Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Bergerak mendekat



Disisi lain


Arsen terlihat mengeluarkan handphonenya secara perlahan di mana mereka kini berjalan menuju ke arah tangga elevator, laki-laki tersebut mencoba untuk menghubungi mommy nya dan bertanya di mana wanita itu sekarang.


"Mom, katakan pada ku dimana kalian?"


Arsen bertanya dari balik handphonenya ketika panggilannya telah tersambung, tangan kirinya menggenggam arah telapak tangan flong di mana gadis tersebut terus memperhatikan genggaman erat tangan laki-laki tersebut.


Arsen membawa langkah gadis itu menuju ke dalam elevator yang ada di hadapan mereka, sembari tangan kanan arsen terus memegang handphonenya.


"Baiklah aku dan flow akan menyusul ke atas, no mom, kami ada di lantai bawah saat ini tunggulah sejenak"


Ucap laki-laki itu kemudian dengan cepat dia mematikan panggilannya.


Arsen meletakkan handphone nya ke dalam saku celananya lantas dia menoleh kearah Flow sembari dia mengembangkan senyuman nya.


"Mereka sudah menunggu di lantai atas"


Arsen bicara dan membawa Flow menepi di pinggir elevator mengingat ada cukup banyak yang naik bersama mereka, laki-laki itu menatap kearah angka elevator di atas sana.


"Apa aku benar-benar harus ikut juga? Aku cukup malu datang bersama kalian, tuan"


Flow bicara perlahan, merasa cukup tidak pantas berada di sini bersama arsen dan pergi menyusul orang tua serta kakak perempuan Arsen di lantai atas yang tidak diketahui ada di bagian mananya.


Mendengar gadis itu lagi-lagi memanggilnya tuan seketika membuat Arsen mengerutkan keningnya.


"Flow berhentilah memanggil ku tuan hmmm, kamu bisa memanggil ku Kakak, itu terdengar jauh lebih baik, aku bukan atasan mu atau majikan mu"


Laki-laki tersebut sedikit protes dengan panggilan yang disematkan oleh flow untuk dirinya, sudah beberapa kali dia protes dan dia tidak suka dengan panggilan tersebut, baginya terdengar sangat aneh dan dia tidak pantas di panggil tuan oleh siapapun.


Sejak dulu dia lebih nyaman orang-orang memanggilnya pak, sir atau apapun yang bukan kata tuan, itu terdengar terlalu berlebihan seolah-olah dia adalah laki-laki yang berkuasa.


Meskipun orang-orang berkata dia memang penerus kerajaan patler Peterson dimana dia lamban laut akan menjadi satu-satunya pewaris sah 1 induk dengan 3 cabang perusahaan, tapi tetap saja bagi nya semua itu semu, hanya titipan sementara dari Tuhan dan bisa menghilang kapan pun tuhan mau.


Dia tidak bisa membanggakan sesuatu yang tidak abadi bagi dirinya ya satu hari bisa diambil oleh Tuhan kapanpun Tuhan menginginkannya.


Bagi arsen tidak ada perbedaan antara makhluk yang ada di muka bumi ini, tidak ada majikan dan pelayanannya, tidak ada tuan dan budaknya, juga tidak ada orang kaya dan orang miskin.


Semuanya kebetulan, kalaupun orang itu kaya itu artinya bonus yang diberikan oleh Tuhan, kalaupun seseorang itu miskin itu artinya Tuhan tidak ingin mereka mempertanggungjawabkan harta benda mereka di akhirat nanti, sebab sejatinya dia tahu apapun yang dimiliki oleh manusia di muka bumi ini satu hari nanti di akhirat mereka semua akan mempertanggungjawabkannya dan akan dipertanyakan atas semua hak-hak mereka.


Semakin banyak harta seseorang maka semakin besar tanggung jawabnya dan neraka semakin terlihat di pelupuk mata mereka, namun bukan berarti orang-orang yang tidak punya tidak memiliki dosa dan pertanggungjawaban mereka tentu saja memiliki dosa serta pertanggungjawaban yang harus mereka terima di akhirat nanti, hanya saja bertanggung jawabannya bukan berupa harta benda, tapi amal, ibadah dan juga perbuatan mereka.


"Maaf"


Flow bicara pelan, merasa tidak enak karena dia selalu lupa dengan panggilannya.


Sebenarnya tidak murni karena dia lupa tapi karena perbedaan derajat di antara mereka membuat lo cukup sungkan untuk memanggil Arsen kakak, dia cukup tau diri dengan status sosialnya.


Saatnya baru saja berkata seperti itu tiba-tiba dia merasa seseorang mundur ke belakang dan hampir menghimpit tubuhnya, seorang laki-laki bertubuh besar dan tinggi.


Flow seketika langsung menabrak bagian dinding elevator karena terkejut.


Dugggg.


Akhhh.


Dia meringis didalam hati, menatap kearah depan sedikit mendongak keatas laki-laki besar dihadapan nya tersebut.


Melihat hal tersebut, Arsen secepat kilat langsung menarik tubuh flow dan memasukkannya ke dalam pelukannya.


Gadis itu jelas Terkejut.


Arsen jelas langsung menatap laki-laki bertubuh besar tersebut yang menoleh ke arah belakang dia melotot sembari mengerutkan keningnya, laki-laki bertubuh besar itu merasa tidak enak kemudian meminta maaf karena membuat garis di belakangnya harus mengalami insiden kecil seperti tadi.


"maaf, sedikit padat kawan"


"Lain kali lebih berhati-hati"


Ucapkan Arsen cepat, kemudian laki-laki tersebut langsung menoleh ke arah flow masih dalam posisi dia merangkul tubuh gadis tersebut.


"Kamu baik-baik saja?"


Tanya Arsen pelan.


"Tidak apa-apa"


Flow menjawab sedikit malu, wajahnya seketika memerah saat arsen memeluk dirinya.


"Aku bisa berdiri di sudut"


Ucap flow lagi.


"Bergeraklah jika ada yang keluar, tidak maslay, tetaplah seperti ini"


Bisik Arsen lembut.


Lagi Flow hanya bisa menghela pelan nafasnya, dia pikir kenapa Arsen selalu bersikap manis dan baik, benar-benar mengganggu perasaan nya.


Dia bahkan tidak berani bernafas saking gugupnya, rasanya tubuhnya menggigil seketika.


Entah berapa lama mereka seperti ini dia tidak tahu, hingga akhirnya ketika pintu elevator terbuka beberapa orang mulai keluar dari sana, buru-buru melepaskan pelukan arsen dan merasa cukup gugup dengan keadaan.


"Aku baik-baik saja"


Gadis itu kembali bicara sambil menundukkan kepalanya, berterima kasih pada arsen yang telah melindunginya.


Mungkin karena Arsen bukan laki-laki yang gombal dan lain sebagainya, dia juga tuh suka laki-laki yang peduli pada orang lain serta sedikit cuek namun suka membantu orang-orang di sekitarnya maka dia tidak pernah menyadari perlakuan dan tindakannya membuat gelisah orang-orang di sekitarnya terutama perempuan dan para gadis.


Laki-laki itu kembali mengembangkan senyumannya kemudian dia melirik ke arah atas menatap angka di bagian elevator tersebut, dia pikir mereka akan tiba sebentar lagi.


Tidak ada percakapan sama sekali yang terjadi antara dirinya dan flow hingga akhirnya pintu elevator terbuka dan mereka tiba di tempat di mana Mommy dan kakak perempuannya berada.


Lagi laki-laki tersebut menggenggam erat telapak tangan Flow, dia membawa gadis itu menuju ke arah salah satu counter galeri yang ada di sisi kanannya yang ternyata adalah sebuah tokoh perhiasan mewah yang jelas sangat terkenal di sana.


Seketika bola mata flow menantang tempat tersebut dengan tatapan berkaca-kaca, dia pikir tempat ini benar-benar sangat luar biasa, gadis itu terlihat menelan salivanya.


Mereka berdua melangkah memasuki toko tersebut secara perlahan, di mana bola mata Arsen mencari keberadaan Mommy dan juga kakak perempuannya, cukup lama dia mencari hingga pada akhirnya dia melihat di ujung sana kedua orang tersebut tengah berbincang-bincang dengan salah satu pelayan toko perhiasan itu.


Arsen secepat kilat membawa langkah flow mendekati mommy dan kakak perempuan nya, seulah senyuman manis mengambang di balik bibirnya, kemudian dia mulai menyuarakan suaranya dengan cepat, memanggil kedua orang tersebut secara bergantian dengan wajah ceria dan penuh kebahagiaan.


"Mom...kak..."


Panggilnya dengan cepat ketika dia nyaris mendekati kedua orang tersebut.


Flow sendiri berjalan dengan perasaan tidak menentu cukup malu untuk masuk ke tempat tersebut yang dia rasa tidak pantas dia berada di sana.


Mommy Arsen dan kakak perempuan nya langsung menoleh kasar suara, begitu melihat arsen ada di belakang mereka seketika mereka langsung mengembangkan senyuman masing-masing.


Disisi lain Lea yang baru saja merasa kalung pilihannya ditunjuk oleh orang lain, seketika tanpa sengaja ikut menoleh ke arah belakangnya saat dia mendengar seolah-olah seseorang memanggil nama nya.


Entahlah apakah itu halusinasinya atau bukan, tapi dia merasa ada seseorang yang memanggil namanya, dengan cara yang sama persis seperti kakak laki-lakinya Aries di masa lalu.


Jantungnya seketika berdetak dengan kencang, dan dia merasa seakan-akan satu hal yang dia rindukan datang mendekat di antara dirinya saat ini.


Lea langsung menoleh ke arah belakangnya, yang ditatapnya pertama kali adalah sosok seorang gadis yang lebih tua beberapa tahun Dari dirinya, kemudian berikutnya bola matanya tertuju pada seorang laki-laki dewasa yang berjalan sambil mengembangkan senyumannya ke arah dirinya.


******


Jika ada yang bertanya siapa orang yang paling kurindukan saat ini, itu adalah kamu Salah satu bagian yang lahir di tempat yang sama seperti diriku dari rahim mommy.