
Pernah merasakan perasaan bahagia saat di tegur sapa oleh seseorang? Terasa berdebar-debar dan terasa aneh juga timbul desiran yang menghantam Palung jiwa?!.
Itu bukan perasaan bahagia karena bertemu lawan jenis disebabkan karena jatuh cinta, tapi satu perasaan aneh seolah-olah yang kamu temui merupakan orang yang penting didalam hidup mu dan ini sangat mengganggu diri mu.
Rasanya seperti ada satu ikatan benang merah yang tersambung dan sempat terputus selama bertahun lamanya namun tiba-tiba kini bagian yang terputus tersebut terlihat di depan mata.
Lea sejenak menatap laki-laki yang ada dihadapan nya tersebut, meskipun realita dia sama sekali tidak mengenal wajah laki-laki itu namun ia merasa seolah-olah dia mengenal laki-laki tersebut untuk waktu yang sangat lama, sangat tidak asing, namun coba diingat-ingat dia sama sekali tidak memiliki ingatan soal kapan mereka bertemu atau siapa laki-laki dihadapan tersebut.
"Yang mana yang paling cocok?"
Arsen kembali bertanya dengan gelisah.
Lea terlihat memperhatikan dengan baik cincin di tangan laki-laki dihadapan nya tersebut, cukup lama dia memperhatikan dan menimang.
"Apakah berdasarkan selera mata ku?"
Lea bertanya kemudian menatap laki-laki tersebut dalam, memastikan lebih dulu apa yang diharapkan oleh laki-laki dihadapan nya tersebut.
"Iya berdasarkan selera mata mu"
Ucap laki-laki tersebut sembari mengembangkan senyuman terbaik nya.
"Aku lebih menyukai yang dibagian kanan, itu terlihat manis dan tidak berlebihan"
Ucap Lea kemudian.
mendengar ucapan Lea sejenak Arsen menatap cincin yang ada di bagian tangan kanannya kemudian dia melirik kearah cincin di tangan kirinya.
"Kamu punya selera mata yang sangat baik"
Puji laki-laki tersebut cepat.
Mendengar pujian laki-laki itu seketika membuat Lea mengembangkan senyumannya.
"Itu hanya berdasarkan seleraku"
Jawab Lea kemudian.
"baiklah, aku akan mengambil cincin ini untuk cincin pernikahan kami"
Setelah berkata seperti itu Arsen langsung melirik ke pelayan tokonya, dia meminta perempuan itu membungkus cincin tersebut namun tiba-tiba Lea berkata.
"Sudah yakin dengan ukuran jari nya....?"
Dia menghentikan kata-kata nya, sedikit bingung untuk memanggil Arsen dengan panggilan bagaimana.
"Arsen, itu nama ku, kamu bisa memanggil ku kak, jangan panggil Uncle atau pak, aku belum setua itu"
Canda Arsen cepat seolah-olah tahu kebingungan gadis yang ada di hadapannya tersebut.
Mendengar ucapan laki-laki itu seketika Lea terkekeh kecil.
"Baiklah...kak"
Dan saat dia mencoba menyebut kata kak rasanya begitu tidak asing, hati nya berdesir dan dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata untuk saat ini, rasanya sangat sulit sekali untuk menjabarkan perasaannya.
Arsen yang mendengar Perempuan muda dihadapannya itu memanggil dia dengan kata Kak jelas terdengar tidak asing, membuat dia seketika merasa kan satu sensasi sakit dikepala nya, seolah-olah kata kakak yang diucapkan perempuan tersebut menghantam bagian otak terpenting didalam kepalanya
Dia menyentuh kepalanya dengan tangan kanannya cepat.
"Kamu baik-baik saja, Kak?"
Lea jelas bertanya panik.
"kak apa kamu baik-baik saja?"
"Kak lihat aku, apakah aku cantik?"
"kakak berikan aku benda terbaik yang bisa kamu berikan"
"kak ini hadiah ulang tahun dari ku, ingat ini hadiah ulang tahun, jangan di hilangkan, ada nama ku di sana dan tidak boleh di ganti oleh nama siapapun bahkan kekasih mu sendiri"
"kakak..."
"kak...?"
Kepala Arsen seketika terasa ingin pecah, rasa sakit menghantam dirinya menjadi satu saat ini bahkan arsen tidak tahu kenapa suara-suara itu saling bersahut-sahutan di atas kepalanya, dia terus memegang kepalanya dengan tangan kiri dan kanannya, laki-laki tersebut memejamkan bola matanya sembari berusaha menundukkan dirinya.
Perempuan tersebut jelas panik, begitu juga sampah yang toko yang melihat ekspresi Arsen yang tampak seperti orang kesakitan.
"Tuan, apa ada sesuatu yang salah?"
Dia bertanya sambil buru-buru memutar jalan, mencoba meraih tubuh Arsen dengan keadaan panik.
Seketika keadaan menjadi kacau, di ujung sana ibu dan kakak Arsen ikut panik, begitu juga dengan flow.
Mereka langsung bergerak mendekati Arsen.
"Ada apa?"
Kakak perempuan Arsen jelas panik, bertanya pada pelayan toko dengan perasaan penuh kekhawatiran.
"Tiba-tiba tuan menyentuh kepalanya seperti orang yang kesakitan, nona"
Salah satu pelayan toko tersebut bicara dengan cepat.
"Apa?"
Perempuan itu langsung membulatkan bola matanya, dia langsung menoleh ke arah Arc dan kedua tangannya dengan cepat meraih wajah laki-laki tersebut.
"Arsen lihat kakak, Arden lihat kakak.."
"Ada apa? Vivian ada apa? Apa ada yang salah?"
Sang ibu jelas bertanya panik.
Pertanyaan ibunya perempuannya dipanjangan Vivian terus memegang kedua belah pipi Arsen sembari memaksa laki-laki itu agar terus menatap kedua bola matanyam
"Please lihat kakak Arsen, apa yang kamu pikirkan lepaskan, apapun yang di ingat dan apapun yang terdengar dimasa kemarin lupakan, semua baik-baik saja, Arsen lihat kakak, semua baik-baik saja..."
Vivian bicara dengan cepat, memastikan sama adiknya jika semua baik-baik saja, dia melarang laki-laki itu untuk mengingat apapun soal masa lalu nya.
Tapi alih-alih mendengarkan kakaknya, Arsen merasa seolah-olah isi kepalanya siap meledak saat ini juga, semakin lama suara-suara yang ada di dalam kepalanya semakin menghantam pemikirannya, bahkan dia merasa seolah-olah kepalanya akan pecah saat ini juga.
Lea...Lea...!.
Nama itu menghantam dirinya.
"Arsen..."
Vivian sangat panik, dia benar-benar menegang saat ini, perempuan tersebut berusaha untuk terus bicara pada Arsen seolah-olah ada yang disembunyikan nya selama ini dari semua orang.
Lea ikut panik, dia bahkan bingung harus melakukan apa, meskipun dia tidak mengenal laki-laki tersebut tapi hatinya berkata seolah lagi mengenalnya dengan baik, dia ingin membantu tapi semakin berbicara laki-laki itu semakin meringis kesakitan.
"Sayang please jangan lakukan ini lagi..."
Vivian berusaha untuk mencari sesuatu didalam tas nya, dia mencari botol obat didalam sana, perempuan tersebut terlihat sangat panik dengan tingkah laku aneh nya.
Ibu mereka bahkan terlihat bingung, malah seperti ingin menangis karena tidak paham dengan apa yang terjadi pada putranya.
Flow bahkan lebih panik lagi, mencoba untuk mencari air minum dimana seorang pelayan membantu Mereka, sedangkan beberapa pelayan lain terlihat bingung, ingin membantu tapi mereka jelas memiliki tugas tersendiri.
"No...Lea...Lea.."
Arsen mulai meracau tidak jelas, dia masih memegang kepala nya dan merasa kepalanya tidak baik-baik saja.
Lea jelas langsung membulatkan bola matanya, dia pikir dia belum menyebutkan nama nya pada laki-laki tersebut sejak tadi, Halo kenapa namanya dipanggil oleh laki-laki itu pikir nya.
Di kala panik terus menerjang tiba-tiba saja,
Brakkkkkk.
"Arsen..."
Laki-laki itu jatuh begitu dari posisinya, hal tersebut serta membuat semua orang terkejut, kakak arsen langsung berteriak panik.
"Panggilkan ambulance"
Nyonya Peterson seketika shok berat dan hampir ikut jatuh namun untungnya ada Flow yang buru-buru menyambar tubuh wanita paruh baya lebih tersebut.
Lea jelas mematung dengan jutaan bahasa, seiring tubuh Arsen di angkat oleh beberapa orang, di ujung sana Luck terlihat berjalan dengan terburu-buru masuk ke toko perhiasan tersebut dan mencari sang istri kecil nya.