki-laki itu begitu dingin dan canggung, bukan type orang yang begitu gampang melirik perempuan, bahkan bisa di bilang Emir tidak begitu tertarik pada perempuan apalagi sampai harus berkolaborasi segala macam.


Seumur hidup nya menjadi ibu, dia tahu betul satu-satunya perempuan yang Emir sukai hanya Ramira, Emir bahkan pernah meminta suami nya untuk melamar Ramira, tapi kala itu daddy Ramira sudah terlanjur lebih dulu menerima pinangan keluarga Al Jaber.


"Bagaimana menurut mu Emir?"


Tiba-tiba tuan zuu bertanya pada mina soal cucu nya itu.


Mina menoleh sejenak.


"Ya?"


"Bagaimana menurut mu soal Emir?"


Ulang laki-laki itu lagi.


Mina tampak berfikir.


"Kak Emir type laki-laki yang ramah"


Ucap Mina sambil mengembangkan senyuman nya.


"Kamu suka dengan nya?"


"Ya?"


"Maksud kakek, antara Emir dan egin mana yang membuat mu merasa lebih nyaman?"


"Tentu saja kak Emir, hmmm mereka cukup berbanding terbalik menurut ku"


Ucap gadis itu sambil mengulumkan senyuman nya.


"Nyaman ketika mengobrol dengan nya?"


"Tentu saja"


"Jika kalian bersama apa kamu merasa canggung?"


"Tidak"


"Seandainya disuruh memilih, antara Emir dan ergin mana yang paling kamu sukai?"


"Kak Emir tentu saja"


Mina menjawab sambil mengerutkan keningnya.


Merasa aneh saat dia seolah-olah diinterogasi saat ini.


"Itu bagus, sebaiknya kita atur pernikahan untuk kalian"


Ucap laki-laki itu cepat


"Aku fikir kita tidak harus melepaskan kesempatan, Emir sudah terlalu matang, menundanya lebih lama lagi jelas akan menjadi hal yang buruk, apalagi Mina juga sudah cukup dewasa"


Lanjut nya lagi.


"Ya?"


Seketika Mina membulat bola matanya.


Tunggu dulu, menikah?, kan bukan begitu maksud nya.


Pekik Mina dalam hati.


"Kakek itu..."


Emir ikut terkejut.


"Kita akan menemui keluarga Stephard besok pagi"


Farhan Seketika menganga, jantung nya saat ini benar-benar terasa ingin lepas dari cangkangnya.


What?? ini gila.


"Kakek.. bukan begitu maksud nya"


Mina jelas gelagapan.