
Rumah sakit Patlers Paterson.
Eden terlihat menatap kearah depan nya untuk beberapa waktu, memperhatikan beberapa perawat yang hilir mudik sejak tadi, dia sama sekali tidak melepaskan pandangannya ke arah ruang pintu di mana Arsen dirawat.
laki-laki tersebut terkadang melirik pada jam di tangan dimana sebelumnya ada beberapa pesan yang terus masuk di handphone nya.
laki-laki tersebut mencoba untuk duduk di bagian kursi tunggu beberapa waktu di mana bola matanya kini masih terus menetap ke arah pintu ruang-ruangan air rawan di mana di sisi kiri dan kanan pintu tersebut terlihat dua orang dengan tubuh yang kekar berjaga di sana.
laki-laki itu tampak mendengus tidak percaya tas apa yang dilakukan oleh Vivian kepada Arsen, perempuan itu benar-benar berusaha untuk tidak membuat celah sedikitpun bagi orang-orang untuk bisa mendapatkan jalan menemui Arsen,dia pikir itu cukup luar biasa dalam sistem kerja Vivian.
pada akhirnya tiba-tiba saja handphonenya berdering, laki-laki secara perlahan mengangkat panggilannya.
"Halo?"
sejenak Eden diam untuk beberapa waktu mendengarkan jawaban di seberang sana dan di detik berikutnya seketika laki-laki itu mengerutkan keningnya.
"Kamu dimana?"
Dia langsung mengeluarkan ekspresi terkejut nya, seketika pandangan yang menuju ke arah kanan dan dia langsung mencari sosok seseorang.
"Aku ada disini,sayang apa yang kamu lakukan disini?"
Eden Langsung berdiri dari posisi duduknya, dia seketika bergerak menjauh dari sana dan berlarian kearah depan, tidak peduli sama sekali pada orang-orang yang ada di sekitarnya laki-laki tersebut terus bergerak menuju ke arah depan dan seketika dia langsung menghentikan langkahnya saat dia menangkap satu sosok yang begitu dia cintai.
"Ramira? apa yang kamu lakukan disini?"
Dia bertanya, menatap ke arah perempuan yang kini melangkah mendekati dirinya, itu adalah Ramira, istrinya.
yang ditanya sama sekali tidak menjawab setelah berjalan mendekatinya langsung memeluknya dengan erat.
"Aku merindukan mu"
Perempuan tersebut bicara, menenggelamkan dirinya pada pelukan Eden.
"Aku yang lebih merindukan mu"
Eden menjawab cepat, tentu saja dia yang lebih merindukan istrinya karena harus mengurusi banyak hal mereka tidak sempat bersama, untuk menyelesaikan urusan Luck dan Lea dan meraih arsen kembali agar berkumpul kembali bersama keluarga aljabar terpaksa dia harus mengabaikan sejenak istrinya.
dan yang jelas dia sangat merindukan istrinya dalam beberapa hari ini bahkan terus berusaha untuk berkomunikasi, tapi kini dia baru ingat dan sadar dalam dua hari ini istri sedikit sulit untuk dihubungi, kini baru tahu ternyata ramaira merencanakan untuk kembali ke Swiss dan membuat sebuah kejutan untuk dirinya.
"sayang kamu belum menjawab pertanyaanku"
dia langsung kembali bertanya sembari sedikit protes.
sebenarnya Eden jelas saja senang istrinya datang ke Swiss kembali, namun dia jelas aja khawatir karena perempuan tersebut dalam keadaan hamil, tidak dianjurkan untuk terlalu banyak hilir mudik menggunakan pesawat ke sana kemari, dia jelas khawatir jika hal yang buruk terjadi pada istrinya.
Alih-alih menjawab Ramira berkata.
"Apakah sudah bertemu Arsen? aku akan mengunjungi dirinya"
tiba-tiba saja istrinya berkata seperti itu, hal tersebut sontak membuat dan terkejut.
"Ya?"
dia langsung mengerutkan keningnya dengan cepat.