
Masa Edo & Vio.
Ramira tampak sibuk mendengar kan lagu dari balik earphone nya, seorang perempuan tampak sibuk memijat perlahan kepalanya dengan membilas sisa creambath ada di seluruh bagian rambut Ramira.
Tiba-tiba perempuan itu terkejut saat tiba-tiba seorang laki-laki yang begitu dia kenal meletakkan jari telunjuknya ke depan bibirnya, meminta perempuan itu agar diam dan meninggalkan mereka.
Perempuan itu membungkukkan sedikit tubuhnya, membiarkan laki-laki itu melanjutkan tugasnya, dia berjalan secara perlahan meninggalkan kedua orang itu didalam ruangan tersebut.
"Hmmm aku Fikir akan membawa Lea untuk keluar berbelanja nanti, apa ada yang mau kamu titipkan nanti, Aina?"
Tanya Ramira tiba-tiba.
Dia masih menikmati ketika kepalanya terus dipijat oleh perempuan yang dia panggil Aina itu.
Ramira tampak mengerutkan dahinya saat Aina sama sekali tidak menjawab pertanyaan nya.
"Aina apa kau..."
Belum sempat Ramira menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba secara perlahan bibirnya disentuh oleh seseorang, Ramira jelas terkejut, dia buru-buru membuka bola mata nya dan cukup terbelalak kaget saat sadar siapa yang melakukan nya.
"Eden?"
Dia sejenak tercekat.
"Sudah makan?"
Laki-laki itu bicara sambil meletakkan handuk di kepala Ramira, laki-laki itu secara perlahan mulai mengering kan rambut perempuan itu dengan handuk yang mendominasi berwarna putih itu.
"Kapan kamu kemari?"
Ramira bertanya sambil menatap wajah laki-laki itu dari arah balik kaca, memperhatikan dengan seksama wajah yang cukup dia rindukan beberapa waktu ini.
"Hmm belum lama"
Ucap Eden sambil mencari hairdryer milik Ramira di dalam lemari nakas perempuan itu, meraih satu hairdryer lantas mulai menyambungkan kabel nya ke aliran listrik lantas dia meraih cepat tangan Ramira.
"Kemarilah"
Ramira diam sejenak, tampak memperhatikan baik-baik tangan Kokoh itu.
Eden dengan cepat menyambar tangan Ramira, menatap dalam bola mata itu.
"Berhenti menghindari ku, itu sangat menyiksa ku"
Ucap laki-laki itu lagi.
Seketika Ramira menelan Saliva nya.
Perempuan itu pada akhirnya menurut, turun dari kursi creambath menuju ke kursi biasa yang menghadap ke arah sisi selatan.
Secara perlahan Eden mulai mengeringkan rambut Ramira, tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka setelah itu, seolah-olah mereka saling menyimpan kata-kata yang begitu sulit untuk di keluarkan satu persatu.
Hanya terkadang bola mata mereka saling bertemu dari arah kaca depan yang menghadap langsung ke arah mereka untuk beberapa waktu.
Hingga sesi mengeringkan rambut selesai, Ramira masih tampak diam, perempuan itu perlahan berdiri berniat untuk mengambil minuman didalam lemari pendingin, tapi tiba-tiba Eden memeluknya dari arah belakang.
"Berhentilah mengabaikan ku, ini benar-benar menyiksa ku Ramira"
Kali ini eden benar-benar terlihat gusar, dia membalikkan tubuh Ramira dengan cepat.
"Ada apa dengan kamu dalam beberapa bulan ini?"
Eden bertanya sambil kedua tangannya menggenggam lembut wajah Ramira.
"Apa ada yang salah? apa aku melakukan kesalahan? kenapa terus menghindari ku?"
"Aku fikir kita harus menjauh, sebab belakangan hubungan ku dan Murat semakin memburuk"
Ucap Ramira cepat.
"Aku tidak ingin pernikahan kami sampai rusak karena hubungan kita"
Eden tampak mengeratkan rahangnya.
"Kamu tidak mencintai Murat, dan Murat tidak mencintai kamu, kalian terikat hanya karena desakan perjodohan Dimasa lalu, berhentilah untuk menipu ku"
"Aku tidak menipu mu, come sayang apakah kamu merasa hubungan kita selama ini atas dasar cinta?"
Ramira menahan gejolak ndi hatinya, tangan nya cukup gemetaran saat mengatakan hal itu, tapi bukankah dia tidak punya pilihan lain nya lagi?.
"Apa kamu sedang bercanda dengan ku sekarang?"
"No, aku tidak sedang bercanda, kamu dan aku hanya sekedar membutuhkan pelepasan ketika kita saling membutuhkan"
Ucap Ramira dengan nada meninggi.
"Apa?"
Bola mata Eden membulat sempurna.
"Aku bahkan tidur dengan Murat juga dengan Farhan, apa kamu fikir hubungan kita dilandasi atas dasar cinta? tidak Eden, tidak ada, kita hanya terbiasa saling menggantung kan diri antara satu dengan yang lain nya, kita sama-sama terbiasa bersama,hingga berfikir jika kita saling jatuh cinta"
"Kau benar-benar sedang bercanda dengan ku?"
"Aku tidak bercanda, berhenti lah berharap hubungan ini menjadi lebih"
Ramira membalikkan cepat tubuhnya.
"Pulanglah, Murat akan datang kemari sebentar lagi, aku tidak ingin dia salah paham pada mu"
Tambah Ramira lagi.
Eden jelas begitu marah, dia dengan cepat menarik tubuh perempuan itu agar kembali menghadap ke arah nya, Eden bergerak dengan kasar lantas berusaha menautkan bibir mereka.
Ramira sekuat tenaga menolak, dia benar-benar tidak bisa meneruskan semua hal ini, dia semakin takut terjerat dalam perasaan nya sendiri.
Sepersekian detik kemudian tiba-tiba.
Plakkkkkk
Sebuah tamparan keras melesat di pipi laki-laki itu.
Eden tampak membeku.
Ramira refleks, dia terkejut kenapa bisa melakukan itu.
Secepat kilat perempuan itu membalikkan tubuhnya, dia masuk kekamar nya dengan gerakan tergesa-gesa dan menutup pintu nya dengan cara yang begitu kasar.
Brakkkkk
Eden masih tak bergeming, dia menatap pintu yang terkunci rapat itu tanpa kata-kata, lalu beberapa waktu kemudian dia meraup kasar wajahnya, seketika bola matanya berkaca-kaca.
*******
Kau tahu sayang siapa saja yang berani membuat ku menangis didunia ini?
Ibu ku, valentine dan kamu.