
Disisi lain
2 Minggu Sebelum persiapan penyerangan
terhadap Brenda dan Alestor
Kediaman keluarga besar Stephard
Manhattan
Ramira menggenggam erat telapak tangan nya saat Grandma Stephard bertanya persoalan undangan pernikahan dia dan Farhan, tidak tahu kenapa Ramira merasa masih belum siap dengan semua nya, hati nya masih menolak untuk menikah dengan Farhan.
Belum lagi hal baru lain nya menghantam Ramira, dia belum lagi mendapatkan tamu bulanan nya, jika dia tidak salah menghitung ini sudah masuk bulan ke 2 bahkan hampir masuk bulan ke 3 dia belum mendapatkan tamu bulanan nya.
Bahkan Ramira cukup cemas menghitung kapan terakhir dia bersama Eden, dia fikir malam itu Eden benar-benar tidak membuang nya di luar, laki-laki itu membuangnya didalam.
"Ramira? sayang?"
Grandma bertanya cepat ke arah nya, membuat Ramira terkejut dari lamunannya.
"Ya?"
Tanya Ramira cepat.
"Sudah menentukan model undangan nya? grandma fikir 2 bulan ke depan tanggal yang cukup bagus, jika kamu memilih bentuk undangan nya sekarang, mereka langsung mengerjakan nya dalam 1-2 minggu ini kemudian kita bisa mulai menyebarkan undangan nya"
Grandma Stephard terus bicara.
"Sebab seluruh keluarga cukup jauh, kita butuh waktu lama untuk menyebarkan undangan nya"
Lanjut wanita tua itu lagi.
Ramira masih berusaha meremas tangan nya.
"Apa masih ada yang membebani fikiran mu, nak?"
Mommy Farhan bertanya sambil menggenggam erat telapak tangan Ramira.
Ramira menggeleng pelan.
"Sampaikan pendapat mu nak, jika ada yang terasa kurang atau mengganjal kamu bisa mendiskusikan nya bersama kami hmm?"
Sejenak Ramira menggigit bibir bawahnya.
"Bisakah aku membawa konsepnya ke apartemen? aku akan memilihnya dalam beberapa hari ini"
Ucap Ramira pelan.
"Apa kamu dan Farhan bertengkar?"
"No..mom"
Perempuan paruh baya lebih itu menghela pelan nafasnya.
"Aku pikir wajah mu belakangan sedikit pucat"
Mommy Farhan kembali bicara.
"Aku hanya kurang istirahat, mom"
"Kalau begitu kamu pulang dan istirahat lah, bisa berikan konsep undangan nya dalam beberapa hari kedepan, untuk urusan gaun, gedung, makanan dan lain nya jangan khawatir, Mommy sudah meng handle semuanya, kita hanya tinggal menunggu undangan nya"
Jawab Mommy Farhan lagi.
"Aku fikir kamu harus memeriksakan kondisi kesehatan mu ke dokter, wajah mu benar-benar terlihat pucat, nak"
Grandma farhan bicara cepat sambil menatap khawatir wajah cantik dihadapan nya itu.
"Semua orang saat mendekati acara pernikahan memang seperti itu, perasaan bercampur aduk menjadi satu"
Mommy Farhan tampak mengembangkan senyuman nya.
Ramira hanya mengangguk kan pelan kepalanya.
********
Sejenak Ramira mencoba menarik pelan nafasnya, dia menatap alat tes kehamilan yang ada di tangan nya, dengan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu Ramira mencoba bersandar sejenak didinding toilet apartemen nya.
Perempuan itu cukup ragu untuk mencoba nya, tapi dia tidak mungkin tidak mencoba menggunakan alat itu saat ini, sejenak dia berpegangan pada wastafel kamar mandi, mencoba menetralisir jantung nya untuk beberapa waktu.
Secara perlahan ramira menetes kan urine nya ke alat tes kehamilan tersebut, dia Tampak memejamkan bola matanya sejenak.
Cukup lama Ramira memejamkan bola matanya sambil berusaha menghitung mundur waktu, hingga akhirnya secara perlahan dia membuka kedua bola mata nya.
Seketika Ramira terdiam saat melihat hasil dari alat tes kehamilan tersebut.
Sepersekian detik kemudian tiba-tiba Ramira meraih handphone nya dan mencoba menghubungi seseorang.
"Ini aku"
Ucap Ramira pelan.
"Bantu aku menyiapkan tiket keberangkatan untuk bulan depan, aku fikir akan membatalkan pernikahan nya seperti perjanjian awal ku dengan Farhan"
Ucap perempuan itu pelan lantas menyentuh lembut perut nya.
Mommy tidak butuh siapapun, cukup mommy, kamu dan kenangan masa lalu.