
Belum pula selesai urusan dengan Lea, tahu-tahu Belle ikut masuk ke dalam, membulatkan bola matanya sambil berkata.
"Uncle disini juga?"
Oh shi..t.
Bolehkah aku menenggelamkan diri ku ke dasar lautan saat ini?
Grrrrhhhhh
Umpat Eden dalam hati.
Bukan kenapa, malu nya luar biasa waktu ketahuan bersembunyi disisi kiri Ramira, belum lagi rasa takut yang menggebu-gebu jika Ramira enggan bertemu dengan nya.
Ssraatttttt
seketika kain penyekat seperti gorden itu di tarik Lea dengan cepat.
"Apa kakak terluka juga?"
Tanya Lea sambil menatap khawatir ke arah kak Eden nya.
Oh god.
Begitu kain penyekat di sibak, Seketika bola mata Eden dan Ramira bertemu, laki-laki itu menaikkan tangan nya sambil berkata.
"Hehehe Aku ketiduran"
Ucap Eden sedikit berbohong sambil cengar-cengir kuda.
Ramira tampak menelan salivanya, dengan ekspresi bingung perempuan itu masih menatap wajah laki-laki itu untuk beberapa waktu, jantung nya jelas berdetak begitu kencang, perasaan nya bercampur aduk menjadi satu, tiba-tiba perut nya terasa menjadi tidak enak.
Eden ingin bicara tapi tahu-tahu rasa mual menghantam diri nya.
Oh sayang no...!!!
Eden fikir saat ini dia ingin memuntahkan semua isi perutnya Secara tiba-tiba.
Sepersekian detik kemudian laki-laki itu langsung berdiri dan melesat menuju ke arah kamar mandi, dia benar-benar memuntahkan seluruh isi perut nya tanpa terkecuali.
"Kenapa dengan kak Eden?"
Lea mengerutkan keningnya.
"Sudah 1 bulan lebih Daddy seperti itu, persis seperti orang hamil, saat di trimester pertama aku mengalami hal seperti itu, bukan kah aneh jika laki-laki Mengalami proses morning sickness? muntah? bahkan Daddy suka cari makan yang aneh-aneh, Daddy Aland bilang mungkin efek setelah kejadian kecelakaan menyelamatkan diri ku dulu, tapi dokter bilang tidak ada yang aneh didalam tubuh Daddy, uncle Edo bilang mungkin Daddy terkena efek couvade syndrome atau sympathetic pregnancy, kan Mommy Ramira hamil?"
Ucap Ailee panjang lebar.
Seketika Ramira membulatkan bola matanya.
"Adik ku sangat pintar menyiksa Daddy"
Ucap Ailee sambil terkekeh senang.
"Sungguh kasihan sekali"
Tambah Ailee lagi.
Belle yang melihat Eden kepayahan dikamar mandi langsung membantu memijat-mijat tengkuk laki-laki itu.
Lea ikut terkekeh, lantas tiba-tiba perempuan itu tampak sedikit bingung.
"Ada yang seperti itu? hmmmm kalau begitu aku harus banyak-banyak berdoa ketika aku hamil biar Luck yang merasakan efeknya, bukan kah itu terlihat lucu?"
Kekeh Lea lagi lantas langsung duduk disamping Ramira.
Ramira tampak terdiam, bola mata melirik ke arah kamar mandi, menatap ke arah pintu yang terbuka tersebut, bisa dia dengar suara samar-samar Eden yang tampak begitu tersiksa itu.
Semenyiksa itukah? aku tidak tahu kamu terkena couvade syndrome.
Ramira menggigit bibir bawahnya.
Rasanya ingin sekali dia membantu, memijat Tengkuk nya atau bahkan memeluk nya seperti dulu.
Tapi Seketika Ramira sadar, ada banyak sekali jarak yang terbentang di antara mereka, suka tidak suka mereka jelas sudah tidak mungkin kembali bersama seperti dulu lagi, bahkan jarak yang dulu pernah ada pun semakin terbentang jauh di antara mereka, seperti dua bangunan yang saling berseberangan di hadang dinding kokoh lainnya dan jalanan lebar yang dilewati lautan manusia, mereka tidak mungkin saling menggenggam atau bahkan saling bisa mempedulikan.
Sepersekian detik kemudian Eden keluar dari kamar mandi, wajahnya benar-benar terlihat kelelahan, ada rasa sedih dibalik wajah Ramira saat melihat ekspresi Eden yang seperti itu.
Tiba-tiba seseorang kembali muncul dari arah pintu depan, Edo mencari sosok Eden didalam sana.
"Eden?"
Edo tampak bicara sambil menatap panik ke arah laki-laki itu, semua orang terlihat menoleh ke arah Edo.
"Ada apa?"
Tanya Eden sambil menaikkan ujung alisnya.
"Ini cukup darurat, kau harus ikut aku sekarang"
Ucap Edo cepat.
Seketika semua mengerutkan keningnya.