
Semua orang tampak mengejar keadaan, beberapa anak buah Alestor yang tersisa di barisan depan terus memacu kendaraan mereka. Bern dan Luck saling memberi kode untuk memecah arah, berpisah dan menyerang lawan mana yang di sukai, Bahrat ikut memecah arah mencari lawan guna menghabisi mereka.
Mobil milik Bern secepat kilat melesat ke arah kiri, menembus jalanan mengejar satu mobil di depannya.
"Ini mangsa terakhir kita"
Ucap Bern ke arah teman nya.
Sang pengemudi Tampak menaikkan jari jempol nya menandakan dia akan memepet mobil tersebut, sisa nya dia serahkan pada Bern.
Kitttttttttt
Sraattttttt
Bern mulai mengarahkan senjatanya ke ban mobil dihadapan nya.
Casshhhh
Sringgggg
Duaarrrrrr
Suara ledakan memekakkan telinga terdengar memecah kembali langit malam yang kelam.
Luck dan Farhan saling menoleh, lantas menatap mobil disisi kanan mereka.
"Aku fikir mereka akan berbelok"
Ucap Farhan sambil mengerutkan keningnya.
Sepersekian detik kemudian benar mobil tersebut berbelok ke jalan berbeda dari yang lain nya.
"Oh shi..t kemana Mereka'
"Mereka lewat jalan pintas"
Ucap Edo tiba-tiba.
"Seberapa jauh?"
"Sudah sangat dekat sekali sayang"
Jawab Edo lagi.
"Hoeeeekkk"
Murat pura-pura ingin muntah.
"Stop menggunakan panggilan seperti itu, terdengar begitu menjijikkan"
"Oh baby aku tiba-tiba merindukan kekasih ku"
Bahrat bicara sambil terkekeh.
"Oh god Mereka masih terlelap, bergegaslah menghancurkan semuanya dan kembali ke istri kalian masing-masing,aku butuh quality time bersama istri ku juga"
Keluh Edo.
"Come , semua orang juga merindukan istri mereka masing-masing"
Ucap luck sambil menaikkan kedua bahu nya.
"Oh shi..t"
Umpat nya pelan.
Meskipun pelan masih bisa di dengar oleh Farhan dengan baik.
"Aku membatalkan pernikahan kami sejak Minggu kemarin"
Ucap laki-laki itu cepat.
"Ya?"
Seketika luck menoleh ke arah Farhan.
"Brother, are you crazy?"
Eden langsung membulatkan bola matanya.
Semua orang tampak terkejut.
"Kau bercanda?"
Tanya Murat tiba-tiba.
Alih-alih menjawab Farhan langsung berkata.
"Luck mereka berhenti"
Ucap Farhan tiba-tiba.
Seketika luck menatap ke arah depan, keningnya berkerut dengan sempurna, orang-orang Alestor berhenti di sebuah dermaga, mereka benar-benar akan naik kapal pesiar pribadi untuk melarikan diri.
"Oh shi..t,kita lagi-lagi akan bertarung tenaga"
Setelah berkata begitu luck langsung menghentikan mobilnya dengan cepat, lantas mereka melesat turun dan diikuti Murat dan Bahrat di belakang mereka.
Bern tampak ikut menyusul namun masih tertinggal cukup jauh.
Sedangkan di sisi Winda dan Eden, laki-laki itu mulai berdiri ketika Winda mulai memepetkan mobil mereka ke mobil Alestor.
Dan dalam hitungan detik ke berapa tidak tahu...
Braakkkkk
Eden melompat dengan kekuatan penuh dan naik ke atas mobil Alestor, laki-laki itu tepat berada di atap mobil Alestor.
Begitu terdengar suara hantaman kencang dari atap, Alestor langsung bergerak kencang, masuk ke sebuah gedung tidak jauh dari kapal pesiar pribadi Alestor menanti, laki-laki itu berusaha menggulingkan Eden bagaimana pun caranya.
Ramira dan Liliana tampak terikat sempurna didalam mobil tepat di kursi belakang, 2 perempuan itu tampak tidak bergerak sejak tadi, Eden masih bisa melihat wajah pucat yang dia rindukan itu tampak terlelap dalam mimpi panjang nya.
Seketika saat bola mata Eden tidak sengaja menatap perut Ramira, tiba-tiba perasaan mual dan pusing menghantam dirinya.
Apa kamu merindukan Daddy, nak?
Tanya Eden dalam hati.
Sepersekian detik kemudian Eden menoleh ke arah Alestor yang terus fokus mengendarai mobil nya, Eden jelas mengeratkan rahangnya, kobaran kemarahan jelas terlihat di Balik wajah tampan nya.
Beraninya kamu mencelakai 2 harta berharga ku, Aku benar-benar akan menghabisi mu, baji.. Ngan.
Geram nya dalam hati.