Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Mendiskusikan kembali keinginan



Vio tampak menggeliat sejenak dari tidur nya, rasa lelah setelah hampir satu hari satu malam melewati perjalanan panjang Manhattan-indonesia membuat semua tubuhnya terasa remuk.


Hari ini dia benar-benar belum mau bangun dari kasur nya, belum sanggup melakukan aktivitas apapun, sebab kaki, tangan bahkan tubuhnya rasanya benar-benar kebas dan lelah.


Tapi...


Begitu ingat status dia adalah seorang istri, bola mata Vio secepat kilat terbuka, dia tidak mungkin mengabaikan suami nya, laki-laki itu pasti butuh sarapan, pakaian dan semua hal yang diinginkan.


Perempuan itu masih dengan perasaan lelah mencoba bergerak dari tidurnya, membiasakan bola matanya pada cahaya lampu yang ada di atas kepalanya, sejenak Vio menghela perlahan nafasnya, dia fikir harus segera beranjak dari posisinya sekarang juga.


Tapi tiba-tiba sebuah suara terdengar dari sisi kanannya.


"Sudah bangun?"


Suara itu terdengar begitu lembut, sebuah tangan melingkar dibalik pinggang nya.


Buru-buru vio menoleh ke arah belakang nya.


"Sayang?"


"Tidak usah bangun jika masih lelah"


Bisik Edo dibalik telinga nya.


"Tapi uncle harus pergi ke rumah sakit kan?"


Ucap Vio sambil mencoba mengucek-ucek matanya nya.


"He em, tapi aku sudah menyiapkan sarapan kita dan jangan khawatir soal pakaian kerja ku hmm"


Mendengarkan ucapan Edo seketika Vio melebarkan senyumannya.


"Masih lelah? dimana yang sakit?"


"Pinggang ku rasa nya seolah-olah mau copot"


Rengek Vio pelan.


"Kemarilah"


Edo langsung memeluk vio, dia memijat-mijat vio dengan tangan kanannya, sambil tangan kirinya terus mengencangkan pelukannya.


Vio mendongakkan kepalanya, memasukkan wajahnya kedalam ceruk leher Edo, menikmati pijatan sang suami sambil mencoba memejamkan Kembali bola matanya.


"Hmmmm"


Vio kembali mencoba terlelap dalam tidurnya, rasanya begitu nyaman dan enak.


"Sayang"


Ucap Vio pelan.


"Hmmm"


"Apa kita lepas saja pengaman nya?"


Sejenak Edo menghentikan gerakan tangannya.


"Kenapa tiba-tiba?"


Tanya Edo pelan lantas kembali memijat punggung Vio, menikmati moment indah mereka setelah berminggu-minggu tidak mendapatkan waktu bersama karena kesibukan kesana-kemari selama berada di Manhattan kemarin.


"Yakin ingin memiliki buah hati sambil kuliah?"


Tanya Edo lembut, dia kali ini membiarkan vio berpindah posisi, sang istri mulai menengkurap kan tubuhnya, secara perlahan laki-laki itu memijat kaki Vio mulai dari telapak kakinya.


"Hmmm"


Vio menganggukkan kepalanya.


"Karena melihat anak Ailee?"


Tanya Edo lagi.


"Uncle..."


Vio langsung membalikkan tubuhnya, menatap dalam bola mata Edo.


"Benar-benar sudah menginginkan nya?"


Tanya Edo sambil mencoba berbaring tepat disamping Vio.


"Hmmm"


Vio kembali mengangguk.


"Kamu tahu sayang? Banyak orang berfikir Hamil sambil mendapat kan kuliah akan mudah, realita nya itu tidak semudah apa yang kita pikirkan hmm"


"Saat memutus untuk memulai program kehamilan, kamu mesti mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin, harus siap sedia dengan segala konsekuensinya. Kamu bukan hanya harus bisa mengatur waktu, tidak hanya sekedar fokus untuk belajar, mengerjakan tugas kuliah, dan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, tetapi juga kamu harus bisa mengatur keadaan kamu dan keluarga kecil kamu nanti nya"


Vio mencoba mendengar kan Edo dengan seksama, dia tampak diam sambil menatap langit-langit kamar mereka.


"Akan sangat sulit menjalankan semua nya secara bersamaan untuk kami, sejatinya kamu masih cukup labil dan pasti belum yakin membagi banyak waktu secara bersamaan, bahkan bisa jadi kak Atifa dan kak Najat akan keberatan saat kamu memutuskan untuk memilih hamil dimasa kuliah Hmmmm"


Setelah berkata begitu Edo Tampak mengulas senyuman nya.


Vio tampak menghela pelan nafasnya, dia fikir Edo benar, mungkin ini belum saat yang tepat untuk dirinya memutuskan hamil dan memiliki anak saat dalam waktu dekat, akan ada banyak pertimbangan besar yang harus dia fikirkan, dia mungkin akan kesulitan mengingat dia merupakan perempuan yang grasak-grusuk dan selalu terburu-buru melakukan banyak hal.


Realita nya ingin memiliki seorang anak itu harus dengan Persiapan yang begitu Matang, meskipun Edo mungkin sudah siap, dia fikir bisa jadi sebenarnya dia lah yang belum siap sama sekali dengan seluruh keadaan dan konsekuensi nya.


"Mari mendiskusikan nya kembali saat kita telah melepas lelah besok hmmm, kita bisa mencoba menyusun jurnal terlebih dulu dan memastikan soal persiapan matang dari diri kamu"


Ucap Edo sambil memeluk erat tubuh Vio dan memasukkan sang istri kedalam dekapannya.


"Hmmmm


Vio tampak menganggukkan kepalanya secara perlahan.