
Setelah Edo menutupi tubuh Vio dengan selimut, seketika Vio berteriak histeris saat Grandpa nya melangkah maju dan melesatkan bogem mentah Ke wajah Edo.
"Grandpa...no...grandpa...no.."
Perempuan kecil itu menangis histeris, berusaha melerai dan menghentikan tangan Grandpa nya yang memukul Edo berkali-kali dengan tinju nya.
"Saat pukulan terakhir akan melesat Vio langsung menghalangi, dia menjadi temeng untuk Edo sambil berteriak.
"Aku mencintai uncle... aku mencintai uncleeee..."
Tangis vio pecah, dengan tubuh gemetaran dia berteriak histeris.
Dia fikir mungkin dia akan di pukul juga saat ini, tapi rupanya yang dia tunggu-tunggu tidak terjadinya juga.
"Apa?"
Grandpa nya bertanya dengan tangan gemetaran.
Lea membuka perlahan bola matanya, Edo langsung meraih tubuh Vio, memeluk perempuan kecil itu hingga masuk kedalam dekapannya.
Mommy Edo tampak mematung di depan pintu, terlihat ling ling sambil membalikkan tubuhnya ke arah depan, wanita tua itu berjalan dengan langkah bingung serta penuh kekecewaan.
Seketika suasana menjadi begitu sulit dikendalikan, seluruh hati dan pemikiran menghantam jadi satu dan tidak dapat mereka pahami satu persatu saat ini.
Daddy Edo ikut berbalik, mencoba menetralisir perasaan penuh amarah dihatinya sambil berkata.
"Ganti pakaian kalian dan selesaikan perkara ini secepatnya, aku tunggu kalian didepan"
Edo dan Vio menelan Saliva mereka dengan kasar, bergerak perlahan turun dari kasur dan mulai berganti pakaian.
Vio masih gemetaran, menyentuh lembut wajah Edo yang mulai membiru karena pukulan hang membabi-buta, dia menangis sambil menatap dalam bola mata laki-laki itu.
Edo mengembangkan senyuman nya sejenak.
"Jangan menangis, bukankah ini waktunya kita membuka status kita? semua akan baik-baik saja Hmmm?"
Ucap laki-laki itu sambil menyentuh lembut wajah Vio, dia menempelkan sejenak kening Mereka, lantas Edo kembali berkata.
"Tetaplah didalam, biarkan aku yang bicara pada mereka"
"Tapi...."
"Dengarkan aku hmmm"
Vio mengangguk perlahan
Saat Edo keluar ke arah ruang tamu, bola mata Vio seketika tertuju ke arah handphone nya.
Dia Fikir siapa yang bisa membantu mereka dikala terjepit? siapa yang paling dekat dengan grandma dan Grandpa nya? siapa yang paling bijak memecahkan masalah ketika semua mulai memanas dan tidak bisa dikendalikan?
Untie Ramira.
*******
"Kamu menyukainya?"
"Apa ini tidak terlalu mahal kak?"
Belle bertanya sambil menatap keindahan bentuk dari anting-anting yang di pakai kan Ramira ke telinga nya.
"Tentu saja tidak, dia terlihat imut dan cantik, orang cantik pantas mendapatkan hal yang cantik"
Ucap Ramira sambil mengembangkan senyuman nya.
"Kakak kenapa begitu baik pada kami?"
Ucap Belle sambil menatap dalam bola mata Ramira.
"Hmmm bukankah menjadi baik itu tidak perlu alasan?"
Tanya Ramira sambil melebarkan senyuman nya.
"Tidak heran kak Eden suka pada kakak"
Belle bicara sambil menarik pelan nafasnya.
"Kenapa menolak menikah dengan kak Eden?"
Tanya nya lagi.
"Aku fikir kakak memang yang paling pantas mendampingi Kak Eden, meskipun kak Asha juga orang yang baik, tapi bagi ku yang paling pantas bersama kak Eden itu kak Ramira"
Ucap Belle panjang lebar.
Sejenak Ramira tampak diam,.
Alih-alih menjawab buru-buru dia bicara pada sang pemilik toko.
"Berikan notanya"
"Kak..."
Belum sempat Belle menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba handphone Ramira berdering.
Buru-buru perempuan itu mengangkat nya.
"Hallo vio?"
Seketika Ramira membeku saat mendengar tangisan yang pecah dari seberang sana.
"Ya?"
"Aku akan kesana dalam 15 menit"
Oh god.
Buru-buru perempuan itu membayar anting-anting milik Belle, dengan perasaan khawatir dia membawa gadis kecil itu pulang tanpa banyak bicara.