
Flow terlihat sangat gugup dengan pujian yang dilemparkan oleh Arsen, dia berusaha menetralisir detak jantungnya yang tidak ingin berhenti sejak tadi, semburan Rona rasa malu timbul di balik wajahnya, dia berusaha untuk menarik nafas sembari mencoba menatap bola mata air di mana laki-laki tersebut kini bergerak mendekati dirinya.
Lama bola mata mereka bertemu, hingga pada akhirnya secara perlahan Laki-laki tersebut bergerak dan berdiri tepat di belakangnya, Arsen membiarkan Flow menatap dirinya sendiri di depan kaca besar yang ada di hadapannya.
Flow merasa begitu sulit mendalilkan detak jantung nya, dia menatap dirinya sendiri didepan cermin untuk beberapa waktu di mana secara perlahan Arsen membiarkan kepalanya berada tepat di samping sisi kanan kepala Flow, kemudian saya perlahan-lahan laki-laki tersebut memeluk nya hangat dari arah belakang.
"Bukankah sudah aku bilang? Mereka terlihat cantik menggunakan gaun pengantin yang ini"
Mendengar ucapan laki-laki tersebut selalu Flow terlihat diam, gaun pengantin indah itu jelas menjadi pilihan Arsen, namun dia yang memberikan pilihan awal untuk dua model gaun yang dia ragukan, hingga akhirnya dia membiarkan laki-laki tersebut yang memilih nya langsung.
"Katakan padaku apa kamu menyukainya? Jika kamu tidak menyukai nya Kita bisa menukar nya kembali"
Tawar laki-laki tersebut kemudian.
Mendengar ucapan laki-laki yang ada di belakangnya itu, seketika membuat flow langsung menoleh kemudian gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Tentu saja aku menyukainya"
Kini mata mereka beradu antara satu dengan yang lainnya, di mana tatapan bola mata Arsen menciptakan satu kegugupan tersendiri dalam diri Flow.
Bola mata indah laki-laki itu teramat sering membuat degub jantung nya tidak beraturan, terkadang dia tidak mampu menatap dalam bola mata laki-laki yang ada di sampingnya tersebut.
Terkadang Flow berpikir ketakutan terbesarnya adalah jika dia jatuh cinta pada laki-laki tersebut, dia takut cintanya bertepuk sebelah tangan dan membuatnya gigit jari.
Khayalan orang miskin seperti ini jelas terlalu tinggi, tapi dia sama sekali tidak bisa mengontrol hati.
Kebaikan laki-laki tersebut mengalahkan segalanya, kelembutannya bahkan bisa meruntuhkan kerasnya hati siapapun, Arsen bagi Flow benar-benar tipikal sempurna seorang laki-laki impian.
Karena itu dia takut terbelenggu dalam cinta laki-laki tersebut, sebab acab kali dia bertanya-tanya di dalam hatinya, mungkinkah ada gadis yang telah dicintai oleh Arsen sebelumnya.
"Maka ini adalah pilihan terbaik kita hmmm, kita akan meminta mereka menyelesaikannya"
Jawab Arsen kembali sambil mengembangkan senyuman.
Alih-alih menjawab flow lebih memilih menganggukkan kepalanya, menyetujui ucapan arsen dengan cepat.
Kemudian secara perlahan dia mulai bergerak menjauhi laki-laki tersebut, memilih kembali mengganti pakaian dengan cepat.
Seolah senyuman mengembang di Balik wajah Arsen, laki-laki tersebut memilih mengundurkan langkahnya dan kembali menunggu Flow dengan tenang.
Didalam kamar ganti Flow dengan cepat dibantu oleh sang pelayan toko membantu nya untuk melepaskan gaun tersebut.
"Ini sangat indah"
Kembali Flow memuji gaun pengantin yang diciptakan untuk dirinya, sang pelayan jelas terlihat senang dan mengembangkan senyumannya.
Dengan begitu mereka pikir konsumen terbaik mereka cukup puas dengan apa yang mereka buat.
Setelah membantu Flow melepaskan gaun pengantin tersebut, pada akhirnya Flow dengan cepat bergerak keluar dari kamar ganti tersebut, mendekati arsen yang menunggunya.
Mereka berencana pergi untuk kembali ke toko perhiasan, karena pemilihan cincin yang tertunda tempo hari.
Namun sebelumnya Flow memutuskan untuk pergi ke toilet, meminta arsen untuk menunggunya sekali lagi dan bagi Arsen itu jelas bukan permasalahan besar.
Laki-laki tersebut menganggukkan kepalanya, membiarkan flow untuk pergi dan dia tetap menunggu di situ.
*******
Dia bergerak menuju ke arah depannya lantas berbelok ke sisi kirinya, hingga pada akhirnya gadis tersebut menemukan di mana letak toilet.
Tanpa banyak bicara flow dengan cepat langsung masuk ke dalam toilet tersebut, dia pikir terlihat tidak ada orang sama sekali di sana.
Cukup lama gadis tersebut berada di dalam sana, hingga pada akhirnya terdengar suara air di pembuangan yang dinyalakan.
Setelah itu flow dengan cepat keluar dari sana, bermaksud beranjak pergi Dan kembali ke arah depan, namun tiba-tiba ekspresi wajah gadis tersebut berubah ketika dia menyadari sesuatu di depannya, dia menatap sosok tidak asing di hadapannya dan seketika gadis tersebut nyaris roboh di tempatnya.
Flow langsung membulatkan bola matanya, dia melangkah mundur sembari berkata dengan bibir gemetaran.
"kau....?"
Seulas senyuman mengembang dari Balik bibir sosok yang ada di hadapan flow.
"hallo baby"
******
Disisi lain.
Bern bergerak dengan cepat masuk ke dalam bangunan mall tersebut tanpa berpikir dua tiga kali begitu dia turun dari dalam mobilnya.
Laki-laki itu melangkah maju sembari mengeratkan rahangnya dan menggenggam erat telapak tangannya.
****, apa yang dilakukan oleh laki-laki gila itu di sini?.
Laki-laki tersebut membatin sambil mengumpat kesal lantas mempercepat langkah kakinya.
Dia sama sekali tidak ingin menunda waktu karena dia tahu keadaan jelas tidak baik-baik saja.
Jackson Ville, laki-laki gila dengan ambisi mengerikan soal para garis yang ada di sekitarnya dan juga kriminal kelas atas dalam berbagai macam kasus pelecehan tersebut dia pikir bagaimana bisa bebas dari tuduhan bersalah nya di masa kemarin.
Padahal jelas jelas di masa kemarin dia telah meringkus laki-laki tersebut, dia yang membuat luka di beberapa bagian tubuh laki-laki itu agar berhenti dari tindakannya.
Bern pikir seharusnya laki-laki tersebut akan mendekam di penjara untuk waktu yang cukup lama, tapi siapa sangka laki-laki itu telah bebas dan kembali dan kini seperti MB nya Jackson mulai kembali beraksi dengan aksi gilanya.
Siapa lagi kali ini yang akan jadi korbannya? Semoga dia tidak salah menebak, yang diinginkan Jackson kali ini adalah gadis yang ada bersama Aries (Arsen).
Cihhh, Yang benar saja.
Bern berdicis dengan perasaan geram, laki-laki itu melebarkan langkah masuk ke dalam mall yang ada di hadapannya kemudian bergerak menuju ke arah pintu elevator.
Beberapa anak buahnya mengikutinya dengan cara memecah diri, sengaja untuk tidak berjalan berdekatan dengan Bern.
Mereka terus melangkah menuju ke arah atas mengejar waktu yang tersisa, seolah-olah ketakutan menyambar diri mereka semua, karena semua orang tahu Jakson telah lebih dulu sampai ke lantai atas.
Bern menatap bagian nomor elevator, dimana rasanya waktu dan pergerakan elevator tersebut dirasa sangat lama dan cukup memakan waktu.
Oh ****, tidak bisakah kau bergerak dengan lebih cepat?.
Oceh laki-laki tersebut didalam hatinya.
Dia menghela kasar nafasnya dengan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu.