
Saat Ramira terbangun dari tidurnya, dia berusaha untuk mengingat-ingat apa yang terjadi semalam, dia Fikir ada Eden semalam bersama nya, memeluk nya, menciumnya.
Dia menelusuri seluruh ruangan kamar itu namun tidak terlihat ada kehidupan lain disana, Seketika pemikiran nya buyar saat dia tidak mendapati eden disamping nya saat ini.
Sejenak perempuan itu menelan Saliva nya, dia Fikir apa mungkin semalam dia bermimpi, apa mungkin halusinasi nya bermain tanpa bisa dia kendalikan, apa mungkin dia sudah mulai gila karena merindukan laki-laki itu.
Dia benar-benar tidak menemukan sosok laki-laki itu disana, kasur yang rapi, hanya sisa tidur nya seorang diri, tidak ada sandal lain, tidak ada pakaian lain, tidak ada lagi aroma laki-laki itu di balik hidung nya.
Sejenak dia memejamkan bola matanya, tiba-tiba air mata nya tumpah begitu saja, dia menangis untuk beberapa waktu Sambil menyentuh lembut perut nya.
Dia Fikir dia benar-benar bermimpi semalam.
Ramira perlahan mulai beranjak dari tidurnya, mencoba untuk turun, melesat kekamar mandi dan memilih membersihkan dirinya untuk beberapa waktu.
Saat dia telah usai dengan rutinitas membersihkan diri, Ramira melesat keluar dari kamarnya, berencana untuk mendapatkan sarapan nya, tapi Seketika dia mencium aroma makanan kesukaan nya.
Jantung nya berdetak begitu kencang, secepat kilat perempuan itu menuruni anak tangga rumah itu, mencoba melihat siapa yang ada di bawah.
"Sayang jangan berlarian di tangga, itu bisa membahayakan anak kita"
Suara itu memecah keheningan, begitu khas mendominasi, memenuhi seluruh ruangan dan menembus gendang telinga hingga ke rongga-rongga jantung nya.
Seketika Ramira tercekat, dia mencoba untuk mengatur nafas nya, tubuhnya gemetaran, dia seolah-olah mulai kehilangan pegangan.
Bukan mimpi, bukan mimpi.
Ramira benar-benar ingin menangis saat itu juga, saat dia berdiri di ujung tangga dia melihat Eden tengah sibuk mempersiapkan sarapan pagi untuk nya.
Wajah tampan itu tampak berdiri menatap nya dengan ekspresi khawatir, menggunakan afron masak sambil mencoba memperhatikan langkah kaki Ramira yang berjalan tergesa-gesa menuruni anak-anak tangga.
Eden bicara sedikit protes dengan gerakan Ramira, melepaskan afronnya lantas berusaha berjalan mengejar langkah Ramira.
Bola mata perempuan itu seketika berkaca-kaca, dia fikir Eden nya benar-benar ada dihadapan nya, semalam bukan halusinasi atau bahkan mimpi terindah nya.
"Kak...?!"
Suaranya tercekat.
Tanpa menunggu dua tiga kali perempuan itu langsung melesat turun mengejar langkah, mendekati Eden dengan jutaan perasan yang tidak bisa dia jelaskan dengan kata-kata.
"Sayang berhentilah berlarian"
Eden terlihat panik, menunggu di bawah tangga dengan perasaan was-was.
Sepersekian detik kemudian Ramira langsung masuk kedalam pelukan nya, memeluk leher Eden dengan sekuat tenaganya, air mata perempuan itu seketika tumpah.
Mendengar Ramira menangis dibalik telinga nya, Eden tampak diam, dia mengulas senyuman nya untuk beberapa waktu, kemudian laki-laki itu balik memeluk erat tubuh itu, memejamkan bola matanya sambil berbisik dengan lembut.
"I love you"
Setelah berkata begitu dia mengelus lembut punggung Ramira, menikmati moment langkah yang telah lama tidak dia dapatkan bersama perempuan itu.
Dia Fikir baru kali Ramira memeluk nya begitu erat, seolah-olah perempuan itu takut jika dia menghilang dari hadapan nya.
Oh sayang.
Eden menggesekkan lembut dagu nya ke puncak kepala Ramira untuk beberapa saat.