
Farhan sejak semalam belum memejamkan bola matanya barang sedetik pun, Liliana belum juga sadar dari tidur panjang nya.
Semua orang mulai kembali ke mansion utama milik Luck, yang tinggal di rumah sakit hanya diri nya, Ramira dan Eden.Dirinya jelas tinggal karena sudah menyepakati bahwa dirinya yang akan fokus menjaga Liliana, dan Eden jelas ingin menjaga Ramira.
Tapi Ramira terus berusaha memasang jarak dari laki-laki itu, mungkin karena dia tahu Eden adalah suami orang lain.
Belum lagi persoalan pelik baru terjadi, keluarga de Lucas dan Hurairah baru saja tiba Menemui Ramira, dan keluarga Azzura rupanya ikut datang untuk menjenguk Liliana dan Ramira.
Dan yang lebih membuat mereka mulai menggila perjodohan yang awalnya untuk Liliana sekarang di tukar menjadi untuk Ramira bersama Emir cucu tertua Azzura.
"Mom, aku fikir sebaiknya kita membicarakan nya lagi soal semua ini"
Ucap Emir pada pertemuan 3 Keluarga ini 2 jam sebelum Farhan kembali ke kamar Liliana dimana dia menitipkan Liliana pada Selena dan Bahrat, mereka berada di kamar rawat Ramira.
"Kenapa? bukankah dulu kamu bilang ingin menikah dengan Ramira?"
Mommy nya jelas bertanya bingung ke arah Emir kemudian melirik kearah Ramira.
"Mommy itu masa lalu, aku sudah tidak lagi memiliki perasaan yang sama seperti itu"
Ucap Emir cepat.
"Kamu dengar William? putra kita tidak lagi memiliki perasaan pada Ramira"
Ucap wanita itu pada suami nya.
"Apa yang harus Kita jelaskan pada keluarga Hurairah? menolak perjodohan nya? aku fikir ini cukup tidak enak untuk dilakukan"
Ucap laki-laki yang dipanggil William itu.
"Paman punya ide?"
Laki-laki itu bertanya lantas menoleh ke samping kanannya.
Yang dipanggil paman oleh laki-laki itu, tak lain tuan Zuu tampak diam sejak tadi di samping kanan Emir, memperhatikan gelagat Emir untuk beberapa waktu.
"Kamu sudah punya gadis pilihan?"
Tanya sang kakek tiba-tiba.
Emir tampak menghela pelan nafasnya, menatap bola mata laki-laki yang masih sangat berkharisma Dan tampan meskipun usianya telah menua itu untuk beberapa waktu.
"Ya"
Ucap Emir pelan.
"Berapa lama kamu mengenal nya?"
Tanya tuan zuu lagi pada sang cucu nya itu.
Emir tampak menelan ludahnya.
Apa dia harus bilang dia belum dua hari menyukai gadis itu?.
Gila!.
Semua orang bisa berkata betapa gila nya dirinya.
"Apa kami mengenal nya nak?"
Tanya mommy nya cepat.
"Sangat mengenalnya"
"Bahkan dia sering ke mansion utama keluarga Azzura, Mommy dan nenek BII begitu menyukai nya"
"Ya?"
Wanita itu jelas terkejut.
Mencoba berfikir siapa gadis yang dimaksud putra nya.
Dia mencoba menebak-nebak siapa gadis yang begitu dia dan untie Bii nya sukai itu?
siapa?
Tidak banyak gadis yang datang ke kediaman utama Azzura, beberapa gadis yang bisa dihitung dengan jari.
Belum juga wanita itu bisa menebak, tiba-tiba tuan zuu berkata.
"Mina? putri bungsu Stephard?"
Tanya laki-laki itu cepat.
Seketika Emir mengembangkan senyuman nya, semua orang jelas terkejut.
"What?"
Farhan jelas menganga.
Apa? Mina? adik nya? Emir suka pada Mina?.
Tunggu dulu...!.
Otak Farhan jalas langsung oleng.
apalagi Mommy Emir.
"Tapi.. adik mu.."
Belum juga wanita itu menyelesaikan kata-katanya, jika adik nya menyukai gadis itu. tiba-tiba terdengar sebuah ketukan di balik pintu, tidak lama kemudian Mina mengintip dari arah Balik pintu tersebut.
"Untie?"
Mina Tampak terkejut, niat hati ingin mengunjungi untie Ramira nya, ternyata seluruh ruangan sudah dipenuhi banyak orang.
"Oh god, sayang?"
Mommy Emir jelas terkejut saat melihat siapa yang ada di hadapannya.
Mina ikut membulat kan bola matanya.
"Mommy? akhhhh"
Secepat kilat gadis itu masuk, dengan ekspresi bahagia dia langsung memeluk wanita paruh baya itu sambil mencium pipi kiri dan kanan nya berkali-kali.
"Mommy kenapa disini? dimana Zumra?"
Tunggu dulu.. Farhan masih belum bisa mencerna soal kenyataan.
Kenapa Mina begitu dekat dengan Mommy Emir?.
Apa ada yang tidak aku ketahui?.
Batinnya penuh kebingungan.