
Masih di masa lalu
Liburan semester kedua
Masa SMA
Prancis
Gadis itu melangkahkan kakinya secara perlahan menuju ke perusahaan Al Jaber yang terletak di pusat kota Paris itu, hubungan dia dan Daddy nya tidak terbilang cukup baik, setelah kematian Mommy nya selama bertahun-tahun lama yang lalu Lea memilih lebih banyak tidak berinteraksi dengan Daddy dan kakak nya, dia lebih fokus dengan urusan sekolah dan teman-teman nya saja.
Lea memiliki sebuah keyakinan jika kematian Mommy nya si sebabkan penuh oleh sang Daddy.
Awalnya liburan ini hanya untuk bertemu untie Ramira nya, gadis cantik itu pulang ke Prancis untuk waktu yang cukup lama, satu-satunya orang yang peduli pada dirinya adalah Ramira, gadis itu selalu menjadi penguat untuk dirinya tiap kali hatinya hancur dan terluka karena Daddy nya.
Hari ini Lea jelas tidak ingin bertemu Daddynya, tapi salah satu keluarga jauh Al Jaber memberikan kabar jika Lea berada di Paris hingga akhirnya sang Daddy menghubungi dirinya dan meminta dia untuk berkunjung ke perusahaan Al Jaber.
Daddy nya selalu berusaha untuk mendekati diri Lea untuk waktu yang cukup lama, sebab dia tahu seiring berjalannya waktu hati Lea benar-benar mati untuk sang Daddy, tidak ada senyuman, tidak ada interaksi yang baik antara ayah dan anak, tidak ada obrolan lagi, tidak ada candaan lama, Lea benar-benar menjaga jarak pasti dalam hubungan mereka.
"Datanglah ke perusahaan"
Ucap Daddy nya dari balik handphone nya.
"Aku harus pergi bersama untie Ramira"
Ucap Lea dengan suara yang begitu datar.
"Ada yang ingin daddy berikan pada mu, sebentar saja"
Lea tetap enggan melangkah, tapi untie Ramira nya berkata agar dia melakukan kunjungan kali ini saja, anggaplah untuk menghargai laki-laki itu sebagai sosok seorang Daddy.
Tapi realita nya ketika Gadis kecil itu tiba di perusahaan, bola matanya menangkap sosok perempuan cantik seusia Mommy nya, Tampak begitu intim bicara dan menatap Daddy nya.
Dia pernah beberapa kali melihat perempuan itu, di Indonesia bahkan di Paris dulu.
"Nona?"
Seorang security menundukkan pelan kepalanya, dia tahu sang nona muda dulu acapkali berkunjung ke perusahaan bersama nyonya Malika mommy Lea, tapi ini adalah kunjungan pertama Lea tanpa wanita itu disisi nya setelah bertahun-tahun yang lalu.
Bola mata Lea terus menatap pemandangan dari arah bawah, bola matanya terus menatap elevator kaca yang terus berjalan Menuju ke atas.
Sang Daddy dan perempuan itu tampak begitu menempel dengan sempurna.
"Dia siapa?"
"Maafkan saya nona"
"Katakan saja, bukankah aku cukup berhak tahu?"
Lea bicara sambil menatap laki-laki disampingnya itu dengan tatapan yang begitu tajam serta kaku.
"Dia...."
Laki-laki itu tampak ragu menjawab pertanyaan dari Lea.
"Istri ke dua Daddy ku?"
Tanya Lea lagi, bola matanya kembali tertuju ke atas.
"Ya, nona"
Lea tampak menggenggam erat telapak tangan nya, gadis itu membalikkan tubuhnya secara perlahan lantas dia mengeluarkan handphone nya dari dalam tas nya, mencoba untuk menghubungi seseorang.
"Halo...Ini aku"
Ucap Lea sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke arah depan.
"Mari membuat kesepakatan nya"
Ucap Lea dengan suara yang begitu datar.
"Aku tahu tentang sesuatu di masa kemarin, soal kematian untie Valentine, soal putri kandung nya yang ada di sekolah ku, tentang perempuan yang merebut semua milik ku dan tentang sebuah rencana untuk menghancurkan daddy ku"
Ucap Lea kemudian dengan bola mata berapi-api.
"Aku memiliki keyakinan lain soal Mommy, aku akan membantu membawa putri untie Valentine menjadi istri uncle aland, kemudian membawanya masuk menuju keluarga Al Jaber, tapi dengan syarat aku ingin 1/2 saham milik daddy ku menjadi atas nama ku setelah kalian meluluhlantakkan nya hingga akhir"
Lea mematikan handphone nya secara perlahan, kemudian dia menghentikan langkah kakinya, menoleh ke arah belakang sambil memejamkan sejenak bola mata nya.
Barisan kata-kata kembali terngiang di telinga nya.
"Daddy mu yang memusnahkan Mommy mu"
"Perempuan itu mendapatkan ½ saham Karlos Al Jaber dengan cara yang begitu manis, jika kamu bergerak lebih lamban, bisa aku pastikan ½ nya lagi akan jatuh ke tangan mereka''
Dan ucapan Mommy nya sebelum dia kehilangan wanita itu kembali terngiang di balik telinga nya.
"Sayang wanita tangguh itu tidak tercipta untuk menangis, tersenyumlah dan Jangan pernah libatkan hati mu untuk siapa saja"