Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Pertemuan tidak disengaja



Setelah berkutat dengan jutaan kekhawatiran di luar ruangan selama berjam-jam bersama putra nya Eden, nyonya Burja akhirnya melebarkan senyuman nya ketika mendengar tangisan seorang bayi dari dalam sana.


Dia menarik lega nafasnya, itu arti nya sang cicit telah dilahirkan dengan selamat dan sehat.


Seketika mereka diizinkan masuk kedalam ruangan tersebut, mereka lihat Ailee telah dirapikan, wajah Aland masih terlihat panik.


Sepersekian detik kemudian seorang perawat yang menggendong bayi mungil mendekati Ailee.


"Selamat bayi kalian laki-laki dengan berat xxxx dan tinggi xxxx"


Ucap dokter perempuan berusia sekitar 45 tahunan itu.


Mendengar ucapan sang dokter seketika senyuman semua orang mengembang sempurna, terutama senyuman diwajah Aland, perawat tersebut memberikan bayi mungil yang telah dibersihkan dan telah diberikan pakaian rapi itu ke tangan Aland.



"Oh god"


Ucap Aland takjub, bola Matanya Tampak berkaca-kaca menatap putranya.


Dia benar-benar merasa menjadi seorang ayah, rasanya begitu sempurna.


Laki-laki itu kemudian mendekatkan bayi mereka ke arah Ailee.


"Oh tampan nya"


Ailee bicara sambil menatap putra mereka dengan bola mata berkaca-kaca.


Grandma burja ikut terharu, menatap bayi mungil itu dengan jutaan suka cita.


"Sudah mendapatkan nama nya?"


Tanya grandma Burja.


Aland mengangguk cepat.


"Ayaz Hilmi yildiz (Angin dingin yang penuh kesabaran, pemberani dan tidak takut mengambil resiko)"


Ucap Aland sambil mengembangkan senyuman nya.


"Ohhh nama yang indah"


Ucap grandma Burja sambil menyentuh lembut tangan bayi itu.


Eden menghela nafasnya secara perlahan, tiba-tiba saja ingatan nya bertumpu pada Ramira, anak nya juga ada di dalam tubuh perempuan itu.


Dia ingin mengejarnya, tapi Eden sama sekali belum memiliki petunjuk kemana perempuan itu pergi, saat dia bertanya pada kakek Ghanem dan Karan, dua orang itu sama sekali tidak memberikan jawaban nya.


"Kita akan memindahkan ruangan nya"


Ucap sang dokter sambil mengembangkan senyuman nya.


********


Seketika suasana menjadi begitu ceria, bayi mungil itu menangis dengan kencang, itu seharusnya menjadi waktu pertama kali nya Ailee memberikan asi nya.


Eden dan Aland memilih menyingkir, mereka memutuskan duduk di luar ruangan sambil mengobrol soal beberapa hal bukan sebagai menantu dan mertua tapi sebagai teman juga sesama laki-laki.


"Masih belum menemukan titik terang nya?"


Tanya Aland sambil menyesap minuman kaleng nya.


Eden menggelengkan kepalanya secara perlahan, dia ikut menyesap minuman kaleng nya untuk beberapa waktu.


"Aku masih belum menemukan petunjuk"


"Pernahkah terfikir Mungkin satu tempat yang pernah kalian bicarakan sebelum nya?"


Tanya Aland kemudian.


Sejenak Eden mengerutkan keningnya.


Dia bertanya-tanya dalam hati, dimana tempat yang pernah mereka bicarakan.


Saat laki-laki itu mencoba memikirkan nya tiba-tiba Mama nya keluar dari kamar.


"Kenapa Ma?"


"Mereka bilang harus mengambil obat ini di apotik"


Ucap sang mama pada Eden.


"Biar aku yang ambilkan"


Aland langsung berdiri menawarkan diri.


"Kamu didalam saja, aku yang akan pergi"


Eden bicara cepat, berniat pergi sendiri ke arah apotik yang terletak sisi kanan depan rumah saki.


Tapi tiba-tiba sang mama menahan langkah nya.


"Biar mama ikut juga"


"Ini akan membuat kaki mama lelah"


Eden merasa sedikit keberatan.


"Bukan masalah, mama tiba-tiba ingin ikut kedepan"


Ucap nyonya Burja lagi.


"Baiklah"


Ucap Eden sambil menggandeng pelan tangan mamanya.


Mereka tampak melangkah kedepan, mencari arah menuju ke apotik, berjalan santai dengan langkah pasti.


Saat bola mata nyonya Burja melirik kekiri dan kekanan tampak senyuman mengambang diwajahnya, dia sempat mengobrol tentang beberapa hal pada Eden soal putra Ailee.


Namun tiba-tiba langkah kaki nya terhenti saat bola mata nya tidak sengaja menangkap sosok seseorang yang benar-benar tidak asing untuk nya.


"Ma?"


Eden tampak mengerutkan keningnya saat melihat sang mama menghentikan langkahnya, bola mata Mama nya menatap lurus ke arah depan dengan pandangan terkejut dan tidak percaya.


Eden mengikuti arah pandangan mata Mama nya, tampak seorang wanita seusia mama nya juga berdiri mematung dan membeku menatap ke arah mama nya.


Dua sosok wanita itu seolah-olah sama-sama terkejut, tiba-tiba bola mata kedua wanita tua itu saling berkaca-kaca, mereka berjalan saling mendekatkan diri seolah-olah tidak percaya dengan pandangan mereka.


"Ohhh God...Asna?"


Mama Eden bicara dengan nada tercekat, menatap wanita dihadapan nya dengan tatapan tidak percaya.


"Luna?"


"Ohhh oh.. Tuhan"


Eden jelas bingung dengan sang mama nya, dia fikir siapa wanita yang ada dihadapan mereka itu.