
"Ssshhh Oh god"
Eden berdesis sambil bergumam pelan saat tangan Ramira secara perlahan mencoba mengobati luka di bibir Eden.
Cukup sakit fikir perempuan itu, terdapat sobekan di pinggir bibir Eden juga menyisakan bengkak dan darah yang mulai mengering.
Mereka terpaksa menyelesaikan urusan vio dan Edo lebih dulu untuk tenggang waktu yang cukup lama, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke apartemen Eden.
"Sakit?"
Tanya Ramira pelan.
"Kelihatannya?"
Tanya Eden sambil memperhatikan wajah Ramira dimana tangan-tangan nya masih terus sibuk mengobati luka di bibirnya.
"Kamu seharusnya jangan terlalu mendekati kak Najat, ini bahkan melukai diri mu sendiri tanpa di duga"
Ucap perempuan itu pelan.
Eden masih tetap menelusuri wajah cantik itu, memperhatikan tiap sudut wajah, rahang, hidung, dagu bahkan bibir Ramira.
Tidak tahu kenapa dia seringkali tidak bisa mengontrol perasaan nya terhadap perempuan itu, jantung nya selalu berdetak kencang bahkan dia nyaris gila jika perempuan dihadapan nya itu tahu-tahu menghilang sebentar saja dari pandangan nya.
"Jika kita tidak bertindak tadi, bukan kah urusan nya akan semakin rumit? mereka tidak mungkin mendapatkan titik tengah nya kan?"
Eden bicara sambil mengembangkan senyuman nya.
"Aku tahu, tapi kamu sampai harus terluka"
Protes Ramira.
"Kamu mengkhawatirkan aku?"
Pancing Eden.
"Kamu fikir tidak? siapa lagi yang bisa membuat aku khawatir jika bukan ka...mu"
Kalimat Ramira refleks keluar begitu saja, Seketika dia sadar dengan ucapan nya.
Oh apa yang aku ucapkan?.
Seketika Ramira menutup mulutnya, dengan wajah malu dia langsung menutup kotak P3K dan berniat pergi dari sana, tapi Eden yang sejak tadi melebarkan senyumannya mendengar celotehan perempuan itu langsung menarik tangan Ramira.
"Akhhh"
Seketika tubuh Ramira terhempas ke atas kasur, Eden dengan cepat menahan tubuhnya.
"Eden...!"
Seru perempuan itu sedikit panik.
"Hmmm dia benar-benar mengkhawatirkan diri ku"
"Tidak..."
Elak Ramira cepat.
"E Hem?"
Eden bicara sambil tangan kanannya merapikan anak rambut Ramira.
"Eden..."
"Aku fikir kita harus mencari makanan untuk makan malam"
Ramira mencoba untuk pergi, tapi Eden berusaha untuk menahan nya.
"Aku sudah pesan via grab"
"Aku akan menyiapkan air hangat untuk kamu mandi"
"Aku fikir ingin mandi air dingin kali ini"
Seketika wajah Ramira memerah.
"Kenapa wajah ini memerah?"
Tanya Eden sambil mengelus lembut pipi Ramira.
"Ahhh... aku fikir cuacanya panas sekali"
Ramira masih berusaha beranjak, tapi Eden terus mencoba menahan tubuhnya.
"Eden, sebentar lagi Belle akan kemari bersama teman nya"
"Dia bilang tidak akan kemari"
Seketika Ramira kehilangan alasan untuk beranjak.
"Kita...menikah saja Hmmm"
Ucap Eden tiba-tiba, laki-laki itu bicara sambil menggenggam kedua belah pipi Ramira dengan begitu lembut, bola mata nya terus menatap dalam bola mata perempuan itu.
Seketika Ramira membeku, dia menelan pelan Saliva nya.
"Aku bukanlah orang yang sempurna dan aku memang tidak sempurna, akan tetapi aku akan selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk kamu hmmm."
"Tidak perlu sempurna untuk membuatmu merasa bahagia"
Eden terus mengelus lembut wajah itu.
"Karena yang tidak sempurna sekalipun akan menjadi yang terbaik selagi berusaha untuk menjadi yang terbaik. Selagi aku mampu selagi aku bisa, maka aku akan selalu berusaha untuk membuatmu bahagia. Karena kamu adalah orang yang terpenting bagiku jadi aku akan selalu berusaha membuat kamu bahagia hmm"
"Sebab Yang Terbaik Bukan Dilihat Dari Sempurna Atau Tidaknya Seseorang, Akan Tetapi Dilihat Dari Usahanya Untuk Memperlakukanmu Dengan Baik"
"Eden..."
Ramira menggigit pelan bibir bawahnya, bola matanya tampak berkaca-kaca.
"Mari menikah dan menghabiskan hidup bersama hingga menua bahkan hingga ajal menjemput kita hmmm"
Ucap Eden lagi cepat.
Seketika air mata perempuan itu Tumpah.
Laki-laki itu secara perlahan menghapus nya.
"I love you, I love you, I love you ...oh god bagaimana mengatakan nya? kamu minta aku bilang setiap hari pun aku akan mengatakan nya hmmm, kamu benar-benar membuat jantung ku terpompa tanpa bisa aku kendalikan sayang"
Eden bicara cepat dengan penuh kesungguhan, lantas Secara Perlahan Eden menautkan bibir mereka, Ramira tampak diam, Jemari nya menggenggam erat lengan Eden, membiarkan laki-laki itu membawanya berlabuh entah kemana.