
Vivian duduk menatap Bern yang dimana sejak tadi laki-laki tersebut terlihat menatap tajam kearah dirinya, tidak peduli bagaimana ekspresi wajah Vivian menatap dirinya, Bern tetap memberikan pandangan penuh intimidasi pada perempuan tersebut.
"Kau pikir Arsen adalah Aries yang merupakan sepupu mu? come pandangan mu seolah-olah mengintimidasi ku dan kau memaksa Ku untuk mengakui hal yang tidak pernah aku lakukan"
Vivian masih enggan mengakui, dia mencoba mencari cara membela diri, menyakinkan Bern jika Arsen tetap lah Arsen dan dia bukan laki-laki yang dimaksud oleh Bern.
mendengar ucapan Vivian jelas saja membuat Bern mendengus, dia menatap Perempuan tersebut dengan berbagai macam tatapan yang sulit dijelaskan.
"Apa kau akan bertahan dengan semua kebohongan mu? itu terdengar mengerikan, Vivian"
Laki-laki tersebut bicara, terus menatap tajam ke arah Vivian, di disis kiri dan kanan pintu luar orang-orang Bern terlihat berjaga, namun di sudut yang berbeda beberapa orang Vivian ikut berdiri mengawasi.
Pada masa dulu Bern dan Vivian berada pada satu naungan dunia gelap dimana Bern jelas merupakan bagian paling teratas pada masa nya, meskipun begitu Bern tetap menghargai Vivian karena perempuan tersebut tetaplah seorang perempuan dan Arsen adalah salah satu mafia yang enggan berurusan dengan dirinya sebab Bern tidak suka dengan konsep kepemimpinan Arsen pada masa nya.
Dan kini Bern dan Vivian harus duduk saling berhadapan hanya untuk membicarakan Arsen.
"Kau masih menyakinkan diri jika Arsen adalah sepupu kamu? itu sangat mengerikan sekali, Bern. Kau tahu bagaimana bisa aku mengganti mereka berdua sedangkan aku sama sekali tidak mengenal sepupu kamu tersebut"
Dia masih bersikeras, tidak akan pernah membuka tabir tentang kenyataan, ada alasan dia melakukan hal tersebut, bagi nya dia tidak peduli siapapun Aries karena Bern tidak pernah menyinggung nama Aries selama mereka saling mengenal dulu, bahkan yang dia tahu tidak ada silsilah keluarga Bern dari De Lucas yang memiliki nama tersebut juga.
Mendengar ucapan Vivian yang terus bersikeras tidak ingin mengatakan soal kenyataannya membuat Bern mendengus, dia secara perlahan berdiri dari posisi nya.
Bern meraih rokok di atas meja kemudian meraih nya dan mulai mengambil pamatik besi mendominasi berwarna silver dari kantong celananya.
Setelah menyulut api, laki-laki tersebut menghisap rokok nya dengan gerakan yang begitu santai.
"Kau tahu bagaimana diri ku dengan baik bukan?"
Bern akhirnya kembali membuka suaranya, menyisakan kepulan asap putih yang melayang-layang di udara didalam ruangan tersebut.
"Aku bukan type laki-laki yang suka di ajak berkompromi Vivian, sejak dulu aku pikir kau tahu betul bagaimana aku"
Lagi Bern berkata, menghisap rokoknya secara perlahan, dimana di ujung rokok tersebut terlihat warna merah menyala bergerak membakar benda putih tersebut dalam gerakan pelan namun pasti.
Mendengar ucapan Bern, Vivian menggenggam erat telapak tangan nya, perempuan tersebut mencoba untuk menahan gejolak di hati nya, dia tahu semua tidak baik-baik saja.
Bern bukan laki-laki yang gampang, berhadapan dengan Bern jelas akan melibatkan banyak konflik dan mengancam keadaan, tapi dia tidak juga bisa membuka identitas soal adik nya, alasan khusus nya selain keluarga Patlers Paterson membutuhkan sang penerus kejayaan, dia tidak mungkin mengembalikan Arsen pada titik asal nya dan mengulang kematian pada mommy nya.
Wanita tua tersebut hampir mati pada masa nya, dia melakukan hal tersebut untuk menyelamatkan mommy nya juga, berbagai macam tekanan terjadi pada kehidupan Patlers Paterson dan Vivian jelas tidak akan bisa mundur lagi.
Dia ingat bagaimana kekacauan terjadi pada masa itu, Vivian memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu.
******
Flashback.
(Kembali ke masa lalu)
Patlers Paterson hospital.
jangan ditanya bagaimana perasaan perempuan tersebut saat ini, dia benar-benar terlihat seperti orang yang begitu kacau balau.
"Nona?"
Seorang dokter menatap kearah dirinya, menelisik wajah pucat pasi Vivian.
"Selamatkan dia bagaimana pun caranya"
Vivian memerintah, tidak peduli bagaimana kedepan nya, perintah nya mutlak semua harus berjalan sesuai keinginan nya.
Arsen harus selamat bagaimanapun caranya, dia jelas tidak boleh mati, karena Patlers Paterson butuh pewaris sah nya, Vivian tahu satu-satunya laki-laki didalam keluarga mereka adalah Arsen, dan jika Arsen mati maka anak dari paman nya dan istri muda nya akan naik menjadi pewaris.
Wanita licik tersebut akan terlalu bangsa jika putra nya bisa naik tahta menguasai Patlers Paterson dan pada akhirnya mereka akan berada di bawah kendali wanita ib lis tersebut.
Dokter tersebut hanya bisa menundukkan kepalanya nya, meskipun harapan tersebut sangat tipis mereka harus mengusahakan nya bagaimanapun caranya.
"Baik nona"
laki-laki tersebut menundukkan kepalanya tanda mengerti, bergerak dengan cepat menjauhi Vivian, masuk ke ruangan operasi untuk melakukan prosedur penyelamatan pada Arsen.
Vivian hanya bisa menatap ke arah ruangan kerja tersebut yang tidak tembus pandang dalam jutaan kekhawatiran dan penuh harap, dia masih berharap semua baik-baik saja, juga berharap Arsen akan selamat pada malam ini.
dalam keputusasaan nya, perempuan tersebut duduk menepi, mencoba menetralisir detak jantungnya yang tidak berhenti, dia tidak pernah mengabari siapapun kecuali mommy dan daddy nya yang tahu sendiri dengan keadaan Arsen, kedua orang tuanya tengah dalam perjalanan kesana.
Hingga pada akhirnya tidak tahu berapa lama waktu berlalu, saat lampu di ruangan operasi telah dipadamkan, Vivian langsung berdiri dari posisi begitu pintu ruangan operasi telah terbuka, dia menunggu dan menanti jawaban dari para tim dokter tentang keadaan adik laki-laki nya.
"Dok?"
dia bertanya dengan jutaan kecemasan, alih-alih menjawab dokter laki-laki yang ada di hadapan tampak memejamkan bola matanya sembari menundukkan kepalanya.
Seolah-olah tahu apa yang akan dikatakan oleh dokter tersebut, perempuan tersebut berkata.
"Berikan aku rencana selanjutnya"
*****
Kembali ke masa kini.
masih di sebuah ruangan.
Bern dan Vivian.
"tidak peduli bagaimana caramu mengancam ku Bern, namun tuduhanmu terhadapku tetap tidak beralasan dan kau tidak memiliki sedikitpun bukti untuk mengatakan jika adikku adalah sepupumu"
dan perempuan tersebut masih tetap bersih keras berkata jika arsen tetaplah Arsen dan bukan orang lain.