
Mansion Utama Arsen
10.10Am
"Sudah siap?"
Arsen bertanya pelan ke arah flow, dia menatap gadis itu dengan seksama ketika flow baru saja menuruni anak tangga.
Entah apa yang dipikirkan oleh arsen tapi dia menatap gadis yang ada di hadapannya itu dengan tatapan yang sulit diartikan, sembari laki-laki itu mencoba mengembangkan senyumannya.
Mendapati arsen telah berdiri tepat di hadapannya seketika membuat Flow sedikit terkejut, dia pikir dia akan diantar oleh sopir tapi rupanya Arsen sendiri yang akan membawanya pergi dan mengantarnya.
"he em"
Gadis itu menjawab dengan cepat sembari mengganggukan kepalanya, kemudian dia mencoba untuk mengikuti langkah arsen yang kini bergerak tepat di depannya.
"Tidak usah memaksakan diri untuk menggunakan heels tinggi jika kamu tidak bisa"
Laki-laki itu bicara seolah-olah tahu keraguan dari flow sejak kemarin, dia pikir gadis itu cukup kesusahan setiap kali harus menggunakan heels tinggi.
"orang-orang kaya terkadang memang rumit hidupnya, padahal bergaya santai itu jauh lebih menyenangkan"
Ucap absen lagi sembari dia melirik ke arah Flow yang baru akan menggunakan heels-nya.
"Kamu bisa menggunakan sepatu kets mu jika mau"
Lanjut Laki-laki tersebut lagi.
"Apa tidak masalah?"
Lo bertanya khawatir sembari menatap balik wajah laki-laki yang ada di hadapannya itu.
"Aku takut kalian akan malu membawaku karena pakaianku"
"Tentu saja tidak Flow, seseorang tidak menilai orang lain hanya karena pakaiannya atau sepatu yang digunakan, Flow"
Jawab Arsen cepat.
Hingga akhirnya gadis tersebut menganggukkan kepalanya dan memilih untuk menggunakan sepatu kets kesayangannya.
"Kamu bisa menggunakan heels-nya kita menghadiri beberapa acara penting seperti acara pernikahan keluarga atau mungkin jamuan makan malam bersama keluarga besar"
Arsen bicara kemudian dia mulai bergerak mendekat ke arah pintu keluar Mansion tersebut.
Pada akhirnya mereka bergerak menuju ke area sisi kiri di mana mobil arsen diparkirkan.
Laki-laki tersebut bergerak dengan cepat membuka pintu mobil yang ada di hadapannya tersebut dan membiarkan Flow segera masuk ke dalam mobil miliknya.
Hari ini mereka harus pergi dengan cepat menuju ke satu tempat di mana ibu Arsen telah menunggu sejak tadi, laki-laki itu melirik kearah jam tangan nya untuk beberapa waktu kemudian dia buru-buru masuk ke dalam mobilnya dari arah pintu kemudi.
"Aku pikir kita sedikit terlambat datang"
Ucap laki-laki tersebut sembari melirik ke arah Flow, dia kemudian secara perlahan mulai melajukan mobilnya ke arah depan dan keluar dari Mansion nya tersebut.
Mendengar ucapan Arsen, gadis itu ikut melirik ke arah laki-laki itu untuk beberapa waktu, dia tidak menjawab namun bola matanya menelisik rahang laki-laki yang ada di samping nya itu.
"apakah bibi akan marah?"
Flow bertanya sedikit khawatir, dia cukup takut pengaruh terlambat datang akan membuat wanita dari keluarga Patlers Paterson tersebut marah, yang dia tahu orang-orang kelas atas seperti keluarga Petlers Peterson pasti paling anti dengan orang-orang yang mengulur jam pertemuan dan jam karet.
"Biar aku yang akan menjelaskannya kepada Mommy"
Jawab Arsen lembut.
Fuhhhh.
Flow menghela pelan nafasnya kemudian dia menundukkan kepalanya secara perlahan, dia terlihat begitu khawatir dan gelisah, dan dia pikir kenapa Arsen selalu begitu lembut dan hangat kepada dirinya, tidak pernah bicara dengan nada tinggi, selalu bicara dengan nada yang membuat dia gelisah.
Perlakuan Arsen terlalu hangat, bahkan kebaikan nya terasa meresahkan, belum lagi tiap kali bicara laki-laki tersebut terus menatap dalam bola matanya, seolah-olah tidak mau melepaskan pandangan nya.
Untuk para kaum perempuan, hal itu terlalu meresahkan, mereka bisa salah paham dan berpikir mungkin laki-laki dengan type seperti Arsen menyukai mereka, sifat dan tindakan Arsen benar-benar mencerminkan pengharapan bagi gadis yang dekat dengan nya.
Flow sedikit resah dengan perlakuan laki-laki tersebut, dia takut jatuh cinta pada Arsen seiring berjalannya waktu.
"Terlihat begitu gelisah? Jangan khawatir soal mommy ku Flow, dia bukan type wanita yang terlalu banyak menuntut dan tidak bisa memaklumi soal apapun, percayalah"
Laki-laki tersebut kemudian kembali melirik ke arah flow, dia cukup khawatir melihat ekspresi gadis tersebut, barusan pikir mungkin keterlambatan mereka yang membuat flow jadi begitu panik dan khawatir, di mana raut wajahnya menampilkan kegelisahan yang luar biasa.
Laki-laki itu mengacak-acak rambut gadis yang ada di sampingnya secara perlahan, dia kemudian mengulumkan senyumannya.
Ucap Arsen pelan.
Mendengar kata adik seketika Flow meremas telapak tangan nya.
Arsen kembali mencoba fokus dalam menyetir, kata adik cukup mengganggu dirinya, entahlah seolah-olah kata adik benar-benar terasa aneh dan membuat dia berdebar-debar.
Lea!.
Tiba-tiba satu nama tersebut terlintas di balik pemikiran nya.
Dia masih penasaran dengan nama tersebut dan kenapa kalung dengan nama itu ada di lehernya?.
Entahlah dia merasakan satu perasaan aneh tiap kali mencoba menyebut nama Lea, rasa nya lebih kuat seperti ikutan Antara dia dan kakak perempuan nya.
Pernahkah merasa sedih saat sulit menemukan sahabat yang dapat menjadi tempat curahan hatimu? Mungkin kita lupa bahwa saudara kandung adalah sosok yang dapat menjadi support system paling utama saat kita sedang jatuh. Meski terlihat cuek dan apatis dari luar, padahal aslinya tidak begitu.
Itu yang dirasakan Arsen.
Perselisihan santai yang dibarengi dengan adu argumen biasanya sering menghiasi hubungan antara diri nya dan kakak nya, para adik kakak di luaran sana pasti pernah merasakan nya, meski begitu tetap saja namanya saudara tidak akan dapat dipisahkan.
Meski perselisihan merupakan hal biasa, tidak jarang mereka tentu akan merasa bahwa saudara kandung mereka merupakan sosok yang paling mampu mengerti diri antara satu dengan yang lainnya selain orangtua tentunya. Mereka tentu akan cenderung lebih peka terhadap sesuatu jika ada masalah yang sedang kamu hadapi.
Para orangtua tentu saja sudah tidak aneh apabila para putra-putrinya berkelahi dan saling adu argumen. Hal tersebut wajar apabila masih dalam batasan normal, selanjutnya tentu saja mereka akan berbaikan kembali seperti tidak terjadi apa-apa. Adu argumen yang dilakukan hanya semata-mata sebagai bentuk kasih sayang secara tidak langsung.
Salah satu fakta paling umum yang sering ditemukan adalah tentang bagaimana saudara kandung justru saling memendam cemburu satu sama lain terhadap perhatian dari orangtua.
Hal ini dirasa wajar sebab terkadang mereka ingin diperhatikan satu sama lain. Meski begitu, orangtua juga harus ekstra sabar dalam memberi tahu agar tidak ada kesalahpahaman tentang persoalan anak kesayangan.
Mungkin perilaku dan tingkah laku kita bersama teman akan berubah seiring bertambahnya usiamu, namun hal ini tidak berlaku untuk kakak dan adik. Berapa pun usianya bahkan saat dewasa atau sudah tua, mereka akan tetap saling memperlakukan satu sama lain layaknya saat masih kecil dulu dengan penuh guyonan dan ledekan khas adik kakak.
Dan Arsen merasakan nya dengan kakak nya, tapi dia juga merasakan apa yang dia rasakan pada satu nama Lea.
Seolah-olah nama itu memiliki tempat khusus dihatinya, bukan cinta, tapi perasaan layak nya dia dan kakak perempuan nya.
Siapa?.
Itu menjadi pertanyaan besar didalam hidup Arsen tentang nama Lea.
Arsen sama sekali tidak bisa menyambung benang kusut dan juga mengurai nama Lea yang mengganggunya dalam beberapa Minggu ini.
Laki-laki tersebut pada akhirnya memilih diam, dia kembali melirik kearah Flow untuk beberapa waktu.
Seulas senyuman mengembang di Balik bibir laki-laki tersebut, tidak tahu kenapa saya bertemu dengan gadis itu dia merasa seolah-olah ada yang mengisi kekosongan hatinya selama ini gimana dia saat wanita membutuhkan seseorang untuk dijadikan teman bicara bahkan teman bercerita.
Meskipun Flow bukan tipe gadis yang aktif, tapi gadis itu selalu enak untuk belajar bicara, bahkan mereka beberapa hari ini sering menghabiskan waktu untuk mengobrol bersama saling bercerita tentang mereka.
Tidak tahu apakah perasaan itu yang dirasakan perasaan antara kakak dan adik atau perasaan sekedar persahabatan yang memang dia butuhkan atau bahkan entahlah Arsen tidak bisa menyimpulkannya sama sekali.
Sejenak bola mata laki-laki tersebut menatap ke arah depannya, Arsen bersiap untuk berbelok menuju ke arah sebuah gedung besar yang ada di sisi kanan mereka.
"Jika kamu membutuhkan sesuatu dan menginginkan sesuatu ambil saja, aku Yang Akan mengurus semua pembayarannya hmmm"
Ucap arisan kemudian tanpa melirik kembalike arah Flow.
******
Pusat perbelanjaan xxxxxxx
Bola mata Lea sejenak menatap barisan cincin dan kalung yang ada di hadapannya tersebut, sebenarnya dia sama sekali tidak memiliki kegiatan apapun hari ini, Luck berkata dia memiliki pertemuan dengan Bern dan yang lainnya di restoranpusat perbelanjaan karena ada satu hal yang harus di bicarakan.
Karena dia pikir sangat membosankan sekali jika dia tidak ikut dan tinggal di Mansion begitu saja, pada akhirnya Lea memutuskan untuk ikut bersama suaminya.
Ditengah perbincangan para laki-laki dia memilih untuk bergerak menuju ke salah satu toko perhiasan, dia pikir perayaan pesta resepsi pernikahan mereka akan segera di gelar, dia ingin membeli sebuah kalung untuk digunakan nanti di acara resepsi mereka.
Karena ini pada akhirnya disinilah dia berada, Lea pikir mungkin dia akan memilih beberapa kalung dengan model yang dia sukai, setelah itu dia baru akan mengajukan pertanyaan dan pilihan pada Luck, laki-laki tersebut bisa memberikan pendapat nya nanti.
Bola mata perempuan tersebut kembali fokus menatap beberapa kalung yang ada dihadapan nya, cukup lama perempuan tersebut memilih, di mana kebimbangan menghantam dirinya karena menurut Lea semua terlihat baik dan indah, pada akhirnya bola mata Lea tertuju pada sebuah kalung yang ada di sisi kirinya, dia tanpa mengembangkan senyumannya dan berniat untuk mengambil kalung tersebut namun tiba-tiba sebuah suara mendahului dirinya.
"Aku pikir yang ini saja, ini cocok untuk dia mom"
Ucap sang pemilik suara tersebut perlahan.
Lea mengerutkan keningnya, saat dia sadar seorang wanita dan seorang perempuan menunjuk kalung yang menjadi pilihannya.
"Bisa berikan ini untuk calon menantu ku?"
Sang wanita bertanya kepada penjaga toko perhiasan tersebut sembari mengembangkan senyumannya.