Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Seketika menjadi panik



Luck secepat kilat keluar mengejar langkah Alestor yang melarikan diri begitu mendengar alaram keamanan berbunyi.


"Sial"


Umpat laki-laki itu saat sadar Alestor telah masuk ke dalam mobilnya membawa Liliana.


4 mobil lainnya mengikuti langkah Alestor melesat entah kemana.


"Aland berikan aku informasi terbarunya"


Ucap luck cepat dari headset bluetooth nya lantas langsung melesat naik ke atas mobilnya.


"Aku fikir mereka sedang berencana melewati kota menuju ke arah jalanan perbukitan sisi Utara"


"Oh shi.t"


Farhan mengumpat saat dia baru saja tiba dari sesi larinya dari lantai atas.


"Kita akan main kejar-kejaran"


Ucap luck lantas meraih pistol didalam mobilnya.


"Kau menyetir, aku yang akan menghancurkan laki-laki sialan itu"


Ucap Farhan lantas Langsung meminta luck bergeser dari posisi nya Dan meminta laki-laki bersiap dengan stirnya untuk menyingkir"


"Kau harus sedikit mengalah dengan si pemarah"


Ucap luck pada bawahannya lantas menunggu Farhan menyerahkan kunci mobil Farhan pada laki-laki itu.


Laki-laki itu melesat turun setelah menerima kunci mobil Farhan.


"Apa aku harus mengikuti perintah kali ini?"


Ejek luck lantas laki-laki itu menyalakan tombol di mobil tersebut, seketika suara music terdengar begitu kencang dan warna mobil itu Seketika berubah berwarna warni.


"Mari berpesta"


Teriak Farhan lantas mengokang Senjata nya.


Tanpa aba-aba luck langsung melajukan mobilnya dengan kekuatan penuh.


Bbrmmmmmmm



******


"Oh breng..sek"


Umpat Bahrat saat luck melewati mobil mereka, laki-laki itu baru saja akan melesat mengejar Alestor dan kawanan nya.


"Kau lihat si breng..sek itu? mereka memberikan kita mobil rongsokan"


Mendengar umpatan Bahrat, ketika Murat terkekeh.


"Aku fikir kita yang tidak minta fasilitas penuh untuk mobil nya"


"Kau benar"


Sahut Aland tiba-tiba dari headset bluetooth nya.


"Kau harusnya ikut bersama kami"


Ucap Bahrat cepat.


"Aku Fikir seharusnya kalian membawa Edo saat ini"


Canda aland sambil terkekeh.


"Hay sialan, aku bisa mendengar mu dari sini"


Edo menyahut dengan ocehannya.


"Dia mendengar nya"


Bahrat ikut terkekeh.


"Oh sial, kau dengar ocehannya"


"Berhenti bercanda, aku sedang fokus saat ini"


Bahrat bicara sambil menginjak pedal gas nya.


mereka saling mengejar dari jalur pinggiran masuk ke jalur kota.



"Ohhh shi..t aku ingat cara dia membawa mobil, sialan itu... saat ke Palembang aku pingsan gara-gara laki-laki itu"


Edo terus mengumpat dari mansion luck, dimana para perempuan tengah tertidur pulas dikamar.


Semua orang tampak tertawa terbahak-bahak saat ingat kejadian malam itu.


"sial, aku fikir tidak ikut saat itu"


Aland menyahut cepat.


"Aku juga tidak ikut"


Murat ikut menyahut.


"Oh lupakan saja"


Edo tampak memunyungkan bibirnya.


"berikan aku lokasi terbaru nya"


Murat tampak bicara kembali, laki-laki itu mulai mengeluarkan senjata nya.


"Mereka akan keluar dari kota,jaga kecepatan kalian"


Aland berusaha untuk mengingat kan.


"Alestor mulai masuk ke jalanan bukit menuju ke arah lautan, aku fikir dia mulai sadar keluarga de Lucas mencurigai nya, wait ada apa ini?'


Ucap aland pelan sambil mengerutkan keningnya, dia memeriksa seluruh kamera jalanan.


"Kenapa?"


"Oh sial, dia membawa perempuan lain didalam mobil itu selain Liliana"


Tambah aland lagi.


"Ya?"


Seketika semua orang mengerutkan keningnya.


"Siapa?"


Aland tampak berusaha memperbesar foto screenshot yang dia dapatkan dari rekaman CCTV nya, seketika bola mata nya membulat, dia menatap dengan pandangan tidak percaya.


"Kenapa Ramira bisa ada di tangan Alestor?"


Tanya Aland panik.


"Apa?"


Seketika semua orang bertanya bersamaan, luck dan Farhan yang mendengar kan suara music langsung mengerem mobil mereka secara mendadak.


Ciittttttt


"Apa?"


"What?"


"Bagaimana bisa?"


Edo secepat kilat mencari handphone nya,dia berusaha mencari nama Ramira di sana dan mencoba menghubungi nya namun yang terdengar hanya suara sang operator seluler nya saja.


"Oh shi..t"