
"Gila"
Ramira mengumpat ke arah Edo, dia langsung memukul keras bahu Edo dengan perasaan dongkol.
Mereka tengah duduk dalam perundingan bersama di mansion milik Farhan sejak tadi, pembahasan nya benar-benar gila menurut Ramira.
"Aku telah meniduri keponakan ku sendiri"
Oh shi .t.
Farhan jelas mengumpat kesal.
Setelah menunggu lama penjelasan dari Edo yang tampak cemas dan panik, akhirnya laki-laki itu buka mulut juga perihal malam panas yang terlarang.
"Kalau tahu semalam bakal terjadi sesuatu yang buruk, aku jelas lebih memilih tidur di apartemen nya ketimbang pulang ke apartemen ku"
Ramira terus mengoceh kesal, dia menatap dongkol ke arah Edo saat tahu apa yang telah terjadi semalam antara laki-laki itu dan keponakan laki-laki itu sendiri.
Farhan Tampak memijat-mijat kepalanya sejenak, laki-laki itu mencoba untuk berfikir dengan logika paling masuk akal nya.
"Nikahi dia"
"Nikahi dia"
Farhan dan Ramira bicara secara bersamaan.
Edo tampak diam, otak nya masih belum bisa berfungsi dengan terlalu baik.
"Di belum 17 tahun, mana bisa mengurus surat nikah di kantor"
"Secara keagamaan, saat dia tamat SMA dan mendapatkan KTP nya baru kamu nikahi dia secara ke negaraan"
Ucap Ramira cepat.
"Please jangan terlalu banyak berfikir, kamu tahu? kami sudah melanggar batasan dan norma, aetelah ini aku jamin kalian akan melakukan hal itu lagi"
Rutuk Ramira sambil mendengus melihat wajah Edo.
"Sejauh itu fikiran kamu, Ramira?"
Edo bertanya dengan perasaan yang cukup gerah, laki-laki itu menarik kasar kerah bajunya.
"Tentu saja, kamu mungkin berkata Tidak untuk saat ini, persis seperti kemarin-kemarin, tapi malam tadi bagaimana? begitu juga untuk hari yang akan datang"
"Menikah dulu secara agama, kalau nanti ada apa-apa juga tidak was-was, sembari menanti dia menyelesaikan SMA nya kalian bisa berfikir mau dibawa kemana hubungan kalian, setelah itu baru bicarakan dengan orang tua nya"
Farhan bicara cepat, ekspresi nya cukup terlihat tenang, laki-laki itu sibuk menuangkan minuman di gelas milik nya dan Edo.
"Berikan untuk ku"
Ucap Ramira sambil menyodorkan gelasnya.
"No, aku tidak suka kamu minum, itu tidak baik untuk kesehatan mu"
Farhan mengingatkan Ramira dengan cepat, laki-laki itu berjalan ke arah lemari pendingin, mengambil minuman Coca-Cola dingin lantas memberikan nya pada Ramira.
Ramira jelas menghela pelan nafasnya, dia meraih kaleng minuman itu, membuka nya lantas langsung meminum nya.
"Urus pernikahan nya secepat mungkin, jika kamu khilaf kedepannya itu tidak berdampak menjadi hubungan terlarang, kalian jelas sah suami istri meskipun belum di catat oleh negara atau menikah secara besar-besaran"
Ucap Farhan sambil menyesap minuman nya.
Sejenak bola matanya menatap ke arah Ramira yang mulai bergerak menjauhi mereka, perempuan itu berjalan menuju ke arah kamar tamu.
Laki-laki itu berdiri dengan gerakan cepat.
"Fikirkan lah, semakin cepat semakin baik"
Ucap Farhan cepat.
Lantas laki-laki itu dengan cepat langsung mengejar langkah ramira yang telah masuk menuju ke kamar yang memang Farhan sediakan untuk Ramira sejak dulu.
Klekkkkkkkk
Seketika farhan membuka pintu kamar itu.
Ramira jelas terkejut melihat kehadiran Farhan.
"Aku fikir kita harus bicara 4 mata saat ini"
Ucap farhan cepat ke arah Ramira.
Laki-laki itu berjalan cepat mendekati