Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Tamu dadakan



Sejenak Edo menelan Saliva nya saat sang kakak dan kakak ipar nya tiba-tiba datang berkunjung ke Jakarta, Mereka tahu-tahu sudah ada di depan apartemen Edo, menelpon Edo dan bertanya dimana laki-laki itu dan putrinya.


Edo fikir untung mereka tidak sedang melakukan hal yang tidak waras, jika tidak bisa dipastikan Edo bakal dibunuh kakak dan kakak iparnya tanpa basa-basi.


Meskipun sang kakak ipar laki-laki yang begitu santai dan humble, tapi tetap saja sifat mengerikan seorang ayah akan pecah ketika tahu Putri nya jatuh ke tangan yang di anggap nya salah.


Jelas saja salah, Edo yang harusnya menjadi Daddy ke dua Vio, dengan lancang menikahi putrinya tampa seizin Mereka.


Dan kali ini Sumpah, biasanya Edo merupakan type laki-laki paling cool dan begitu aktif, suka bercanda bersama ke dua orang penting nya itu, tapi kali ini Edo jelas kehilangan kata-kata nya dan dia mulai jadi serba salah.


Vio beberapa kali melirik ke arah Edo, bisa dia lihat uncle nya secepat kilat melepas cincin pernikahan mereka.


"Baru pulang kalian do?"


Sang kakak bertanya sambil meletakkan koper mereka ke kamar yang digunakan Vio.


"Iya kak, kenapa tidak telpon dulu kalau mau ke Jakarta? bisa Edo jemput tadi di bandara kalau tahu"


Ohhh God.


Edo bahkan harus menarik nafasnya berkali-kali, melirik arah Vio beberapa waktu.


Dia melirik ke arah handphone nya juga beberapa kali, sebuah pesan WhatsApp dari Farhan cukup membuat dia berfikir 2-3 kali.


Bersikap lah seperti biasa, jika tidak mereka akan mencurigai kalian, insting seorang ibu kadang tidak bisa dibohongi.


Barisan kata-kata Farhan cukup membuat Edo mencoba untuk terus menetralisir perasaan nya, mencoba bersikap se netral mungkin.


Come anggaplah ini salah satu ujian.


Batin Edo.


"Vio nggak susah kan anak nya?"


Tanya kakak nya kemudian, mengeluarkan sesuatu dari dalam paper bag yang ada di tangan nya.


"Awalnya agak ribet, lama-lama cukup menyenangkan"


Edo berusaha untuk bercanda ke arah kakak nya.


"Dia suka makanan pedas loh do, enggak lupa kan?jadi jangan lupa stok banyak cabai di rumah"


Seloroh mama Vio cepat sambil mengeluarkan beberapa macam jenis cabai kering dan bubuk.


Edo secepat kilat menoleh ke arah Vio.


"Seperti nya aku lupa, kamu nggak bilang suka pedas?"


Sang keponakan tampak melebar kan senyuman, tidak menjawab hanya berjalan menjauhi mereka Menuju ke arah dapur.


"Tiap kali di belikan makanan, dia selalu menuruti selera ku, kak"


Edo langsung menoleh ke arah kakak nya.


"Hmmm baru tahu? dia selalu tahu apa yang kamu suka dan tidak kami suka, pantas aja kalau dia nurut selera kamu, Vio mah paham benar selera kamu dari dulu"


Kakak nya bicara sambil terkekeh.


Seketika Edo kembali menoleh ke arah Vio yang tampak sibuk membuat kan minuman didapur sambil ngobrol bersama Daddynya.


"Aku tidak tahu soal itu"


Ucap Edo pelan.


Seketika seolah-olah dia baru menyadari soal sesuatu, jika Vio begitu hapal apa yang sukai atau tidak dia sukai, itu artinya Edo fikir jangan-jangan Vio memang menyukai nya bukan sebagai seorang keponakan terhadap uncle nya, itu artinya Vio memang menyukai dirinya sebagai seorang gadis terhadap laki-laki yang memang di sukai nya untuk waktu yang lama.


Sejak kapan?


Itu yang jadi pertanyaan Edo.


Sejak kapan Vio menyukai dirinya?


"Jadi mumpung kakak di Jakarta yah do, mau nggak nemuin anak Tante Rima?, nanya terus dari kemarin"


Ucap kakaknya cepat.


"Kita buat janji temu yah"


Perempuan itu dengan cepat meraih handphone nya.


"Kalau cocok nggak usah pakai lama, langsung nikah aja"


"Tapi kak.."


Belum sempat Edo menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba saja.


Prangggg


seketika terdengar pecahan gelas memekakkan telinga, vio berdiri disamping Edo, dengan tangan gemetaran dan bola mata berkaca-kaca perempuan kecil itu tampak menatap Edo dan mommy nya bergantian sambil menggigit bibir bawahnya.


Oh shi..t.


Edo jelas kehilangan kata-kata.