
Masa Lea dan Luck
Saat sinar matahari pagi menembus lapisan kulit Lea yang mengintip dari arah balik kaca jendela berukuran raksasa itu, Seketika Lea menggeliat pelan, dia mencoba merapatkan tubuhnya sejenak ke arah manapun yang dia suka, tangan indah nya mencoba meraba-raba bantal atau guling sang ada disekitar nya.
Dia berusaha memeluk apapun yang ada dihadapan nya dengan kondisi mata yang masih tertutup rapat, namun tiba-tiba rasa perih yang mendominasi dibawah sana membuat dirinya terbangun seketika.
"Akkhhhhh"
Dia meringis menahan sakit, perih dan entahlah apa lagi Lea tidak tahu.
"Sangat sakit kah?"
Tahu-tahu sebuah suara mengejutkan dirinya, seketika Lea membulatkan bola matanya.
"Un..cle?"
Jawab nya dengan perasaan gugup, tiba-tiba ingatan soal semalam muncul dikepala nya, lalu dengan perasaan malu dia membenamkan kepalanya kedalam bantal kepalanya.
Melihat ekspresi Lea seketika Luck tertawa kecil, dia secara perlahan menyentuh lembut kepala Lea.
"Mari membersihkan diri lalu mendapat kan sarapan bersama"
bisik laki-laki itu sambil mencium lembut puncak kepala Lea.
Secara perlahan Lea mengintip, rasa malu jelas masih menyerang nya, apalagi saat dia menangis karena rasa sakit yang luar biasa itu,bahkan Lea berkali-kali berkata tidak mau melanjutkan nya.
"Berbalik lah"
Ucap Lea pelan sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
"Kenapa?"
"ini sangat memalukan"
Rengek nya cepat.
Dia ingat tidak menggunakan apa-apa sejak semalam, tubuhnya hanya ditutupi selimut tebal yang mendominasi berwarna putih.
"Tapi aku sudah melihat semuanya"
Goda Luck sambil mengulum senyuman nya.
"Uncleee…"
Rengek Gadis itu lagi.
"Baiklah, aku berbalik"
laki-laki itu berbalik, membiarkan Lea bangun dari tempatnya.
Sejenak Lea mencoba bangun dari posisinya, bergeser sambil menarik selimut yang melekat ditubuhnya. Tapi seketika Lea mengerutkan keningnya, dia melihat sisa noda darah di sprai kasur dimana dia tertidur.
"Kenapa ada sisa darah nya?"
Tanya Lea tiba-tiba.
Luck jelas ikut mengerutkan keningnya, menoleh kebelakang sambil memperhatikan noda kasur yang berwarna memerah itu.
"Tentu saja ada sisa darahnya, kita melakukan nya semalam, apa kamu berharap noda nya menghilang?"
Hahhhh????
Seketika Lea menutup mulutnya, dia menatap luck dengan perasaan kesal.
Lea langsung melempar Luck dengan bantal yang ada di hadapannya.
Seketika luck baru menyadari persoalan yang kemarin.
"Oh god...Lea"
"Ahhhhh kemarin uncle menipu ku"
Lea benar-benar merasa menjadi gadis yang bodoh seketika, dia fikir kenapa semalam tidak menyadari nya, seharusnya jika sudah pernah melakukan nya tidak akan jadi sesakit semalam.
Lea kembali melempar luck denga sebuah bantal.
Seketika Luck berbalik, mencoba meraih tubuh Lea.
"Malam itu kamu memang melakukan nya"
"Tapi kenapa malam ini baru berdarah?"
Rasa nya wajah Lea langsung memanas dan memerah, dia malu bukan kepalang, dengan perasaan kesal terus memukul luck dengan bantal guling nya, setelah itu mencoba memukul Luck dengan tangan nya.
"Ahhhh aku dikerjai, aku benar-benar dikerjai, itu memalukan sekali"
Rasanya dia tidak rela saat Luck berhasil mengerjai dirinya tempo hari.
Luck tampak terkekeh melihat ekspresi Lea, dia buru-buru menyambar tubuh itu, menjatuhkan tubuh Lea keatas kasur tersebut.
"Itu benar-benar memalukan sekali"
Rengek Lea sambil mencoba menutupi wajahnya dengan tangannya.
"Malam itu nyaris terjadi, tapi aku mencoba menahannya, aku tidak ingin kita melakukan nya dalam keadaan kamu tidak sadarkan diri sepenuhnya"
Ucap Luck sambil menatap dalam bola mata Lea, posisi mereka saling berhadapan, bola mata mereka saling menatap antara satu dengan yang lainnya.
"Lalu kenapa mengerjai ku?"
Tanya Lea pelan.
"Karena dia terlalu polos untuk dikerjai"
"Unclee...."
Lea memukul luck kembali.
"Itu menyebalkan"
"Sstttt"
Tiba-tiba luck meletakkan jari telunjuk nya ke depan bibirnya.
"Apa?"
"Jangan bergerak, rudal Moscow nya seperti nya bangun lagi"
"Akkhhh unclee"
Teriak Lea kesal, dia mendorong luck dengan perasaan kesal bercampur malu.
Seketika luck tertawa terbahak-bahak Karena merasa geli dengan tingkah lucu sang istri.