Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Malu nya luar biasa "Spontanitas"



Liliana tampak membukakan perlahan kedua bola matanya saat tangan seseorang terasa menyentuh lembut wajah nya.


"Grandma Rasty?"


Ucap Liliana pelan.


Seorang wanita tua tampak tersenyum kearah nya, itu adalah nenek tua Hurairah, istri dari kakek Karan bin Narayan penerus ke dua Hurairah group setelah kakek Ghanem nya.


Wanita itu dalam beberapa hari ini terus setia menjaga nya bersama Farhan, satu-satunya wanita yang memperlakukan dirinya begitu hangat dan lembut selama 24 tahun ini setelah grandma Violet.


Liliana batu tahu kenapa Brenda bahkan tidak pernah memperlakukan dirinya dengan baik dimasa lalu, rupanya wanita itu bukan ibu kandung nya, ibu kandung mereka ternyata menanti Hurairah, istri dari putra bungsu Ghanem Hurairah yang statusnya menjadi putra tertua setelah kasus pelik putra pertama mereka dimasa lalu.


"Mommy mu akan kemari malam ini"


Bisik Grandma Rasty masih menyentuh lembut wajah Liliana.


Mendengar ucapan wanita tua Hurairah itu seketika bola mata Liliana tampak berkaca-kaca.


"Lalu kak Ramira?"


Wanita tua itu menggelengkan kepalanya secara perlahan.


"Kakak mu masih butuh waktu untuk berfikir, berikan dia Waktu untuk sendiri dan menjalani hari-hari tenang nya untuk beberapa waktu ini"


Liliana tampak diam.


Dia fikir mungkin benar kak Ramira nya butuh waktu saat ini, ada banyak sekali beban yang harus dia pikul selama bertahun-tahun lama nya, mungkin benar saat ini dia membutuhkan waktu tenang nya Sendiri tanpa gangguan siapa-siapa.


"Sudah bangun?"


Tiba-tiba sebuah suara mengejutkan mereka.


Farhan tampak masuk bersama seorang laki-laki tua dengan wajah tampan namun masih begitu berkharisma.


"Kakek?"


Itu adalah kakek Karan bin Narayan, dimasa mudanya tidak ada yang tidak bilang laki-laki itu dingin dan tidak pernah tersenyum, lucu nya Keluarga besar Hurairah berkata satu-satunya perempuan yang bisa membuat laki-laki itu tertawa hanya istri nya.


Grandma Rasty seolah-olah magnet yang tidak bisa lepas dari kehidupan nya.


"Bagaimana punggung mu? sudah merasa lebih baik?"


Bisa Liliana lihat bagaimana kaku nya laki-laki itu bicara, tidak ada senyuman sedikit pun menghiasi wajahnya.


jika orang belum mengenal nya pasti berkata dia begitu angkuh dan menyebalkan.


"Sudah sedikit lebih baik"


Jawab Liliana pelan.


Terapi yang dia ikuti sebenarnya cukup menyiksa, tapi berkat Farhan dia mampu melewati rasa ketidakmampuan didalam diri nya.


Laki-laki itu sama sekali tidak pernah mengeluh dalam mendampingi dirinya selama 1 bulan lebih ini.


Hari pernikahan mereka semakin mendekat, karena itu para keluarga terus datang memberikan support untuk Liliana agar terus berjuang untuk cepat sembuh dari keadaan nya.


"Kemarilah"


Farhan mengangkat tubuh Liliana secara perlahan, memiringkan tubuhnya dan membiarkan Liliana bersandar dengan nyaman di sisi ranjang.


"Aku rasa kakek Ghanem mu tidak akan datang kemari hari ini, dia bilang akan pergi mengunjungi bibi muda kalian untuk membicarakan soal undangan pernikahan kalian"


Liliana mengangguk pelan.


Bola mata Liliana menangkap sosok Farhan, laki-laki itu sibuk menyiapkan makanan untuk dirinya, setelah itu mulai mendekati nya dan dengan gerakan perlahan mulai menyuapi diri nya dengan gerakan perlahan pula.


Liliana menerima suapan itu sejenak, mulai mengunyah makanannya untuk beberapa waktu, kemudian Farhan kembali mengulangi suapan nya terus seperti itu hingga Liliana menghabiskan makanan nya.


Grandma Rasty Tampak mengulum senyumannya saat melihat dua orang itu.


"Apa kamu juga ingin di suapi?"


Sang Kakek bertanya sambil menaikkan ujung alisnya.


Seketika grandma nya terkekeh.


"Ckckck kita sudah terlalu tua untuk bersikap romantis didepan anak muda"


"Hmmmm itu bukan masalah"


Laki-laki tua Hurairah itu bicara sambil mengembangkan senyuman nya.


Liliana sejenak terkesima.


Kannnn benar???.


Satu-satunya orang yang bisa membuat kakek tua Hurairah tersenyum itu hanya istri kesayangan nya.


"Kau iri?"


Tiba-tiba farhan berbisik pada Liliana.


"Ya?"


Saat Liliana menoleh, bola matanya langsung berkedip-kedip sebab wajah laki-laki itu tahu-tahu berada tepat di hadapan nya, jarak mereka Mungkin tidak lebih dari 2 jari.


Seketika jantung Liliana berdetak dengan kencang, dia fikir kapan kali terakhir dia dan Farhan melewati masa itu?.


Ahhh sudah lama sekali.


Sepersekian detik kemudian tiba-tiba laki-laki itu ingin menautkan bibir mereka, tapi suara sang kakek jelas mengejutkan mereka.


"He em he em, aku fikir sebaiknya kita pergi cari makan keluar saja"


Ucap kakek tua Karan sambil meraih tangan sang istri dan menggenggam nya dengan erat.


Wanita tua itu sejenak mengembangkan senyuman nya, dia berdiri dari posisinya, mulai berjalan meninggalkan Liliana dan Farhan dengan perasaan malu mereka.


"Kau... kenapa ingin mencium ku didepan kakek dan Grandma?"


Wajah Liliana jelas langsung memerah, dia berusaha membuang pandangannya karena ras malu yang tiba-tiba menyergap.


Farhan tampak mengulum senyumannya, dia mengelus lembut tengkuknya.


"Hanya spontanitas, aku lupa ada mereka didekat kita"


"Ishhh.. tidak sopan"


Liliana jelas memunyungkan bibirnya.