
Ditempat lain
sebelum alarm keamanan berbunyi
Eve secepat kilat memperhatikan kamera CCTV nya, mengatur beberapa sudut ruangan dan mencari satu ruangan lainnya dimana tim Alestor menyembunyikan lukisan berharga nya juga dimana tempat mereka mengelola narkoba nya.
"Kau tidak akan percaya ini, Bern melesat keluar ke arah belakang, beberapa ratus meter ada gudang tua Disana, mereka tengah melakukan transaksi penjualan dipimpin oleh tangan kanan Alestor"
Eve bicara cepat melalui headset bluetooth nya.
"Oh shi..t"
Bern mengumpat, langsung memutar tubuh dan melesat keluar dari sana bersama tim nya.
Eve masih berusaha untuk mengecoh kamera namun tiba-tiba alarm keamanan berbunyi memekakkan telinga.
"Oh god, ada apa ini?"
"Ruang galeri "
"Winda move.... Alestor Bergerak keluar'
Eve bicara cepat dari headset bluetooth nya.
"Sial...."
Umpat Winda dari arah yang berbeda, dia bisa melihat Liliana telah menghilang di bawa 2 pengawal Alestor, Brenda tampak menyadari kehadiran dirinya dan Farhan.
"Aku yang akan menyelesaikan nya"
"Tapi!"
Farhan merasa sedikit khawatir.
"Kau meragukan kemampuan ku?"
Winda bertanya sambil menaikkan sebelah alisnya.
Tanpa menjawab apapun Farhan langsung melesat pergi menjauhi Winda, mencoba mengejar langkah Liliana.
"Sistem keamanan nya menyala dimana-mana, Alestor melarikan diri membawa Liliana"
Ucap Winda cepat dari balik headset bluetooth nya, gadis itu berjalan keluar dari tempat nya mendekati Brenda.
"Aku fikir siapa, rupanya bocah milik burhan'
Ucap Brenda dengan tatapan tidak suka.
"Ternyata anda masih ingat saya, nyonya?'
Seketika Winda terkekeh, menatap penuh senyuman ke arah Brenda.
"Pertemuan awal kita di misi pertama kalian dan itu benar-benar membuat ku marah, dan aku fikir sebaiknya ini adalah pertemuan terakhir kita setelah 7 tahun yang lalu"
Brenda tampak nya mengenal baik Liliana di masa lalu, wanita itu lantas mengeluarkan pisau panjang nya dari belakang punggung nya.
"Aku sudah lama menunggu moment ini, putri Camellia"
Setelah berkata begitu Brenda langsung menyerang Liliana tanpa ampun, dia menghantam lengan kiri dan kanan Winda dengan pukulan nya namun Winda berusaha untuk selalu menangkisnya, hingga akhirnya 1 tendangan telak mengenainya paha kiri Winda.
Brenda secepat kilat membenahi posisi tubuhnya kembali, lantas menghantam Winda kembali dengan tinjunya nya secara beruntun berkali-kali tapi Winda secepat kilat mengelak bahkan di beberapa kali melompat dan mensalto diri nya lantas menghantam kepala Liliana dengan sepatu boots nya.
Hingga pada akhirnya tiba-tiba 2 perempuan itu saling menghantam diri lantas tiba-tiba saling menarik lengan antara satu dengan yang lainnya dan.
Kletakkkk
Seketika mereka saling mengeluarkan pistol dari pinggang masing-masing.
Brenda tampak terkekeh.
"Kau bahkan lebih lincah dari yang dulu"
Winda menaikkan ujung bibirnya.
"Dan kau mulai payah saat ini"
Setelah berkata begitu tanpa aba-aba Winda menghantam betis brenda dengan kakinya.
Brakkkk
Wanita itu terjatuh.
Secepat kilat saat Winda akan menghantam nya dengan tumit nya, Brenda langsung melesat menjauh.
"Ciiihhh"
Wanita itu membuang ludahnya ke sembarang tempat, dia melepaskan blezernya dengan perasaan penuh kemarahan.
Secepat kilat Brenda kembali menyerang Winda dengan pukulan dan tendangan nya, mereka tampak bertarung penuh dengan kemarahan, hingga berakhir dengan Brenda yang mulai dihajar habis-habisan oleh Winda dan mulai kepayaha.
Dan
bugggggg
Seiring terlepas nya ikatan rambut Winda, pukulan terakhir menghantam wajah Brenda tanpa basa-basi, darah segar berhamburan kemana-mana.
...(Hanya visual)...
...Bayangin aja ini Brenda & Winda mak...
Dan
Kletakkkk
Dooorrrrr
Dooorrrrr
Doorrrrrr
"Akhhhhhh"
Teriakan Brenda langsung menggema di seluruh ruangan dan memecah keheningan malam.