Oh Yes My Hot Uncle

Oh Yes My Hot Uncle
Terlihat tapi tidak saling melihat



Masa sekarang


Rumah sakit xxxxxxxx


Manhattan


Ramira tampak menunggu antrian sejak tadi dengan perasaan berdebar-debar, disisi kiri kanan dan depan nya terlihat beberapa perempuan hamil yang juga ikut menunggu antrian Sejak tadi.


Ada rasa iri bergelayut di dalam hati Ramira ketika dia melihat orang-orang di sekitar nya menunggu pemeriksaan bersama suami mereka masing-masing, ada yang bercanda bersama pasangan mereka, ada yang tertidur didalam pangkuan pasangan nya bahkan ada yang dengan lembut mengelus perut pasangan nya.


Sejenak rasa sedih terlihat dari balik wajah cantik itu untuk beberapa waktu.


"Suami nya kemana?"


Satu pertanyaan lolos dari bibir seorang perempuan disampingnya, sang suami perempuan itu tampak melesat pergi keluar entah kenapa.


Ramira buru-buru menoleh ke arah perempuan itu.


"Dia sedang bekerja"


Jawab Ramira pelan sambil menggenggam erat telapak tangan nya.


"Kehamilan pertama?'


Buru-buru Ramira mengangguk.


Perempuan itu tampak tersenyum melihat wajah Ramira tampak begitu cemas.


"Itu sangat manis,Saat menjalani kehamilan anak pertama, kita pasti memiliki perasaan yang bercampur aduk. Rasa bahagia, cemas dan khawatir bahkan menjadi satu. Ini merupakan hal yang wajar bagi kita yang baru menjalani kehamilan pertama kali"


"Ini merupakan hal yang wajar bagi kita yang baru menjalani kehamilan pertama kali, Karena minimnya pengetahuan dan baru saja pertama kali hamil, membuat kita dilanda kecemasan"


"Karena itu Kehadiran suami dalam setiap pemeriksaan merupakan dukungan besar bagi istri dan membuat istri merasa tidak sendirian dalam menjalani masa kehamilannya. Selain itu, suami juga jadi dapat mengetahui perkembangan kondisi janin. Hal ini penting agar suami dapat ikut membantu menjaga kondisi kesehatan ibu dan janin"


"Aku saat kehamilan pertama dulu sedikit sulit dan manja, untungnya ada suami yang mengerti keinginan ku dan selalu berada di samping ku"


Cerita perempuan itu sambil mengulum senyuman.


"Karena itu diskusikan dengan pasangan, jangan terlalu sibuk bekerja sebab kita benar-benar membutuhkan mereka di kehamilan pertama"


Sejenak Ramira menelan salivanya.


"Sayang"


Tiba-tiba sebuah suara mengejutkan mereka.


"Ah itu giliran kami"


Perempuan itu bicara ke arah Ramira, menoleh sejenak ke sang suami yang menunggu nya di depan pintu ruang pemeriksaan.


Ramira mengangguk kan pelan kepalanya.


Sejenak dia menghela pelan nafasnya, kemudian secara perlahan Ramira menyentuh lembut perut nya.


Semua akan baik-baik saja hmmm.


Ucap nya dalam hati.


*******


Disisi lain rumah sakit.


Eden tampak berjalan keluar ruangan, mencoba memenuhi kemauan Asha untuk mencari beberapa buah-buahan segar.


Berjalan melewati satu ruangan menuju ke area ruangan lainnya, berjalan dengan langkah tegap berencana menuju ke arah parkiran.


Namun tiba-tiba bola mata nya mendapati satu sosok yang begitu dia kenal jauh di ujung sana, keluar dari sebuah ruangan yang dia tidak tahu ruangan apa,awalnya Eden fikir mungkin hanya orang yang mirip, tapi semakin di perhatikan sosok itu benar-benar sosok yang begitu dia rindukan.


Laki-laki itu melangkah cepat mencoba mengejar sosok itu, namun tidak tahu kenapa tiba-tiba rasa pening dan mual menghantam nya tiba-tiba.


Tidak, jangan disaat seperti ini.


Eden berteriak didalam hati, dia mempercepat langkah kakinya, mengejar satu sosok yang baru saja tertawa lebar bicara dengan seseorang, melangkah melesat pergi menjauhi dirinya.


Tidak....!!


Eden secepat kilat berlarian mengejar langkah, sejenak berhenti dimana perempuan itu berdiri tadi.


Sejenak dia tercekat saat menyadari jika itu ruangan specialist ibu hamil.


Eden langsung berlarian menuju ke area parkiran, terus mengejar langkah agar tidak terlambat, sosok itu tengah mendekati sebuah mobil mendominasi berwarna merah, bicara dengan 2 sosok perempuan kecil yang sangat Eden kenal.


Vio dan Lea?. adakah yang dia tidak ketahui?.


Eden terus mempercepat langkah namun rupanya 3 orang itu telah melesat pergi menjauh dari sana.


Lea dan Vio? kenapa bersama Ramira?


Secepat kilat Eden meraih Handphone nya, dia berusaha menghubungi seseorang dengan jutaan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu.


"Halo?"


Terdengar jawaban dari arah seberang sana.


"Kau punya hutang penjelasan dengan ku, Edo"


Ucap Eden dengan suara yang menggebu.