Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Saling menggenggam tangan



Secara perlahan Luck meletakan tubuh Lea kedalam bath tub mandi kemudian dia ikut duduk didalam nya.



...(Hanya visual 🤭)...


Luck meraih botol sabun dan spons mandi lantas menuangkan sabun disana kemudian Dengan gerakan lembut luck mulai menggosok punggung Lea dengan spons tersebut.


"Uncle"


"Hmm?"


"Aku bisa melakukan nya sendiri"


Ucap Lea dengan wajah memerah, sedikit malu saat Luck seolah-oleh terlalu memanjakan diri nya, sebab dalam seumur hidup nya Mommy atau orang-orang terdekat nya tidak pernah memperlakukan dirinya seperti itu.


"Kita akan terbiasa melakukan nya mulai hari ini hmm"


"Tapi.."


Luck buru-buru memotong ucapan Lea.


"Nyaman?"


Laki-laki itu bicara sambil terus menggosok punggung Lea.


"Hmm?"


Lea mengangguk pelan.


"Katakan pada ku"


Ucap luck sambil mulai menggosok bahu hingga ke arah lengan sang istri.


"Kenapa?"


"Soal baby junior aku tidak benar-benar serius"


Lea tampak mengerutkan keningnya.


"Mari mendiskusikan nya dengan serius hmm, Mau punya luck junior sekarang atau menundanya dulu hingga selesai kuliah?"


Tanya nya lagi pelan.


"Ya?"


Lea seketika menoleh ke arah luck.


Buru-buru sang suami meraih tubuh nya, membalikkan tubuhnya agar menghadap ke arah nya.


Luck menyentuh lembut wajah Lea, mengelus nya lembut sambil menatap dalam bola mata sang istri.


Ucap luck pelan.


"Jika kamu berencana hamil selama masih kuliah,  pastikan kamu siap dengan segala konsekuensinya. Kamu harus bisa mengatur waktu tidak hanya untuk belajar, mengerjakan tugas kuliah, dan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, tetapi juga untuk mengurusi keluarga, aku dan anak-anak nanti nya"


"Kemungkinan, kamu harus mengubah jadwal kuliah kamu sehingga tidak terlalu membuatmu sibuk. Sebab Jika kamu sibuk nanti, maka kamu akan diselimuti stres, dan ini tidak baik bagi kamu atau bayi kita"


Ucap luck sambil mulai menggosok lengan kanan Lea.


"Dan Pertimbangkan jadwal yang harus kamu ikuti tidak mudah, semua nya akan berjalan cukup lama selama sembilan bulan masa kehamilan"


"Belum lagi persoalan proses kelahiran, Tentu kamu menginginkan proses persalinan yang lancar bukan? dan kamu pasti harus mengambil cuti yang cukup panjang"


Setelah berkata begitu Luck mulai membasahi tubuh Lea dengan air secara perlahan.


"Kamu memiliki waktu sembilan bulan untuk menyambut kelahiran bayi kita, Selama itu pula kamu harus belajar berpikir realistis tentang masa depan"


"Harus menerima kenyataan bahwa kamu mungkin harus meninggalkan kampus sementara waktu sebelum kelahiran juga sesudah kelahiran, Kamu juga mungkin harus meletakkan gaya hidup lamamu ketika masih lajang sebagai masa lalu"


"Kita berdua harus merencanakan penyambutan bayi kita. Ketika dia lahir, kita harus memikirkan juga siapa yang akan mengurusnya saat kamu harus pergi kuliah dan aku bekerja"


"Bisa jadi jika kamu tidak bijak dalam mengambil keputusan atau aku menjadi egois maka semua tidak akan terencana sesuai kemauan, bisa jadi anak-anak akan menjadi terabaikan dan menjadi korban"


Luck menatap lagi dalam wajah Lea.


"Karena itu Aku tidak ingin kamu terbebani karena persoalan kehamilan atau memiliki anak di saat kamu belum siap"


"Kita bisa mencari alasan paling logis dan tepat untuk Mommy, Daddy dan Grandma, mereka akan mencoba memaklumi keadaan kamu ketika kita saling mendiskusikan keadaan dan saling mencari solusi dari keadaan"


Lantas lagi-lagi luck mengelus lembut wajah Lea.


"Jangan memaksakan diri"


Lanjut Luck lagi.


Lea tampak menatap bola mata Luck untuk beberapa waktu, lalu dengan tatapan berbinar-binar dia mengembangkan senyuman nya dengan begitu indah.


Lea menyentuh balik wajah Luck kemudian mengelus-elus lembut wajah itu.


"Mari tidak menunda nya, Aku percaya kamu adalah orang yang bijak dalam menghadapi sesuatu bahkan dalam mengambil keputusan terberat sekalipun"


Ucap Lea pelan.


"Mari saling menggenggam tangan dan saling menguatkan, dan selalu berdiskusi dalam mengambil keputusan"


Lanjut nya lagi.


Seketika senyuman lebar mengembang dari wajah laki-laki itu, Sepersekian detik kemudian secara perlahan Luck langsung menautkan bibir mereka dengan penuh cinta.