
Ditengah keadaan yang kacau balau bisa dilihat bagaimana kepanikan Lea saat ini, dia mencoba untuk bergerak mengejar langkah orang-orang di hadapannya, ekspresi wajahnya penuh dengan kesedihan saat dia melihat laki-laki di hadapannya tersebut jatuh pingsan, entahlah rasanya begitu menyedihkan dan sesuatu yang menyakitkan seolah-olah menghantam dirinya.
Tiba-tiba dia teringat dengan kakak laki-laki nya.
Kak...kak...kak...?!.
Perempuan tersebut berguman didalam hati nya, merasa panik sembari Bola mata nya terlihat mulai memerah.
Lea ingin sekali menyentuh tubuh dan wajah laki-laki tersebut, berkata ada apa, semua tadi baik-baik saja, berharap laki-laki tersebut langsung bangun dari tidur nya.
Dia mencoba bergerak untuk maju dan terus mengikuti laki-laki tersebut dan keluarga nya namun selang beberapa detik tiba-tiba seseorang menarik lengannya secara perlahan.
"Sayang, ada apa?"
Luck Stephard memeluk Lea di tengah kepanikan nya, laki-laki tersebut baru saja masuk namun melihat keramaian dia jelas langsung takut jika-jika satu hal buruk menghantam istri nya.
"Laki-laki itu tiba-tiba pingsan"
Lea bercerita, menunjuk pada laki-laki yang kini telah dibawa oleh orang-orang menjauh dari hadapan mereka, bisa dilihat beberapa karyawan toko perhiasan tersebut membantu untuk mengangkat laki-laki tadi.
Begitu mendengar ucapan istri ya Luck Stephard mencoba melirik karena laki-laki tersebut namun sayangnya karena jarak mereka yang mulai cukup jauh membuat Luck tidak benar-benar bisa melihat Luck saat ini.
"Sudah tua? Tiba-tiba pingsan?"
Dua pertanyaan tersebut dilontarkan oleh Luck untuk Lea, laki-laki tersebut mengerutkan keningnya, dia menatap dalam bola mata Lea untuk beberapa waktu.
Terlihat menggelengkan kepalanya secara perlahan.
"Laki-laki tersebut lebih muda dari uncle, dia baik-baik saja sebelumnya,kami sempat mengobrol bersama dan dia mencoba bertanya soal pendapat ku, tapi tiba-tiba seperti orang kesakitan dia terus memegang kepalanya dan pingsan"
Jawab Lea cepat.
Deru jantung Lea jelas tidak beraturan, ketakutan besar menerjang dirinya, dia takut orang akan berpikir jika dia yang melakukan hal tidak baik hingga menyebabkan laki-laki tersebut jatuh pingsan.
"Apa dia akan baik-baik saja?"
Perempuan itu bertanya kepada Luck Stephard, sang suaminya sendiri dengan tatapan cemas.
Melihat kebaikan dan kecemasan Lea, Luck menyentuh kedua belah pipi istrinya.
"Jangan khawatir soal apapun hmmm, jangan memikirkan nya lagi, semua pasti baik-baik saja, dokter akan mengurus semuanya"
Luck Stephard mencoba menyakinkan istri nu dengan cara yang begitu lembut, dia menatap dalam bola mata sang istri nya, dia tahu Lea selalu mudah panik saat melihat seseorang terluka atau terkena musibah.
"Apakah kamu sudah mendapatkan kalung nya? "
Laki-laki itu mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, Luck tidak ingin Lea membahas laki-laki tersebut lagi, karena bagi luck hal tersebut tidak terlalu penting.
Mendengar pertanyaan Luck, Lea secara perlahan menggeleng kan kepala nya.
"Aku belum mendapatkan nya"
Ucap nya pelan.
"Kalau begitu mari kita coba mencari nya lagi, katakan pada ku yang seperti apa kalung yang paling kamu sukai?"
Saat luck bertanya seperti itu, tiba-tiba bola mata nya menangkap seorang pelayan toko meraih sebuah kalung di bagian etalase dimana kalung tersebut merupakan kalung yang menjadi pilihan awalnya, dia pikir mereka tadi seperti nya tidak sempat menunggu orang-orang tadi untuk membawa nya.
"Maaf, apakah itu sudah terjual?"
Tanya Lea pelan pada salah satu pelayan nya.
Perempuan yang ditanya terlihat menggelengkan kepalanya.
"Belum nona"
"Bisa berikan kepada ku?"
Lea Bertanya penuh harap.
"Tentu saja"
Pada akhirnya pelayan tersebut memberikan nya kepada Lea, pelayan tersebut membiarkan Lea untuk melihat nya dan menunggu apakah Lea tertarik untuk membawa nya pulang.
"Apakah ini cantik?"
Lea Bertanya masih dengan perasaan gusar, dia menatap Luck Stephard untuk beberapa waktu.
Luck memperhatikan kalung pilihan istri nya, seulas senyuman mengambang dari Balik bibir nya.
"Kamu bisa memutuskan nya, dan aku pikir ini cantik, elegan namun tidak norak dan kampungan"
Jawab Luck pelan.
Pada akhirnya sang pelayan toko langsung bergerak untuk membungkus kalung tersebut.
Ditengah dalam keadaan menunggu, Lea terlihat diam, pemikiran nya masih melayang jauh, bola mata nya menatap lurus kearah depan, seolah-olah pemikiran nya entah ada di mana.
Dia mencoba merangkai kejadian tadi dimana perasaan nya masih di landa kegelisahan.
"Sayang"
Ucap Lea kemudian.
"Hmm?"
Luck terlihat menoleh, dia bertanya sembari mengerutkan keningnya.
"Aku pikir laki-laki tadi memanggil nama ku sebelum jatuh pingsan"
Ucap Lea lagi.
Luck Stephard terlihat mengerut kan keningnya.
"Maksud nya?"
"Aku tidak pernah memperkenalkan nama ku, katakan pada ku bagaimana caranya seseorang menyebut nama mu sedangkan kamu belum pernah memperkenalkan nama mu pada orang itu"
Entahlah kegelisahan masih menghantam diri Lea, dia masih memikirkan saat laki-laki tadi memegang kepalanya dimana terlihat seperti orang yang sedang kesakitan, kemudian tiba-tiba laki-laki tersebut memegang kepalanya sembari menyebutkan nama nya berkali-kali.
"Dia seperti orang yang kesakitan, memanggil nama Lea sebanyak tiga kali dan tiba-tiba jatuh pingsan begitu saja"
Lanjut Lea lagi.
Mendengar pertanyaan dengan ekspresi bingung dari wajah istrinya jelas membuat Luck bingung.
"Aku masih belum paham dengan maksud kamu, sayang"
Jawab Luck pelan.
"Aku pikir kami seperti orang yang tidak asing yang saling bertemu dan mengobrol bersama, dan aku pikir bola matanya mengingatkan ku pada kak Aries ku"
Lanjut Lea lagi.
"Yah...aku benar-benar yakin, dia memanggil nama ku tadi"
*****
Disisi lain
Vivian terlihat panik, dia berlarian mengejar orang-orang yang membawa adik nya menuju kearah ambulance, bola mata perempuan tersebut memerah, ketakutan jelas menghantam dirinya, dia tahu Arsen sudah lama tidak seperti ini dan hari ini dia pikir pasti ada yang salah dengan adik nya.
Mommy nya dan Flow ikut mengejar langkah, bisa dilihat wanita paruh baya lebih itu menangis terisak, ketakutan besar menghantam wanita tersebut.
Begitu berada didalam mobil ambulance, mereka terus memperhatikan Arsen, para dokter sibuk memasang kan selang infus dan mencoba untuk memberikan pertolongan pertama.
"Jangan lagi"
Mommy Arsen berguman pelan.
Dulu dia pernah melewati masa kritis membawa Arsen, bayangkan bagaimana hati seorang ibu melihat anak nya bertarung hidup dan mati dalam masa kritis nya, dia bahkan pingsan berkali-kali karena takut jika-jika laki-laki tersebut meninggal kan dirinya.
Arsen adalah putra kesayangannya, dia bahkan rela menukar nyawanya untuk Arsen.
Dia tidak sanggup lagi melihat laki-laki itu berada dalam masa kritis dan buruknya, ketakutan terbesarnya adalah saat dia kehilangan Arsen, dimana dimasa lalu para dokter pernah berkata putranya telah menghembuskan nafas terakhirnya.
Dia benar-benar merasa dunia nya berputar-putar 180°, dia nyaris gila dan ikut mati rasa, tidak ingin bangun dari tidur panjang nya hampir 6 bulan karena berita kematian Arsen, dia hidup tapi enggan bangun, dia benar-benar melewati masa kritis dengan caranya sendiri karena dia yakin putra nya baik-baik saja.
Hingga akhirnya apa yang dia harapkan terjadi, tiba-tiba saat dia terbangun dari tidurnya Arsen berada tepat dihadapan nya, menggenggam erat telapak tangan nya sembari berkata,
"Mom..ayo bangun dan mendapat kan makan pagi bersama"
Jadi dia pikir kali ini jangan lagi Arsen menakuti dirinya dengan kematian palsu yang tidak dia inginkan sama sekali.
"Mom jangan khawatir soal apapun, aku yang akan mengurus semua nya"
Tiba-tiba Vivian berbisik lembut dibalik telinga nya.
Yah dia tahu Vivian selalu bisa di andalkan, menjaga adik nya dengan cara yang luar biasa.