
Manhattan
Apartemen utama Aland
17.20 pm
Ailee tampak mulai merasa tidak nyaman, sejak pagi perutnya terus berputar-putar tidak jelas, seolah-olah ada kipas angin portabel yang sejak tadi memutar kekiri dan kekanan mengganggu perut nya.
Awalnya dia tidak begitu peduli dan enggan menghubungi Aland, sebab sang suami sedang melakukan janji temu dengan investor di luar, tapi semakin lama perutnya semakin menggila, yang awal nya dengan tempo beberapa jam sekali tiba-tiba menjadi semakin sering.
"Daddy..."
Dia mulai merengek saat melakukan panggilan Video call dengan Aland.
"Kenapa?"
"Perut ku rasanya sakit sekali"
Kali ini air matanya jelas langsung tumpah.
"Grandma dimana?"
Aland jelas panik, di apartemen ada nyonya Burja, dia fikir apa Ailee tidak memberitahukan nenek nya soal sakit perut nya.
"Aku akan panggil kan grandma"
Ailee bicara cepat, mencoba berdiri dari duduknya tapi tiba-tiba dia merasa ada yang merembas dibawah sana, ailee menghentikan langkahnya.
"Dad...aku fikir aku akan melahirkan"
Ucap Ailee sedikit tercekat.
"What?"
Aland jelas panik setengah mati.
"Tidur kembali di atas kasur, Daddy akan hubungi grandma juga Eden"
Dan bisa dibayangkan bagaimana paniknya semua orang setelah itu?.
Bahkan Eden yang masih didalam perjalanan langsung melesat Memutar arah mengejar waktu Menuju ke apartemen Aland tanpa berfikir dua tiga kali setelah menerima telpon dari Aland.
********
Saat melihat Ailee mulai kepayahan menarik dan membuang nafasnya didalam sebuah ruangan yang mendominasi berwarna putih tersebut, seketika Aland meneteskan air matanya.
Bisa dia lihat Betapa payah nya perjuangan melahirkan, seolah-olah seluruh urat di tubuh perempuan terus putus secara bersamaan, bahkan mereka berjuang antara hidup dan mati, tidak lagi memikirkan persoalan makan atau minum, yang jelas terus berjuang bagaimana caranya sang anak lahir dengan baik-baik saja.
Bukan hanya bertarung nyawa antara hidup dan mati dalam jangka waktu sebentar, tapi mereka harus berjuang dalam jangka waktu yang luar biasa lama.
Keringat dingin jelas membasahi seluruh wajah dan tubuh makhluk yang akan dipanggil ibu itu, bahkan hanya bisa mendengar kan instruksi dokter tanpa henti, kadang saat lelah menghantam mereka ingin berusaha terlelap, para tim dokter langsung mengingat kan agar mereka terus menjaga kesadaran diri sevab terlelap sama saja dengan mencari mati.
Tak ada lagi wajah ceria penuh make up atau wajah cantik penuh senyuman, yang ada hanya tangisan, erangan sakit dan peluh semerbak yang bercucuran memenuhi wajah mereka ketika berjuang melahirkan buah hati tercinta.
Genggaman erat dari tangan sang istri seolah-olah terus meminta dukungan ke kekuatan, Aland fikir andaikan saja dia bisa menggantikan rasa sakit Ailee, Aland rela melakukan nya, tapi semua itu jelas tidak mungkin terjadi.
Suara sang dokter terus terdengar dibalik telinga nya, suara deru nafas, tangisan Ailee bahkan teriakan penuh kesakitan itu terus keluar dari bibir indah itu, bahkan sebuah gunting sempat merobek bagian pembuka dibawah sana.
Oh Tuhan, sesulit itukah menjadi seorang ibu?.
Itu fikir Aland sambil memejamkan bola matanya sejenak.
Hingga akhirnya entah berapa jam dirinya berada di ruangan itu, tiba-tiba suatu keajaiban terjadi, bayi mungil tak berdosa yang polos berlumuran darah tiba-tiba hadir diantara mereka, sepersekian detik kemudian tiba-tiba terdengar tangisan histeris dari sang bayi tersebut.
Seketika rasa lega dan takjub terlihat jelas dari bola mata Aland.
Seorang perawat mengembang kan senyuman nya, mengambil bayi mungil itu dari tangan sang dokter, membawanya menjauh dardapan mereka.
Aland langsung menggenggam erat tangan Ailee, mencium lembut kening sang istri yang mulai kepayahan.
Dia fikir proses nya telah selesai, rupanya belum sama sekali, dibawah sana masih harus merasakan sakit kembali saat sebuah jarum dan benang terus bergerak lincah dari tangan sang dokter nya untuk menutup kembali apa yang telah di robek tadi.
Oh god.
Seketika Aland menelan Saliva nya.
Rasanya tiba-tiba air mata nya tumpah, dia seolah-olah merasakan kesakitan yang luar biasa.
"Maafkan aku"
Aland berbisik sambil meneteskan air mata nya, kemudian mencium lembut puncak kepala Ailee.
"Terima kasih untuk banyak hal, sayang"
Ucap nya lagi sambil terus menatap bola mata Ailee.
Sang istri hanya melebar kan senyuman nya sejenak, kemudian dia berusaha memejamkan bola matanya.