
Begitu semua gelas teh dan kopi pecah berantakan, seketika Mommy vio terkejut, perempuan itu secepat kilat ingin menyambar tangan sang putri nya yang melorot duduk ke lantai tapi rupanya sudah keduluan sang adik laki-lakinya.
"Kamu baik-baik saja? ada yang sakit? apakah ada yang terluka?"
Edo secepat kilat memeriksa tangan dan kaki Vio, reaksi spontan yang dia berikan seolah lupa ada siapa saja disekitar mereka.
Bola mata Edo tertuju pada ujung kaki Vio, serpihan gelas itu benar-benar melukai telapak kakinya.
"Sakit"
Seketika Vio menangis sesenggukan, maksud kata sakit nya jelas bukan karena terkena pecahan kaca melainkan sakit karena Mommy nya berkata akan menjodohkan sang uncle dengan gadis pilihan Mommy nya.
Lalu dia bagaimana?
"Sayang,.ini terluka"
Mommy Vio jelas panik, menyentuh cepat kaki Vio, sang Daddy juga buru-buru datang dan melihat.
Saat Daddy atau Mommy nya ingin meraih tubuh Vio, secepat kilat anak perempuan nya masuk ke dalam pelukan Edo, meskipun agak bingung dengan reaksi sang putri, Mommy vio berusaha menepis fikiran aneh nya.
Seketika Edo menggeleng-gelengkan pelan kepalanya, dengan gerakan cepat Edo menggendong Vio menuju ke arah kursi sofa.
Sang Daddy Vio langsung secepat kilat mencari sapu dan serokan sampah,mencoba membersihkan serpihan pecahan gelas agar tidak mengenai anggota keluarga lainnya.
Sedangkan Mommy nya secepat kilat mencari kotak P3K untuk membantu membalut luka di kaki Vio.
"Sakit sekali?"
Mommy nya bertanya pelan, mulai membubuhkan alkohol lantas meletakkan obat ke kaki Vio.
Sang putri nya terus menangis sesenggukan tanpa mau berhenti, sang Mommy jelas bingung, dia fikir luka dikaki Vio jelas tidak begitu sakit tapi sang putri tumben-tumbenan mengeluarkan ekspresi yang sangat berlebihan.
Menangis tanpa henti sejak tadi.
"Vio, sayang, ada apa? luka nya baik-baik saja loh?"
Mommy nya jelas serba salah.
Daddy Vio ikutan panik, maklum Vio anak gadis kesayangan, mereka jelas memanjakan Vio sejak kecil, sedikit saja Vio terluka atau menangis Daddynya lah yang paling gelagapan mengurusi Vio, bahkan sang Daddy bisa meninggalkan seluruh urusan perusahaan nya demi memenuhi seluruh kemauan sang putri.
Tapi meskipun dimanja bak tuan putri, Vio jelas bukan type anak yang bisa berlaku seenak nya atau menginjak kepala orang tua, sejak dini sang putri jelas di ajarkan dengan baik soal tata Krama, menghargai orang tua dan tahu sopan santun
"Sayang ada apa? jangan buat Daddy panik"
Daddy nya jelas bingung, langsung duduk disamping Vio lantas berusaha untuk memeluk erat tubuh sang putri, tapi tidak disangka Vio malah masuk ke dalam pelukan Edo.
Daddy dan Mommy vio malah jadi semakin bingung, Edo jelas serba salah.
Oh god, ini gara-gara urusan perjodohan kakak.
Batin Edo dalam hati.
Sang kakak bertanya pada Edo dengan cepat.
"Aku Fikir mungkin dia kaget karena pecahan kacanya masuk dengan tiba-tiba, mungkin cukup membuat sakit kakinya kak"
Edo jelas bicara hal yang cukup tidak masuk akal, mencoba memeluk tubuh Vio sambil menghela pelan nafas nya.
Pada akhirnya Edo harus ekstra sabar membujuk Vio agar mengehentikan tangisan nya.
"Sebenarnya aku sedang dekat dengan seseorang kak, jadi aku fikir mungkin sebaiknya kita urungkan saja pertemuan dengan anak Tante Rima"
Ucap Edo tiba-tiba.
Seketika tangisan vio mulai menghilang saat mendengar ucapan Edo.
"Loh kok kakak nggak tahu? siapa?"
Mommy Vio jelas cukup terkejut saat mendengar ucapan sang adik yang tiba-tiba.
"Kata mom dan Dad kamu belum pernah membawa seorang gadis sekalipun kerumah mereka, kali ini bilang ada yang dekat tiba-tiba, apa cuma untuk menghindar dari pertemuan saja?"
Sang kakak jelas mengerutkan keningnya.
"Ada kak benar, hanya saja masih butuh sedikit waktu untuk mengenalkan nya pada kalian"
Ucap Edo pelan.
Kali ini tangisan Vio benar-benar menghilang, anak itu malah tidur dipangkuan dirinya.
"Kami kenal kah?"
Daddy Vio tiba-tiba duduk disamping sang kakak, bertanya dengan nada antusias.
"Kamu sudah matang banget do, sudah sangat siap berumah tangga"
Lanjut sang kakak ipar nya.
"Kalian kenal, hanya saja belum waktunya aku bilang siapa dia, kak"
Yah belum waktunya, kalau sekarang jelas saja Edo bisa membayangkan bagaimana reaksi dua orang ini, Edo yakin dia bisa di cincang habis-habisan jadi gulai kambing tanpa proses pematangan.
Tidak lebih tepat nya dia bisa di cincang, di giling, di blender dan entah bagaimana lagi Edo tidak tahu.
Oh God.
Edo hanya bisa menarik berat nafasnya.
Kenapa hubungan ini jadi serumit ini????