Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Awal mula kehancuran



Dimasa Vio dan Edo


club malam xxxxxx


Jakarta


Ramira tampak mengerutkan keningnya saat Mommy Asha tiba-tiba kembali menghubungi dirinya, dengan perasaan khawatir dan bingung perempuan itu melesat menuju ke arah tempat dimana wanita paruh baya meminta dia menemui nya.


Hanya sedikit aneh kenapa tiba-tiba wanita paruh baya itu meminta Ramira bertemu dengan nya di lantai kafe bawah sebuah klub malam, meskipun terbesit sebuah kecurigaan namun karena Ramira bukan type seseorang yang gampang mencurigai orang tua, dia jelas membuang fikiran tidak enak nya.


Meskipun ada perasaan gelisah yang menghantam, Ramira berusaha untuk membuang nya.


Sejenak perempuan itu menatap layar handphone nya, Tampa Edo mencoba menghubungi nya. Buru-buru perempuan itu mengangkat nya.


"Aku ada di club malam xxxxxxx, bisa kamu kemari? setelah dari sini kita baru menemui Farhan"


Ucap Ramira cepat, lantas langsung mematikan panggilan nya.


Bola mata Ramira terus menelusuri ruangan, menunggu mommy Asha dengan sejuta perasaan penuh tanda tanya, namun Ramira sama sekali tidak melihat wanita itu dalam waktu yang cukup lama.


Tiba-tiba seorang pelayan memberikan segelas minuman ke arah nya.


"Aku pikir tidak memesan minuman"


Ucap Ramira cepat sambil menatap bingung ke arah pelayan itu.


"Orang yang anda tunggu memesan nya, dia bilang akan datang sebentar lagi"


"Ah..."


Ucap Ramira pelan, dia mengangguk sambil melebarkan senyuman nya.


"Terima kasih"


Ramira menunduk kan pelan kepalanya.


Secara perlahan Ramira mulai menyesap minuman yang ada dihadapan nya itu sambil dia terus menatap ke arah depan.


Beberapa waktu kemudian handphone nya kembali berdering dengan sempurna, buru-buru Ramira mengangkat nya.


"Ya..halo"


Dia menunggu jawaban dari seberang sana.


"Ah... bukan masalah Untie, kita bisa bertemu lain waktu"


Setelah berkata begitu Ramira menutup panggilan nya, berniat beranjak dari sana, tapi tiba-tiba kepalanya menjadi begitu pusing dan panas....


Ramira berusaha berpegangan pada sisi meja, pandangan nya tiba-tiba terasa mengabur, rasa tidak enak menjalar di seluruh tubuh.


Panas...!.


Rasa nya benar-benar gerah, pening dan memecah konsentrasi, Ramira fikir ada yang salah dengan dirinya, deru nafasnya tiba-tiba terasa tidak beraturan, dia menyentuh tengkuk nya beberapa waktu.


Tahu-tahu seseorang berusaha meraih tubuh nya, berbisik dengan suara yang cukup mengganggu dirinya.


"Mari mengambil kamar nya"


********


Beberapa waktu sebelumnya.


"Aku ingin Eden melihat kamu dan perempuan itu tidur bersama"


Mommy Asha bicara sambil menyerahkan sesuatu ke arah laki-laki dihadapan nya itu.


"Aku sudah memesan kamar nya"


Lanjut wanita itu lagi.


"Aku fikir ini sedikit berlebihan, nyonya?"


Satu laki-laki di hadapannya itu bicara dengan perasaan ragu-ragu, laki-laki lain nya tampak cuek sambil menyesap minuman yang ada dihadapan nya.


"Aku tidak punya cara lain untuk memisahkan Eden dari perempuan itu"


"Tapi ini sama dengan nyonya menyakiti perasaan orang lain"


Mommy Asha tampak sedikit marah mendengar ocehan laki-laki itu.


"Berhenti menceramahi aku, cukup lakukan apa yang aku katakan kemudian terima bayaran nya"


Ucap wanita itu dengan emosi yang menggebu.


Sejenak laki-laki itu menatap ragu-ragu sebuah amplop tebal dan 1 botol kecil obat yang diberikan wanita paruh baya itu.


"Hissss berhenti meragukan sesuatu, aku yang akan melakukan nya"


Laki-laki satu nya bicara lantas menyambar amplop dan botol kecil obat tersebut tanpa banyak berfikir.


"Cukup lihat bagaimana aku melakukan nya"


Lanjut laki-laki itu lagi.