
Uncle Asha menggelengkan pelan kepala nya saat Daddy Asha telah pergi menghilang dari hadapan mereka, meninggalkan Eden dan diri nya.
"Kita telah kehilangan kesempatan untuk pendonor nya, meskipun dipaksakan untuk melakukan operasi realitanya kondisi Asha sudah tidak memungkinkan lagi, kakak ku hanya berpura-pura semua baik-baik saja, menyakinkan semua orang jika Asha akan mendapatkan pendonor nya"
Ucap laki-laki paruh baya itu cepat.
"Dia sedang menipu dirinya sendiri, menipu Istrinya Oh ram dan semua orang, padahal dia tahu semua sudah tidak memiliki jalan"
"Penyakit putri nya sudah masuk tahap stadium empat, Asha sudah mengalami kekurangan keping darah"
"Selain itu, paru-paru nya mulai mengalami kerusakan, tidak dipungkiri beberapa organ lain nya akan mulai tidak berfungsi"
Mendengar ucapan laki-laki itu seketika Eden terduduk.
"Kau pun seharusnya tahu itu, kenapa kamu maju melepaskan Ramira dan menggenggam tangan Asha karena sejak awal kamu sudah tahu itu, Asha pada akhirnya akan pergi meninggalkan semua orang"
Mendengar ucapan laki-laki itu seketika Eden berdiri.
"Katakan pada ku tidak ada cara lain kah?Aku yakin kita masih punya harapan, bukankah Tuhan yang mengatur segala sesuatu? persoalan hidup dan mati juga tuhan yang mengatur nya"
Eden bicara sambil menarik kerah baju laki-laki itu, dia marah tiap kali orang-orang bicara soal kematian.
"Jangan membuat keputusan yang kita pun belum tahu"
"Apa kamu ingin menyangkal nya? kita sudah lama kehilangan kesempatan karena itu kamu pura-pura mencintai nya, kamu tahu dia sudah tidak punya kesempatan kedua"
Laki-laki itu bicara sambil menatap tajam bola mata Eden.
"No...aku tetap percaya Asha masih punya kesempatan"
"Tapi Tuhan selalu tahu mana keputusan terbaik yang harus diri NYA ambil"
Seketika Eden berteriak kesal, mendorong tubuh laki-laki itu dengan penuh kemarahan, laki-laki itu membalikkan tubuhnya, keluar dari ruang itu sambil membanting kasar daun pintu.
Eden bersandar di daun pintu itu sambil meraup kesal wajah nya, bola matanya memerah, dia mulai menumpahkan air matanya.
Hingga batas mana engkau menguji ku? aku akan terus berjalan mengikuti waktu.
*******
Asha tampak mengembangkan senyuman nya,. menatap Eden yang sejak tadi terus setia mendampingi nya, dia memperhatikan setiap lekuk wajah Eden, rahang indah itu, wajah tampan nya bahkan seluruh hal yang ada didalam diri Eden hang membuat dirinya jatuh cinta pada laki-laki itu untuk waktu yang cukup lama.
Meskipun Eden tidak pernah mengatakan nya, dia tahu Eden sedang berusaha untuk membohongi dirinya, cukup aneh jika tiba-tiba laki-laki itu benar-benar melepaskan tangan Ramira demi memberikan dia kesempatan, dia fikir sesuatu yang salah pasti terjadi tanpa sepengetahuan nya.
"Aku tidak mau ikut kemoterapi"
Ucap Asha tiba-tiba sambil berusaha meraih telapak tangan Eden yang tengah sibuk membenahi posisi tubuhnya.
"Ayo kembali ke Itali, bukankah kamu bilang kita akan kembali ke Itali? mengulang semua nya disana, aku akan meninggalkan semua yang ada disini"
Ucap Asha lagi.
Eden terdiam sejenak, mencoba duduk tepat disamping Asha, laki-laki itu menyentuh lembut wajah gadis itu.
Alih-alih menjawab permintaan Asha, Eden berkata.
"Katakan pada ku, ada yang sakit? apa ada yang terasa tidak nyaman?"
Gadis itu menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa, semua baik-baik saja"
"Jangan membuat ku khawatir lagi, jika Merasa tidak nyaman jangan memaksakan diri hmm"
Lanjut Eden lagi
"Kita akan pergi ke Italia setelah keluar dari rumah sakit, menghabiskan waktu disana dan memulai semuanya dari O lagi, tapi berjanjilah pada ku soal satu hal"
Asha menatap wajah Eden, dia mencoba menelusuri tiap sudut rahang itu.
"Jangan buang lagi obat nya"
Ucap Eden sambil menggenggam erat obat yang ada ditangan kiri nya, dia tahu Asha kembali membuang obatnya, pura-pura meminumnya agar terlihat dia baik-baik saja.
Seketika Asha menelan Saliva nya, bola matanya tampak berkaca-kaca.
"Maafkan aku"
Ucap nya pelan dengan suara yang terdengar begitu lirih.