
Saat Ramira mendekati Daddy Edo, seketika bola Eden menatap dalam wajah Ramira, perempuan itu sama sekali tidak ingin menoleh ke arah nya, Eden secara perlahan berdiri lantas berusaha beranjak dari hadapan Daddy Edo.
Tangan nya masih sempat saling bergesekan dengan lembut ke telapak tangan Ramira, sejenak laki-laki itu memejamkan bola mata nya sambil melewati gadis itu.
Ramira bisa merasakan sentuhan yang diberikan Eden, begitu lembut penuh cinta, ingin sekali dia berkata betapa dia merindukan laki-laki itu, tapi dia berusaha menahan perasaan nya, dia berusaha untuk tidak bergeming, membiarkan Eden terus bergerak menjauhi dirinya.
"Dad"
Beberapa waktu kemudian secara perlahan Ramira duduk disamping Daddy Edo, perempuan itu menggenggam erat telapak tangan Daddy Edo sambil menatap wajah tua itu untuk beberapa waktu.
"Ini membuat Daddy kecewa"
Laki-laki itu Seketika membuka suaranya.
Ramira tampak tersenyum kecil, terus menggenggam erat tangan laki-laki itu, wajah yang dipenuhi keriput itu tampak menggeleng kan kepala nya, jutaan kekecewaan jelas menghantam diri nya.
"Daddy tahu?Kita tidak bisa memilih dilahirkan di keluarga mana, namun kita bisa memilih bagaimana kita bisa menebarkan cinta di dalamnya.”
Ucap Ramira pelan.
"Kak Atifa tak bisa memilih dilahirkan dari rahim ibu yang mana, juga berayah siapa. Namun ketika Tuhan mengizinkan kita menjadi orangtua,kita harus memilih dan memutuskan untuk menjadi orangtua terbaik yang kita bisa, Lalu bersyukurlah.
"Karena setiap orang adalah anak, namun tidak semua adalah orangtua."
Perempuan itu bicara dengan selembut mungkin, mencoba untuk memberikan sedikit kata-kata yang mungkin bisa menjadi obat kemarahan Daddy Edo.
"Edo pun tak bisa memilih dilahirkan dari rahim ibu yang mana, tapi realita nya dia lahir dari Mommy Laila"
"Secara garis besar mereka bersaudara namun bukan lahir dari rahim yang sama, terbiasa bersama sejak kecil menjadi saudara, berhubungan baik bahkan benar-benar menjadi kakak dan adik"
"Lalu setelah menikah kak Atifa memiliki kehidupan nya sendiri, melahirkan anak yang juga tidak bisa memilih dari mana dua dilahirkan"
Daddy Edo tampak diam, dia menatap balik bola mata Ramira.
"Tapi realita nya Atifa putri kami, Edo putra kami dan Vio..cucu kami, bagaimana mungkin mereka....uncle dan keponakan nya... bisa?"
Laki-laki itu bicara tersendat-sendat.
Ramira mengangguk kan cepat kepalanya.
"Dan ..Kita tidak dapat mengendalikan kepada siapa kita akan jatuh cinta, termasuk ketika Daddy jatuh cinta dengan mommy, sama hal nya seperti Edo yang jatuh cinta pada vio begitu juga sebaliknya"
"Cinta itu alami dan terjadi begitu saja, yang menyebabkan banyak sekali orang yang terjebak dalam permasalahan cinta dan hubungan yang pelik tanpa mengerti cara menemukan solusinya"
"Cinta adalah PERASAAN yang timbul di hati, sebuah proses psikologis yang melibatkan emosi pribadi, sifatnya personal dan tidak melibatkan orang lain. Kata kucinya adalah: PERASAAN DAN EMOSI PRIBADI"
"Ini memalukan Ramira, mereka membuat hubungan pelik, mereka paman dan keponakan, bahkan melakukan hubungan di luar pernikahan"
Laki-laki jelas menjadi gusar tiba-tiba, dia cukup bingung harus mengatakan apa.
"No Daddy, ini mungkin akan sulit diterima tapi mereka sudah menikah"
"Apa?"
Bola mata Daddy Luck jelas membulat.
"Dad....look at me please"
Ucap Ramira lagi.
"Edo laki-laki yang bertanggung jawab, dia tahu di mana meletakkan batasan nya, dia benar-benar mencintai vio, begitu juga dengan vio, kita tidak bisa mengubah hati seseorang bahkan memaksa nya untuk berhenti atau tinggal"
Ramira terus menggenggam erat telapak tangan laki-laki itu, dia turun dan mencoba duduk dilantai dengan posisi kedua kakinya menahan tubuhnya sedangkan tangan Ramira terus menggenggam erat tangan Daddy Edo.
"Vio mendapatkan laki-laki yang tepat, dia berada di tangan laki-laki yang tepat juga, ini bukan persoalan Mereka uncle dan keponakan, tapi ini persoalan tentang perasaan, rasa nyaman dan cinta"
"Seperti disaat memilih aroma parfum yang akan kita gunakan setiap hari, Percaya atau tidak masing-masing orang punya aroma atau scent-nya sendiri. Sama seperti hewan yang mengeluarkan aroma untuk menarik lawan jenisnya, demikian juga manusia sebagai makhluk hidup yang berakal memiliki punya aroma khas. Seperti itu pula dengan aroma yang membuat mereka saling menyenangi seseorang yang berhubungan dengan hal-hal yang membuat mereka nyaman dan tenang.
"Vio merasa aman dan dicintai oleh Edo, Sedangkan Edo mencintai vio karena memang dia mencintai nya, sebab sejati nya cinta itu tak pernah butuh alasan, Jika masih memiliki alasan dalam mencintai, maka itu bukanlah cinta, tapi kalkulasi"
"Mereka tidak sedarah dad, percayalah Vio berada di tangan laki-laki yang tepat, ketimbang melepaskan vio dengan laki-laki yang tidak kalian kenal satu hari, yang bahkan belum tentu menjamin kebahagiaan nya, Edo jelas sosok yang paling tepat menjaga Vio di dalam seumur hidup nya"
"Tapi nak.. apa kata orang-orang? bagaimana aku menjelaskan nya dengan Atifa dan Najat?"
Ramira berusaha mengembangkan senyumannya.
"Biar aku dan Edo yang membicarakan persoalan ini ketika waktu nya tepat nanti, harapan terbesar Ramira, Daddy mau merestui hubungan mereka dan berdamai dengan keadaan, percayalah pada ku dad, Edo adalah orang yang tepat untuk Vio"
Sejenak bola mata Daddy Edo menatap dalam wajah Ramira, dia perlahan menarik nafasnya.
"Kenapa bukan kamu saja yang jadi menantu Daddy dulu, Andai saja Edo jauh lebih dulu mengenal mu dari Farhan dan eden"
Ucap laki-laki tua itu sambil menarik panjang nafasnya.
"Dad.."
Ramira menelan Saliva nya pelan.