
Edo jelas terbelalak kaget saat masuk ke dalam kamar yang setengah tidak terkunci itu, dimana seorang laki-laki telah berada tepat di atas Ramira, mengeranyangi tubuh perempuan itu yang nyaris tidak sadarkan diri, pakaian Ramira nyaris terbuka secara keseluruhan, dan laki-laki itu nyaris saja menghancurkan Ramira.
"Bajingannnn"
Edo berteriak penuh kemarahan, menarik laki-laki yang telah bertelanjang dada itu hingga terjungkal ke lantai.
Buggggg
1 pukulan melesat kasar di wajah laki-laki itu.
Bugggggg
pukulan ke 2 jelas lebih mengerikan.
Vio tampak menangis terisak melihat kondisi untie Ramira nya yang tampak tidak berdaya, perempuan itu bahkan mulai kehilangan kesadaran nya, secepat kilat Vio menyelimuti untie Ramira nya, menutupi tubuh itu agar tidak ter ekspos sebab beberapa orang mulai berdatangan karena terkejut dengan situasi kamar sebelah.
Kericuhan terjadi disana, Edo memukul laki-laki itu tanpa ampun, Farhan tiba-tiba menyeruak masuk dengan wajah panik, sebab Edo menghubungi dirinya dan berkata jika Ramira berada di club malam xxxxxxx dimana tidak jauh dari dia berada.
"Apa-apaan ini?"
Farhan jelas terbelalak kaget melihat kondisi Ramira, rahangnya mengeras, bola matanya membulat sempurna, kemarahan nya jelas membuncah saat dia melihat Ramira terlihat tidur di atas kasur dalam keadaan tidak berdaya sedangkan Edo memukul seorang laki-laki tanpa ampun di hadapannya.
Secepat kilat Farhan itu menarik tubuh laki-laki yang ada dihadapan Edo itu, dia ikut memukul laki-laki itu sambil bertanya dengan penuh kemarahan.
Brakkkkk
Farhan menghantam tubuh laki-laki itu ke arah dinding.
"Siapa? siapa yang memerintah kan kamu melakukan ini semua?"
Laki-laki itu terkekeh, dia menatap Farhan dengan pendangan penuh permusuhan.
"Apa itu penting siapa yang memerintah kan aku untuk melakukan nya?"
Laki-laki itu malah balik bertanya.
"Kau.... berani sekali kau..."
Brakkkkk
Farhan kembali menghantam tubuh itu dengan keras ke dinding.
Beberapa orang tampak panik, tidak ada yang berani melerai atau membantu, sebab mereka tahu jika Farhan sudah marah maka akan lain ceritanya.
"Kebiri saja milik nya"
Tiba-tiba Vio berdiri di belakang Farhan, menatap penuh kebencian ke arah laki-laki itu dengan bola mata berkaca-kaca karena sempat menangis tadi, tangan kanan nya tampak menggenggam sebuah pisau cutter yang dia dapatkan dari dalam tas milik nya sendiri.
"Kebiri saja jika tidak mau bicara"
Ucap Vio dengan suara yang begitu datar dan dingin.
Edo fikir bagaimana bisa sang istri berubah menjadi seperti itu ketika dia marah.
Farhan secepat kilat menerima cutter itu tanpa banyak bicara.
"Hentikan, akan aku katakan...."
Oke laki-laki itu bisa melawan dalam keadaan apapun itu, tapi saat mendengar miliknya akan dikebiri jelas saja dia tidak Sudi.
Dia Fikir Bagaimana mungkin dia bisa hidup tanpa barang milik nya.
"Siapa?"
Farhan bertanya dengan bola mata yang sangat memerah karena diliputi jutaan kemarahan.
"Nyonya Oh ha Ra"
Ucap laki-laki itu Cepat.
"Apa?"
"What?"
Seketika semua orang membeku.
Ramira samar-samar masih bisa mendengar kan ucapan laki-laki itu di antara kondisi nya yang setengah tidak sadar akibat efek obat yang dia tidak tahu apa.
Nyonya oh ha Ra? Mommy Asha?
Seketika air mata Ramira tumpah.
Apa aku pernah mengambil sesuatu milik kalian? apa aku pernah menyakiti perasaan kalian? apa aku pernah menolak permintaan anda nyonya untuk melakukan segala sesuatu yang kamu inginkan?.
Saat anda bilang berhenti lah terlalu sering datang kerumah sakit, jangan terlalu sering menemani nyoya Burja agar Asha yang mengurusi nya, aku menurut.
Saat anda bilang biarkan Asha yang dekat dengan Belle, agar gadis itu bisa lebih dekat dengan Eden melalui Belle, aku menurut.
Saat anda bilang jangan lagi memberikan banyak perhatian pada Eden agar Asha yang menghandle Eden, aku menurut.
Saat anda bilang Asha sakit dan sekarat, biarkan Eden yang menikahinya, aku berfikir untuk menolak lamaran Eden dengan pertimbangan berat meskipun hati ku terluka aku juga menurut.
Bahkan saat anda bilang menjauh dari Eden, pergilah sejauh mungkin dari Indonesia setelah seluruh urusan Eden selesai nanti aku juga sedang merencanakan nya.
Lalu seperti ini kah balasan rasa terima kasih mu atas sejuta cara mengalah ku untie?
Aku cukup tahu diri selama ini, aku ini siapa sampai harus jatuh cinta pada Eden? aku hanya seonggok sampah yang memang tidak pantas bersama dia, tapi bukan begini cara nya untuk menyingkir kan aku, sebab aku jelas seseorang yang tahu diri siapa diri ku, aku cukup sadar dimana posisi ku.
Aku memang akan menyingkir secara perlahan dari Eden, tapi jangan samakan aku dengan kotoran, yang bisa kamu injak dengan cara mengerikan.
Aku juga seorang anak dari seorang wanita yang ingin putri nya bahagia, aku juga seorang anak dari seorang wanita yang jika Mommy ku masih hidup akan ikut memperjuangkan kebahagiaan ku, tapi aku yakin Mommy ku meskipun seorang wanita miskin, dia punya hati nurani untuk menjaga perasaan seorang anak perempuan dari wanita lain.
Sebab sejatinya tidak ada ibu yang tidak mencintai anak-anak nya, tapi ada etika yang harus kita jaga dan kita ajarkan pada anak-anak soal Bagaimana cara mendapatkan kebahagiaan untuk mereka. Dari cara baik kah atau cara yang curang kah?!.
Karena Dari Tangan Ibu, anak-anak Akan Banyak Belajar tentang kehidupan, dan ibu akan menuntun mereka menuju ke dua arah antara Surga atau neraka.