
Murat tampak mencoba bicara dengan Aishe, bisa dia lihat wajah cantik itu yang beberapa kali meringis, menarik nafas nya beberapa waktu lantas membuang nya.
Sang istri tampak duduk di atas kolam khusus yang telah di sediakan oleh para tim dokter.
...Hanya visual...
...(Bayangkan ini Aishe+Murat+sang dokter 😘)...
"Apa kamu baik-baik saja?"
Tanya Murat dengan bola mata berkaca-kaca.
Oh shi..t.
Murat fikir kenapa proses melahirkan begitu rumit dan menyakitkan.
"Tidak bisa kah langsung lahir seperti itu? aku fikir istri ku benar-benar merasa tidak nyaman dengan kondisi nya"
Tanya Murat panik ke arah sang dokter.
Yang di ajak bicara tampak tersenyum, dia menggelengkan pelan kepalanya sambil berkata.
"Jangan khawatir soal apapun, semua pasti baik-baik saja, buat diri anda rileks dan biarkan calon Mommy juga rileks, itu akan menjadi satu kekuatan sang Mommy untuk bisa melahirkan tanpa perasaan takut dan tegang"
Yah Murat fikir sang dokter berkata benar, saat dia panik membuat sang istri ikut panik, memicu otak sang calon Mommy untuk berfikir ini tidak baik-baik saja, menimbulkan satu ketakutan jika semua mungkin akan terasa Sulit dan lama.
REALITA NYA KETAKUTAN ADALAH HAL YANG WAJAR KARENA MELAHIRKAN MEMANG TARUHANNYA NYAWA. JUGA, WAJAR JIKA SUAMI MEMIKIRKAN HAL-HAL ATAU KEMUNGKINAN BURUK YANG AKAN TERJADI PADA ISTRI. DIA KHAWATIR APABILA PERSALINAN TIDAK LANCAR.
Hanya suami yang datar mungkin tidak akan merasakan ketakutan sama sekali saat istri mereka melahirkan, sebab bisa Murat rasakan betapa Sulit nya proses tersebut.
Dia Fikir sungguh keterlaluan jika suami tidak memperlakukan sang istri dengan baik, sebab demi seorang laki-laki mereka rela bertarung nyawa hanya demi melahirkan anak-anak mereka juga keturunan untuk sang suami tercinta.
Aishe tampak mencoba berpegangan pada Murat, dia mencoba menyandarkan kepalanya ke tubuh Murat beberapa waktu, sakit nya jangan ditanya, siapa yang tidak tahu bagaimana menyiksanya ketika seluruh perut teras berputar kemana-mana tanpa sebab.
Rasanya kadang ingin kekamar mandi, kadang berdiri salah bahkan duduk pun salah, semua jelas terasa serba salah.
Ingin menangis rasa nya malu, ingin tertawa tidak mungkin, tiba-tiba dia ingat dengan Mommy nya, bola mata Aish terlihat berkaca-kaca.
Kerinduan tiba-tiba menyerang dirinya, bisa dia bayangkan bagaimana berjuang nya sang Mommy saat melahirkan diri nya dimasa lalu, bisa dia rasakan sakit yang sama yang menghantam Mommy nya kala itu.
Aishe fikir andaikan saja, andaikan saja ada Mommy nya di sini, bisa jadi dia akan merengek dihadapan wanita itu dan berkata ini benar-benar menyiksa, aku tidak akan membantah saat Mommy marah karena aku telah melakukan sebuah kesalahan hingga Mommy marah, sejatinya tidak ada satu orang tua pun yang marah tanpa menginginkan kebaikan untuk putra putri nya.
Dia ingin sekali memeluk wanita itu dan berkata
Tapi Realita nya Aishe tahu, itu hanya harapan kosong yang tidak akan pernah terjadi.
Murat tahu apa yang dirasakan Aishe, laki-laki itu secepat kilat mendekati Aishe, dia menggenggam erat telapak tangan Aishe sejenak, lantas mengelus-elus lembut punggung Aishe untuk beberapa waktu.
...Hanya visual MAKKK...
...(Bayangkan ini Aishe dan Murat💋)...
"Jangan menangis, ada aku disini hmmm. Yang tidak akan pernah melepaskan kamu dalam keadaan apapun"
Mendengar ucapan Murat perempuan itu tampak mengembangkan sedikit senyuman nya.
"Kamu terlihat jelek ketika menangis dan meringis kesakitan"
Ucap Murat lagi.
Mendengar ucapan sang suami aishe Tampa terkekeh.
"Katakan padaku, perempuan mana yang terlihat tidak jelek saat melewati proses bersalin?"
Ucap Aishe sambil memeluk dada Murat, dia menggenggam erat telapak tangan sang suami.
"Hmmm mungkin kucing kita dirumah"
"Sayang...."
Rengek Aishe kesal.
Murat tampak terkekeh, dia memeluk erat tubuh Aishe, membiarkan perempuan itu me rileks kan tubuh nya, bisa dia rasakan bagaimana Aishe mencoba mengedan sejak tadi.
Seketika Aishe semakin mengencangkan genggaman nya pada tubuh Murat, Secara refleks dia mengejan sendiri, seolah-olah dibawah sana akan keluar saat ini juga tanpa bisa dia cegah.
"Ini waktu nya sayang"
Tiba-tiba sang dokter berkata cepat, tangan nya yang telah menggunakan sarung tangan Sejak tadi mulai bersiap dibawah sana, menunggu Aishe kembali menarik dan membuang nafasnya.
"Oh god... sayang..."
Aishe merasa sesuatu benar-benar memaksa keluar dari sana saat ini juga.