
Dimasa lalu.
9 tahun yang lalu.
Masa SMA Asha dan Arisu
SMA xxxxxxxx
Sepasang muda mudi dengan seragam SMA nya tampak mengendap-endap dari arah tembok sisi kanan gedung sekolah bertingkat, mereka datang cukup terlambat, alasan nya????? coba tanyakan sendiri pada Sepasang manusia yang selalu di anggap pasangan kekasih itu.
"Aku sudah bilang jangan lewat jalan depan kan"
Asha mulai menggerutu, melompat-lompat sejenak mencoba mencapai tembok sekolah untuk mengintip kedalam.
"Haiyoo Gara-gara cewek berdada montok kamu hilang konsentrasi"
Asha terus menggerutu sambil bola mata nya mengintip kesana-kemari.
"Aku tidak fokus pada dadanya sayang, aku lebih fokus pada mobil bawaan nya"
Arisu protes sambil ikut melompat untuk mengintip ke arah balik tembok.
Asha langsung menoleh ke arah Arisu, dia menaikkan ujung bibirnya dengan pandangan begitu sadis.
"Ckckckkck kau ini materialistis sekali"
"Kau ini selalu menilai dari sisi ½ nya, aku mana mungkin materialistis, jika iya maka aku akan menikahi kamu setelah menyelesaikan bangku SMA, kamu bisa menghidupi aku tanpa harta orang tua ku"
"Aishhhh menjijikkan"
Asha membuang wajah nya.
"Aku benar-benar tergoda dengan mobil nya, tidak kah aku harus memiliki nya juga? bukan kah kamu akan bangga saat ikut dengan ku mengendarai nya?"
Tanya Arisu sambil memicingkan sebelah matanya.
"lupakan jika kamu membeli nya dari uang Paman, aku lebih suka kamu membeli nya dari hasil jerih payah mu sendiri"
"Aku akan membelinya dengan jerih oayah ku sendiri setelah tamat SMA"
"Yeah jika kamu melakukan nya aku akan memberikan ciuman pertama ku pada kamu, kamu hebatttt sekali jika bisa melakukan nya"
Asha bicara sedikit mencibir.
Seketika senyuman manis menghiasi wajah tampan itu.
"Aku benar-benar akan menagih janji nya Sayang"
"Yah yah terserah"
Setelah berkata begitu, Asha langsung menarik kerah baju belakang Arisu.
"Duduk"
"What?"
Arisu menaikkan sebelah alisnya.
"Jongkok... aku harus naik ke atas"
Perintah Asha kemudian.
"Sayang bagaimana jika ada laki-laki yang lewat?"
Arisu bertanya cepat.
"Kamu menggunakan celana pendek bukan? aku tidak suka jika kamu tidak menggunakan celana pendek saat melompat pagar"
"Aku menggunakan nya, dibandingkan laki-laki lain, aku harus mewaspadai diri ku lebih dulu dari mata ganjen mu"
Ucap Asha lantas mencoba naik dan mengintip ke balik tembok.
Sejenak laki-laki itu menyentuh kedua belah matanya.
"Ganjen? enak saja"
Laki-laki itu menggerutu pelan.
"what?"
Asha bertanya cepat.
Arisu mencoba untuk bergerak dari berjongkok menjadi berdiri secara perlahan dimana Asha sudah naik ke atas punggung nya.
"Ada guru?"
"Tidak ada, aman"
Ucap Asha cepat.
"Naik dan lompat lah"
Arisu bicara cepat, langsung berdiri Dengan sempurna, menghantar kan Asha hingga ke atas, lalu dia membantu gadis cantik oriental itu melewati tembok dan sampai ke sebelah.
Lantas laki-laki itu langsung melempar kan tas Asha.
"Arisu...ini giliran mu"
Pekik Asha tertahan.
Belum pula Arisu berusaha untuk naik, tiba-tiba seseorang berteriak dari arah ujung sana.
"Arisuuuuu hannnnnn Tseeeee"
Alamakkkkk
Asha langsung menunduk, cukup kaget karena dia fikir suara itu dari balik dinding nya, rupanya dari balik dinding arisu.
"Pagi Pakkkk"
Arisu berteriak sambil melebarkan senyuman nya, melambaikan tangan nya dengan gaya sesantai mungkin.
"Kauuuu terlambat Dan memanjat tembok?? dimana dia?"
Seorang guru laki-laki berusia sekitar 40 tahunan bicara sambil mendekati Arisu, laki-laki itu langsung menjewer Arisu tanpa basa-basi.
"Akhhhhhh Pakkkk bapakkkk ini kekerasan dalam rumah tangga"
"What?"
"Ah salah dink Pakkkk kekerasan guru terhadap murid nya"
buru-buru arisu meralat ucapan nya.
"Alih-alih peduli ucapan arisu, guru itu memutar bola matanya.
"Dimana kekasih mu?"
"Yang mana pak?"
"What??? kau punya berapa kekasih didalam hidup mu hah?"
Guru laki-laki itu jelas mendelik kesal.
"4 pakkk ah salah 6 pak"
Plakkkkkk
Satu tangan Guru itu menabok kesal pantat Arisu.
"Awwww Pakkkk sudah putus semua"
Arisu melompat cepat saat pantat nya di tabok oleh laki-laki itu.
"Aku tanya kekasih sehidup semati mu mana?"
"Ahhh Asha pak?? aku tidak melihat nya"
"Kau jangan coba-coba melindungi nya"
Laki-laki itu secepat kilat menyeret Arisu agar segera masuk melewati pintu gerbang utama sekolah.
"Pak aku tidak pernah melindungi dia, tapi aku hanya memastikan dia tidak jadi gila seperti diri ku"
"Ya kamu memang gila, bahkan satu sekolahan bisa gila karena tingkah laku kamu, aku tidak akan membiarkan Asha jatuh cinta pada kamu, jika tidak dia bisa sama gila nya dengan kamu"
Laki-laki itu masih terus menjewer telinga nya.
"Awwww Pakkkk"
Dibalik tembok Asha menganga, dia sempat cekikikan kemudian melesat pergi dari sana menuju ke arah kelas mereka.